Antologi Puisi Loke Laka Agustus 2018

0
169
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Nyaman Tak Menjamin Perasaan

Kasih,
Sepoi angin mengingatkan aku pada sebuah cakap; “Kesetiaan bukan tentang seberapa banyak yang kau singgah, pun yang kau tolak. Namun kesetiaan yang sesungguhnya adalah tentang seberapa besarnya usahamu kembali dari singgahan yang telah kau jelajah.”

Kasih,
Kemarin kau menghasut, merampas diriku hingga aku sadar bahwa kesetiaan telah kau cipta. Sebab dari padanya pula, sepoi angin membuatku bertanya
“Dimanakah cakap itu sekarang?”

Kasih,
Benar kata sepoi angin
“Terkadang nyaman tak menjamin sebuah perasaan”

Cinta Maling

Layaknya pendatang baru, kumelaju, namun kutakut pula keliru. Gadis, di persimpangan sana, jejakmu hanya itu yang kutahu. Kemana akan kutempuh? Penelusuran ini berakhir pada jalur buntu.

Gadis, kata manismu kemarin itu sangatlah menyentuh. Aku tersentuh, hati ini pun tersipu. Tak kukejar, mengapa langkahmu semakin jauh? Sungguh kasih, kau buat aku semakin keliru.

Ah, tak mengapa kasih! Keliru ini sudah kumengerti.
Ibarat maling tengah beraksi, semakin dikejar semakin pula kau beranjak untuk sembunyi.

Kusimpan Mata Kagum

Ya, di suatu pagi,
Kutemukan rupa pada tetesan air yang akan pergi. Entahlah, wajah ayu kaum hawa tampak jelas dalam embun yang kian lama menguap. Hati berbisik meributkan sepi yang menyapa. Bila perpisahan membuatmu puas, kubalutkan pertemuan dalam rindu kenangan.

Ya, di suatu pagi,
Terngiang sendu suara indahmu. Kuterlena, menengokkan wajah, mencarimu.
“Suara siapa yang menipuku?”
Ah, rupanya kelam pamitmu telah berlalu!

Ya, di suatu pagi,
Sebuah rasa terkabul menjadi kisah berlalu. Kamu masih muda, lalu mengapa mencemaskan yang belum terjadi?
Kasih, eratkan pelukmu pada badabku. Aku tak menuntut apa-apa padamu, sebab masih kusimpan sepasang mata kagum.

Tubuh Rongsokan

Menerawang setiap langkah sia-sia. Pada jalan setapak, ribuan jejak atau tak terhitung lagi.

“Itu lihat! Dia sudah di ujung sana,” teriak mereka menunjukan sosok tubuh rongsokan.

“Kemana aku harus mengejar?”
Jarak dan waktu tak mampu kujelajahi lagi.

Kembali senja menampakan diri, sebabnya akan kujumpai malam saat pelepasannya.

Adakah sajak yang menemani mimpi malam tentang dirimu, tubuh rongsokan? Adakah di ujung sana yang dapat merawat tubuh rongsokanmu?

Kasih,
Tadi pagi kau sumpahkan aku dengan serapahmu, maka biarlah ijinkan sore kudapat senyummu.

Tanya Adalah Jawaban

Kasih,
Tadi pagi masih kutemukan tanya. Rupanya hafal huruf yang menyapa mimpiku tadi malam masih membenak. Entahlah kasih, secarik kertas berkawin hitam pena itu masih kuingat.

“Wanita akan senang bila sang laki mampu menolak sebanyak mungkin wanita lain hanya untuk mempertahankan dirinya. Pun sebaliknya, sang laki akan senang apabila wanita rela ditiduri olehnya, bukan hanya semalam saja melainkan selamanya.”
Ya, begitulah hitam pena itu berkata.

Sebentar kubangun dari lelap, namun biji mata tak mampu melawan hingga membuatku tertidur lagi. Hitam pena rupanya belum puas. Lagi dan lagi ia berkata; “Dikarenakan misalnya ada banyak tantangan hingga apa bila belum kau temukan sang laki dan sang wanita yang kumaksudkan tadi, satu resep yang kucurahkan bahwa jangan batasi tantanganmu, akan tetapi hadapilah tantangan itu tanpa batas.”

Kasih,
Tadi masih kutemukan jawaban kosong. Adakah dirimu seperti dalam kata hitam pena? Adakah pula dirimu yang rela kutiduri bukan hanya semalam melainkan selamanya? Kuharap sebuah jumpa akan tiba saatnya menjadi suatu jawaban.

Masih dan terlalu banyak lagi pertanyaanku, kasih. Akan tetapi bila kau tak mampu menjawab, tak mengapa. Maka jangan salahkan aku bila kau kuibaratkan, “Tersenyum manislah seperti gunung mengirim laharnya!”

“Lalu, kasih, biarlah hitam pena yang mengejar, menghampiri jejak bayang subuhmu dalam mimpi.”

 

Loke Laka

*Loke Laka adalah nama pena dari Yustinus Apri Bambut. Alumnus SMAN 2 Komodo ini sangat berminat pada teater dan puisi. Ia sering mempublikasikan puisinya lewat media sosial. Saat ini,pria kelahiran Cancar, 29 November ini aktif di beberapa kegiatan sosial di Labuan Bajo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here