Savri dan Menyelam yang Takkan Pernah Putus

0
1195
Savrianus Jehaman (depan) swa foto bersama wisatawan yang dipandunya./Doc: Savri

Mimpi besar dalam diri Savrianus Jemahan yang membawanya ke dunia diving. Pemuda yang sejak usia 19 tahun sudah menjadi dive master ini, menekuni kemampuan menyelamnya ini sebagai pegangan hidup. Ia meyakini, profesi ini bisa diembannya seumur hidup.

Savri, begitu dia akrab disapa, menjadi salah seorang pemuda Labuan Bajo yang sulit ditemui di darat. Dalam sebulan, ia hanya memiliki waktu libur empat hari. Hampir seluruh waktunya dihabiskan di lautan.

Saat menyambangi Flores Muda di Labuan Bajo, penyelam muda ini terlihat santai dengan balutan celana pendek dan kaus oblong berwarna hitam. Ia tampak bugar saat berbagi cerita tentang profesi yang kini digelutinya.

Savri mulai belajar menyelam sejak tahun 2016. Saat itu, ia baru akan menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah atas. Putera ke dua dari pasangan Paulus Naja dan Beneria Nurwijaya ini, saat itu diajak untuk terlibat dalam program perekrutan dive master lokal yang dilakukan salah satu perusahaan operator dive di Labuan Bajo.

“Saat itu program mereka untuk membantu pelajar yang merupakan masyarakat lokal, yang tidak mau ke perguruan tinggi. Mereka mencari yang punya keterampilan dan sikap baik. Kami direkrut langsung di sekolah,” kenang dia.

Kala itu, Savri bahkan belum punya kemampuan berenang. Namun, karena menurutnya program tersebut adalah peluang bagus, ia pun memutuskan nekat untuk mendaftar. Savri kemudian bersama beberapa temannya yang lain mengikuti tes di tahap berikut.

Lulus pada tahap wawancara, ia kemudian mengikuti beberapa tes. Seiring dengan itu, ia juga mulai belajar berenang secara autodidak dengan melihat referensi dari Youtube. Perlahan, usahanya membuahkan hasil.

Setelah mengikuti seluruh tahap tes, Savri dinyatakan lulus. Pada Desember tahun 2016, alumni SMKN 1 Komodo Labuan Bajo ini mendapat sertifikat dive master tingkat open water. Sejak itu, kehidupan Savri yang baru menginjak usia 19 tahun pun berubah drastis.

Savri kemudian mendapat penghasilan tetap dari menjadi penyelam. Ia dikontrak salah satu perusahaan dive operator di Labuan Bajo untuk memandu wisatawan yang ingin menyelam di kawasan Taman Nasional Komodo. Selain pengetahuan dan wawasan yang bertambah, penghasilannya pun menginjak angka di atas Rp10 juta per bulannya.

“Saya senang dan bangga sekali dengan penghasilan itu. Waktu itu saya masih 19 tahun dan punya penghasilan yang lebih. Bukan lebih lagi, malah sangat luar biasa. Satu tahun awal saya kerja sebagai dive master, penghasilan saya pakai untuk senang-senang dulu,” ujarnya antusias dengan bersambung tawa.

Ia mengakui sangat menikmati pekerjaan sebagai pemandu selam. Selain karena pekerjaan tersebut menyenangkan dan memberinya penghasilan lumayan, menurutnya bekerja di bidang penyelaman juga takkan ada habisnya.

Savri/Foto:AIB

Savri menuturkan, peluang usaha penyelaman khususnya untuk tujuan wisata, sangat besar di wilayah Labuan Bajo. Sebagian besar wisatawan, baik itu domestik, maupun mancanegara, datang ke Labuan Bajo karena ingin menikmati panorama dan keindahan bawah laut Taman Nasional Komodo. Ia bahkan berpikir akan membuat usaha sendiri suatu waktu.

“Dunia diving itu sampai mati. Apalagi sertifikat yang saya pegang ini berlaku di seluruh dunia. Kalaupun suatu saat, misalnya, Taman Nasional Komodo tidak ramai lagi, saya masih bisa bekerja di tempat lain. Saya sudah punya keterampilan dan kemampuan,” ucapnya sungguh-sungguh.

Selain pernah memandu wisatawan di kawasan Taman Nasional Komodo, ia juga pernah ke Raja Ampat, di Papua. Savri berharap ke depannya ia bisa keliling dunia. Atas kerja keras dan keteguhannya, Savri bahkan sudah mengantongi sertifikat dive instructor sejak Februari 2018.

Kenekatan Savri

Saat masih kecil, Savri sudah berangan untuk bisa keliling dunia. Dari kampung halamannya di Dusun Pateng Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat, ia bercita-cita untuk menjadi kapten kapal yang rutenya tidak hanya di Indonesia. Hal ini yang membawa Savri ke Labuan Bajo setelah tamat dari SMPN 1 Kuwus.

“Saya waktu itu berpikir kalau mau jadi kapten kapal keliling dunia, persyaratannya kan harus bisa Bahasa Inggris. Lalu saya cari sekolah yang bisa membantu itu dan saya pun mendapat informasi tentang SMIP (SMKN 1 Komodo, red) di Labuan Bajo,” beber pemuda yang pernah bersekolah di SDI Pateng Ndoso, ini.

Sebelum tamat dari sekolah menengah atas, Savri menjalankan salah satu program belajar yakni training, di Bali. Suatu waktu saat di Bali, ia sampai pada masa memiliki niat dan tekad untuk mandiri. Sebagai anak yang lahir dari keluarga berkecukupan, Savri berpikir untuk tidak lagi menyusahkan dan bergantung kepada orang tuanya.

Savri berpose di Pelabuhan Pelni Labuan Bajo/Foto:AIB

“Waktu di Bali saya boros dan minta uang ke orang tua. Orang tua sempat tegur karena uang saya habis dalam dua Minggu. Pada saat itu, saya berjanji hanya akan menyusahkan mereka pada saat itu saja. Tahun depannya saya akan mandiri.”

Dari situ setelah mendapat kesempatan dalam seleksi dive master lokal, Savri langsung gigih untuk ikut meskipun ia sama sekali tidak bisa berenang. Ia berlatih dengan tekun dan menjalankan semua proses seleksi dengan giat. Dalam perjalanan tersebutpun, ia menghadapi berbagai tantangan dan berhasil mengatasinya sampai kini.

“Saya merasa pekerjaan ini keren sekali dan unik. Meskipun tidak bisa berenang, tetapi saya tetap berjuang. Sempat saya pikir, kalau nanti saya gagal di sini, berarti memang bukan di sini jalan hidup saya,” aku Savri.

Atas keberhasilannya saat ini, ia bisa membantu keluarganya. Savri mampu membantu orang tuanya membangun rumah, membeli kendaraan sendiri, dan ikut terlibat membiayai pendidikan adik-adiknya.

“Untuk bisa berhasil, kau harus berani dulu tarik mundur seperti ketapel. Maksudnya kita harus berani dulu lewati masa sulit dan harus bekerja keras,” tutupnya dengan senyum merekah. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here