Antologi Puisi Berto Hardu Agustus 2018

0
296
Ilustrasi/Sumber:pixabay.com

NYANYIAN UNTUK PENGUASA

Nestapa

Puluhan tahun negeriku merdeka
Rakyat terlantar di belahan nusa
Beragam suku, ras, agama dan budaya hiasi bumi nusantara
Negeri yang kaya akan sumber daya

Saat sang saka merah putih mengudara
Dentuman meriam pun tak bersuara
Darah bercucuran tulang berserakan sekejap terlampau dari pandangan mata
Penindasan, kelaparan berubah menjadi teriakan merdeka

Kini korupsi, kolusi dan nepotisme datang menjelma
Rakyat kecil menjadi nestapa Bisikan rakyat tidak di sapa Pemerintah lomba merebut Tahta

Merdeka milik orang yang mampu memperdaya bukan yang punya daya
Sejahtera cuman sekelompok saja
Rakyat sengsara, merdeka hannyalah kata

Tuan Dimanakah, Tuhan?

Negeri ini, negeri para tuan-tuan
Orang-orang punya ajaran dan pengetahuan
Balita sampai lansia pada sebut tuhan
Keinginannya pada kekuasaan

Ribuan bahkan jutaan nyawa pandai turun ke jalan
Tak henti mereka juga sering lontarkan gurauan
Terdengar di setiap media masa tentang cacian dan hinaan
Mereka membawa peti mati dan kain kafan seperti baru keluar dari kuburan

Mereka berbicara tentang hukum dan hukuman
Mereka pura-pura berkawan namun tak pernah berteman
Mereka dijajah dengan ikrar naik golongan
Hingga lupa akan hari kemerdekaan

Mereka anak-anak negeri
Mereka sudah lupa diri
Mereka sudah disokong para tirani berdasi
Nalurinya dibekali doktrin berlabel pemberani

Kata orang mereka pahlawan
Kata orang mereka jagoan
Kata orang Mereka pancingan
Kata orang mereka pemburu uang jajan

Bagi mereka, mereka adalah nadi di dalam janin
Ketika musim terbawa angin
Mereka pun sibuk mencari kebenaran
Katanya, tuan-tuan dimanakah Tuhan ?

Derita Sang Balita

Ini cerita dalam rumah kita
Duka yang selalu ada bukan suka cita
Tapi bingung harus bertanya kepada siapa
Tentang derita yang selalu menyapa

Putra-putri bangsa menjadi mangsa
Diterkam oleh orang yang punya kuasa
Anak-anak seharusnya bahagia sesama usia
Bukan binasa dalam kepalan orang dewasa

Kepada siapakah kami harus berbagi cerita
Jika dengan orang yang kami cinta harus dibayar dengan nyawa
Seharusnya kami berkarya bersama anak bangsa
Bukan akhir hayat sebelum menggapai cita-cita

Untuk apa kami melihat dunia
Jika usia masih balita
Terpaksa kembali ke pangkuan yang maha kuasa

Sejarah yang Hilang

Sejenak aku melirikmu dari balik bukit
Menatapmu dengan mata sipit
Dari gua yang sangat sempit
Kebajikan dan keegoisanmu membuatku menjerit

Aku tak mengerti apa yang membuat hatimu mati
Bibirmu hanya pandai bermain janji
Kelincahan dan kemunafikanmu membuat kami mati suri
Seolah engkau yang paling berarti dari sebagian rakyatmu yang termakan mimpi

Manipulasimu sekarang membuatku muntah
Memori janjimu bukan lagi sejarah
Engkau dalang di balik cahaya yang hilang
Cermin membuatmu bersolek bagai raja dan ratu

Ketampananmu hanya membawa mala petaka
Retorikamu seindah permata
Dirimu tak lebih dari seorang mafia

Jabatan dan kekuasaan membuatmu tenar seluruh jagat raya
Namun tak pernah bijaksana
Ataukah engkau hanya pandai bermain kata di singgasana ?
Hanya mampu lari merebut Tahta?

Berkelana

Satu persatu bintang menghilang diapiti kabut
Cahaya lentera pun bersembunyi di balik sumbunya
Aku berkelana hanya ingin menyapa kisah
Menyapa setiap bait kata yang tersisa

Membuka setiap isi sajak yang tak lagi bermakna
Ketika insan tak lagi melukiskan cerita
Mulut terbungkam menahan cerita tentang canda bersama
Kaki tak mampu lagi beranjak menyapa kisah nyata

Pori-pori hanya mampu menahan perihnya luka
Aku berkaca pada dunia
Memohon petunjuk pada indahnya mentari
Bercengkerama pada senyuman rembulan
Berkumandang pada rentetan bintang yang jatuh
Bertanya pada ombak yang tak henti berdesis

Istana hati siapakah ratumu?
Adakah dalang di balik cerita yang ada
Naluriku tak mampu membendung tentang risaunya masa lampau

Bertho Hardu

*Penulis adalah seseorang yang menyebut dirinya sebagai pemuda desa yang memiliki kecintaan di dunia sastra. Pemuda yang akrab dipanggil Berto ini, pernah menempuh pendidikan di FKIP Unpacti Makassar. Saat ini ia menetap di Kampung Lewur, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here