Pelajar Sekolah Lentera Harapan Belajar Tenun di Baku Peduli Centre

0
115
Murid-murid Sekolah Lentera Harapan Labuan Bajo melihat secara langsung alat tenun tradisional di Rumah Tenun, Baku Peduli Centre, Jumat 31 Agustus 2018/Foto: Yeyen

LABUAN BAJO, FLORESMUDA.COM – “Saya senang sekali bisa melihat bagaimana caranya membuat kain (sarung, red) selama ini saya hanya melihat kain yang sudah menjadi sarung,’’ pernyataan tersebut disampaikan oleh Andre mewakili teman-teman kelasnya ketika berkunjung ke Rumah Tenun yang berada di Baku Peduli Centre, Watu Langkas.

Andre beserta 29 murid-murid kelas 3 dan 4 adalah pelajar Sekolah Dasar Lentera Harapan (SLH) Labuan Bajo. Mereka mengadakan kunjungan Ke Rumah Tenun Baku Peduli pada  Jumat, 31 Agustus 2018. Kegiatan kunjungan lapangan tersebut merupakan salah satu program wajib di SLH. Kunjungan kali ini menjadi bagian dari mata pelajaran Muatan Lokal.

Mereka langsung bertemu pengampu Rumah Tenun Baku Peduli, Elisabeth Hendrika Dinan yang mendampingi para pelajar selama berkunjung. Selain itu, para murid ini juga berinteraksi langsung dengan penenun Erni dan Herli.

“Tema kami semester ini mendalami sarung songke Manggarai seperti nama-nama motif, bahan, dan nama alat-alat tenun Songke Manggarai. Selama ini di sekolah kami memperkenalkan tenun Songke menggunakan gambar dan video-video tenun,’’ terang Yeyen, salah satu guru pendamping yang turut serta dalam kunjungan tersebut.

Pelajar tersebut rata-rata berumur 9 dan 10 tahun. Sebagian besar dari mereka mengaku baru pertama kali melihat langsung proses tenun. Mereka sangat antusias bertanya tentang  proses tenun, arti dari nama-nama motif Songke, dan hal –hal  yang membedakan tenun Songke dengan tenun wilayah lain di NTT.

Di Rumah Tenun Baku Peduli Centre, pelajar Sekolah Lentera Harapan Labuan Bajo langsung disambut pengampu Rumah Tenun, Elisabeth Handrika Dinan/Foto: Yeyen

Selain itu, mereka juga melihat isi koleksi mini museum tenun NTT seperti koleksi kain dari setiap wilayah di NTT serta koleksi alat-alat tenun tua yang sudah  digunakan  sejak tahun 1950.

“Dengan berkunjung langsung seperti ini, murid-murid bisa melihat langsung dan belajar langsung dari sumbernya,” lanjut Yeyen.

Kunjungan ini berlangsung selama kurang lebih tiga jam. Dimulai pukul 09.00 sampai dengan pukul 11,00 Wita. (Ney/RTBK/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here