750 Penari dari SMAK Setia Bakti Meriahkan HUT NKRI di Ruteng

0
994
Pelajar SMAK Setia Bakti Ruteng membawakan tarian massal pada perayaan Hut ke-73 NKRI, Jumat, 17 Agustus 2018/Foto: Ilda Wahyu

RUTENG, FLORESMUDA.COM –  Dalam rangka  memeriahkan HUT kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73 tahun, SMAK Setia Bakti Ruteng ikut berpartisipasi dengan membawakan tarian masal yang beranggotakan 750 penari. Penari ini terdiri atas 500 penari inti dan 250 anggota penari kalergat. Mereka tampil pada Jumat, 17 Agustus 2018, di Lapangan Motang Rua, Ruteng.

Alat musik sebagai pengiring adalah kolaborasi dari alat musik tradisional yakni gong, gendang, ceketonda, dan ceketinding. Selain itu, terdapat juga alat musik perkusi seperti ember matex bekas. Alat musik nusantara: kolintang, dan alat musik modern: keyboard, gitar bass dan drum.

Paduan suara yang beranggotakan 200 orang ini dipandu konduktor, Petrus Daeng. Ia bahkan menjadi menjadi pusat perhatian sebagian penonton, karena semangatnya saat memandu anggota paduan suara.

Lagu-lagu yang dibawakan adalah kolaborasi antara lagu dari beber

apa daerah di pulau Flores seperti lagu Manggarai Tanah Ge (Manggarai), Mogi (Bajawa), lagu Lu’i E (Larantuka), Ie (Ende), Hari Merdeka, dan Bendera Merah Putih.

Harmoni, nama yang diberikan untuk atraksi ini sangat tergambar dalam bentuk formasi para penari. Adapun bentuk formasi penari, yang pertama yaitu formasi Lodok saat dinyanyikan lagu Manggarai Tanah Ge yang melambangkan Manggarai yang terbagi dalam beberapa bagian namun mengarah pada kesatuan dan persatua

n dari daerah Manggarai sendiri. Formasi yang kedua yaitu formasi bulatan dan berbanjar, yang melambangkan pulau-pulau di daratan Flores saat dinyanyikan lagu Mogi, lui E dan Ie.

“Dinamakan Harmoni karena dalam atraksi ini kami menggabungkan lagu dari daerah-daerah di Flores menjadi sebuah kesatuan, bahwa kita tetaplah suatu negara yang satu tanpa perbedaan,” ungkap Celestinus Nabus selaku guru seni budaya yang melatih para anggota paduan suara.

“Kami juga menyatukan alat musik tradisional dan modern menjadi sebuah kesatuan. Ini menjadi contoh bagi kita bahwa perbedaan tidak menjadi sebuah penghalang namun mendatangkan suatu keberhasilan,” lanjutnya.

“Mengapa kami membentuk formasi Lodok? Lodok merupakan gambaran bahwa Manggarai merupakan suatu daerah yang terbagi atas tiga kabupaten, namun tidak menjadi persoalan karena manggarai tetaplah satu yaitu bumi congkasae,” jelas Irna Aburman selaku guru sanggar di SMAK Setia Bakti Ruteng dan juga selaku pemerhati budaya.

Ketika menyanyikan lagu Mogi, lui dan lagu Ie, Bupati Manggarai, Deno Kamelus ikut serta turun ke lapangan dan bernyanyi bersama anggota paduan suara. Atraksi ini menjadi atraksi yang paling spektakuler dalam merayakan hari kemerdekaan Indonesia, di Kota Ruteng, tahun ini.

Atraksi ini hampir melibatkan seluruh siswa-siswi SMAK Setia Bakti yang berjumlah 947  siswa dengan koreografi Irna Aburman dan Celestinus Nabus. Mereka melatih ratusan siswa untuk perayaan ini. Meski begitu, mereka tidak merasa kewalahan. Justru bagi mereka ikut memeriahkan HUT NKRI merupakan suatu kewajiban, dimana mereka bisa memaknai kemerdekaan Indonesia lebih mendalam lagi.

Pada Tour the flores 2016 lalu, siswa-siswi SMAK Setia Bakti Ruteng juga ikut mengambil bagian dalam tarian masal yang memecah rekor dunia peserta tarian masal terbanyak.

“Sebagai guru kami hanya ingin mengajak para generasi muda agar lebih mencintai dan memahami apa yang ada di daerah sendiri. Seperti mencintai budaya yang ada di Manggarai berapa tarian daerah, lagu daerah, dan mengenal lebih baik alat musik daerah. Sebagai orang tua juga  kami mau membina generasi muda yang berkarakter budaya,” kata Irna Aburman. (*Ilda Wahyu/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here