Literasi Sekolah: Membudidayakan Minat Baca Serta Penguatan Karakter Bangsa

0
136
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Dalam menyongsong HUT ke-35 (31 Juli 2018), civitas akademika SMAK St. Ignatius Loyola menyelenggarakan beragam perlombaan. Seluruh rangkaian kegiatan ini dikemas sedemikian rupa dengan berpayungkan tema “Menumbuhkan Budaya Literasi serta Kecintaan Terhadap Bahasa Indonesia”. Perlombaan seperti debat ilmiah, puisi dan mata lomba lainnya sesungguhnya merupakan wadah bagi komunitas akademis ini untuk menumbuhkan budaya literasi. Mengapa (harus) literasi? Dalam berbagai kesempatan Kepala SMAK Loyola, P. Yeremias Bero, SS, M.Pd, SVD menyuarakan keprihatinannnya terhadap lemahnya budaya literasi dalam lingkungan sekolah. Berkali-kali beliau menegaskan pentingnya literasi dalam pendidikan. “Apa bedanya anda dengan buruh bangunan jika tidak ada budaya membaca?”

Keprihatinan Kepala SMAK Loyola tentunya beralasan. Selain kondisi memiriskan dalam lingkungan sekolah, kondisi literasi secara nasional juga tidak kalah mengenaskan. Tengok saja hasil survei The World Most Literate Nation Study. Dari 61 negara yang diteliti peringkat literasinya, Indonesia menempati urutan ke-60. (www.jurnalasia.com) Survei ini secara gamblang menunjukan bahwa membaca belum menjadi habitus positif dalam dunia pendidikan khususnya dan bangsa pada umumnya.          

Literasi: Menggali Mata Air Pengetahuan

Voltaire (1694-1778), seorang penulis dan filsuf kenamaan asal Perancis, menulis: semakin aku banyak membaca, semakin banyak aku berpikir; semakin aku banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tidak mengetahui apa-apa. Voltaire hendak menegaskan bahwa membaca merupakan jalan utama (via prima) menuju sumber-sumber pengetahuan. Semakin orang membaca, semakin ia kritis serta ingin tahu. Membaca pada titik tertentu menjelma candu yang positif. Orang semakin gemar membaca karena ia tahu bahwa pengetahuan yang ia miliki hanya noktah kecil dalam samudera mahaluas pengetahuan.     

Pengetahuan pada dasarnya sangat abstrak dan kompleks. Pertanyaan-pertanyaan seputar hakekat, sumber dan validitas pengetahuan coba diselidiki dalam epistemologi. Dalam bentangan diskursus filosofis, aliran empirisme dan rasionalisme memperdebatkan soal sumber dan cara memperoleh pengetahuan. Empirisme mengetengakan pengalaman inderawi sebagai sumber pengetahuan yang valid. Sementara itu, rasionalisme percaya bahwa akal atau rasio adalah dasar kepastian pengetahuan. Berhadapan dengan ketegangan dialektis tersebut, Emannuel Kant (1711-1176) menyelidiki secara kritis pemikiran kedua aliran dan coba mencari jalan tengah melalui filsafat subjek. Kritisisme Kant berpandangan bahwa dalam diri subjek terdapat dua kemampuan yakni menerima data atau mengindrai (sensibilitas) dan kemampuan untuk memformulasikan konsep sebagai pemahaman. Kegiatan akal budi (Verstand) muncul dalam putusan. Dan putusan ini merupakan sintesis antara data indrawi (aposteriori) dan unsur-unsur a priori akal budi (Russell: 2007).

Membaca sesungguhnya merupakan proses sintesis itu sendiri. Kita tidak hanya mengandalkan apa yang sudah ada dalam otak tetapi mesti menyuplai pengetahuan baru dari buku-buku (data-data indrwai) sehingga ada pengetahuan baru. Dengan kata lain, membaca adalah upaya menggali mata air pengetahuan.

Literasi dan Pembentukan Karakter Bangsa

Secara sederhana dan mendasar, literasi berkaitan erat dengan kebahasaan, yaitu kemampuan membaca dan menulis. Budaya membaca dan menulis seyogyanya akan membentuk pola berbahasa, yang menjadi basis pola berpikir sistematis dan rasional. Dari sinilah, karakter seseorang dibentuk sebab bahasa itu sendiri merupakan sarana penting dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Pola bahasa dan pola pikir pada saat bersamaan membentuk pola sikap dan tindakan. Karakter seseorang terbentuk dari proses dialektis tersebut. Dengan kata lain, bahasa bukan hanya sekadar ‘omong-omong’ belaka tetapi lebih dari itu ia memainkan peranan penting dalam kehidupan sosial.

Bersamaan dengan faktum rendahnya minat baca, bangsa kita ini sedang dirongrong oleh pusparagam masalah yang mencederai karakter bangsa. Meruaknya hoaks, ujaran kebencian dan SARA serta radikalisme agama adalah bukti bahwa upaya pembentukan karakter bangsa melalui aspek kebahasaan sedang berada di zona merah. Masih basah dalam ingatan kita peristiwa 212 yang terjadi beberapa waktu silam. Lihatlah  bagaimana mudah terpancingnya masyarakat dengan berita bohong (fake news) yang bertebaran di media sosial. Informasi sesat ditelan bulat-bulat lantas terprovokasi untuk melakukan aksi-aksi emosional. Tak pelak, aksi-aksi tersebut merobek tenun kebinekaan bangsa kita. Semangat pancasilais yang seharusnya menjiwai setiap anak-anak bangsa tercerabut begitu saja hanya karena informasi-informasi sesat. Menyedihkan!

Selain hoaks, masalah yang juga masih menjadi litani pilu bangsa ini khususnya dalam dunia pendidikan adalah pragmatisme. Kasus-kasus seperti menyontek, plagiat, kopas (copy paste) bahkan jual beli ijazah mempertontonkan kebobrokan karakter baik itu dalam diri peserta didik maupun pendidik itu sendiri. Mentalitas instan yang disokong dengan tersedianya akses internet sebagai jalan alternatif membuka peluang bagi praktik-praktik pragmatis tersebut. Orang tidak mau lagi bersusah-susah. Tinggal klik, semuanya ada. Maka tidak heran jika plagiarisme misalnya sudah semacam habitus yang dianggap lumrah di era milenial ini.

Berdasarkan fakta tersebut, tentunya kita bisa menarik benang merah di antara sejumlah permasalahan di atas serta akibat yang ia timbulkan dengan rendahnya literasi yang sedang melanda masyarakat kita. Seseorang yang memiliki habitus membaca memiliki pola bahasa dan pola pikir teratur sehingga ia mampu membuat disermen serta berpikir secara jernih perihal informasi yang ia peroleh. Selain itu, ia memiliki pengetahuan luas sehingga tidak tergiur untuk hanya copy paste dari internet atau pekerjaan orang lain. Oleh sebab itu, langkah awal memerangi epidemi hoaks serta pragmatisme adalah dengan membudidayakan minat baca dalam masyarakat dan terutama para peserta didik.

Literasi Sekolah

Sekolah, hemat saya, merupakan ‘bedeng’ ideal, selain lingkungan keluarga dan masyarakat tentunya, bagi upaya pembudidayaan minat baca dan menulis dalam diri generasi muda kita. Itu berarti, gerakan literasi mesti terintegrasi ke dalam seluruh proses pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal seharusnya menjadi pionir utama dalam memotivasi, mendorong serta menggalakan spirit literasi. Namun fakta yang terjadi, terkadang gerakan literasi hanya mentok sebatas pemenuhan syarat-syarat dalam proses akreditasi lembaga, misalnya. Sedangkan gerakan yang revoluioner dan berkesinambungan masih terkesan suam-suam kuku saja bahkan diabaikan.

Sudah saatnya setiap lembaga pendidikan menggelorkan api semangat membaca dalam diri para peserta didik dan pendidik itu sendiri baik itu berupa motivasi maupun kebijakan-kebijakan riil seperti penambahaan dan memvariasikan buku-buku di perpustakaan sekolah, alokasi waktu khusus untuk kunjungan dan penelitian kepustakaan, kantin buku dan bisa juga menyelenggarakan kompetisi yang menuntut setiap peserta didik untuk membaca. Spirit yang perlahan-lahan digelorakan oleh lembaga pendidikan SMAK Loyola adalah awal yang baik bagi lembaga pendidikan ini dan terutama bagi proses pembentukan jati diri para peserta didik agar mereka bukan hanya menjadi insan intelektual yang kaku tetapi juga berwawasan luas serta berkarakter. Akhirulkalam, Ad multos annos, SMAK Loyola. Salam literasi!(*)

*Penulis adalah seorang guru bernama Harris Meo Ligo. Alumnus STFK Ledalero yang saat ini mengajar di SMAK St. Ignatius Loyola, Labuan Bajo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here