Mengedukasi Anak Negeri Manggarai Timur (1)

2
244
Latihan menari tari tradisional Bali

BORONG, FLORESMUDA.COM – Kegiatan Mengedukasi Anak Negeri (MeAN) Manggarai Timur berlokasi di SMAN 9 Borong, Kelurahan Sita, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, NTT mulai 27 Juli 2018. Kegiatan MeAN kali ini diselenggarakan oleh Masyarakat SM-3T Istiute (MSI) Pusat Koordinasi Makassar bersama Guru Garis Depan (GGD) Kabupaten Manggarai Timur dan alumni SM-3T yang tersebar di daratan Nusa Tenggara Timur.

TIM MeAN tiba di Labuan Bajo pada Kamis, 25 Juli 2018 lewat jalur laut dari pelabuhan kota Makassar, Sulawesi Selatan. Kemudian melanjutkan perjalanan darat dari Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat menuju Kabupaten Manggarai Timur dengan menempuh perjalanan selama 6 jam. Mereka disambut oleh GGD yang bertugas di Kabupaten Manggarai Timur.

Kegiatan pembukaan dilaksanakan pada Jumat, 27 Juli 2018 pukul 09.00 WITA. Ketua Tim MeAN, Akbar meyampaian ucapan terima kasih kepada pihak sekolah SMAN 9 Borong serta pemerintah setempat yang telah dengan sangat baik menyambut dan menerima tim di daerah mereka.

“Dalam MeAN kali ini, ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu donasi buku, PAIKEM, penguatan literasi sekolah, serta program olah kreatif. Beberapa program baru juga akan dilaksanakan yaitu pendidikan penguatan karakter, di antaranya Seminar Wawasan Kebangsaan, Sosialisasi Anti Narkoba dan HIV AIDS, Gerakan Stop Bullying, Indonesia Damai Anti Kekerasan,” tambah Akbar.

Koordinator GGD 2016, Musa Dimyati dalam sambutannya mengungkapkan rasa bangga sebab bisa terlibat aktif dalam kegiatan MeAN kali ini. Harapan beliau semoga para peserta didik yang menjadi sasaran MeAN bersungguh-sungguh dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Ucapan terima kasih juga disampaikan oleh Dominkus Syam selaku perwakilan dari pemerintah setempat atas kedatangan tim MeAN yang sudah meluangkan waktunya untuk datang untuk memberikan edukasi bagi peserta didik di daerahnya.

Pembukaan kegiatan MeAN Manggarai Timur resmi dibuka oleh Wakil kepala SMAN 9 Borong. Doa bersama untuk kelancaran kegiatan MeAN beberapa hari ke depan dipimpin oleh Eduardus Sudarman, S.Pd.,Gr.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Kegiatan ini dibawakan langsung oleh Musa Damyati, koordinator GGD 2016. Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah SMAN 9 Borong merupakan hal baru bagi sebagian besar peserta didik. Metode kegiatan yang diterapkan adalah Team Work, tujuannya untuk meningkatan kemampuan kerjasama kelompok, rasa percaya diri, kekompakan, konsentrasi, dan rasa saling memahami antar peserta yang tergabung dalam kelompok.

Salah  satu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik adalah kemampuan menulis. Dalam kegiatan MeAN ini dilaksanakan salah satu program penggiatan literasi yaitu kelas menulis. Mega Wulan Ning Suci, selaku penanggungjawab kegiatan menjelaskan pentingnya meningkatkan kemampuan menulis sebagai sarana untuk membudayakan literasi bagi peserta didik. Kegiatan ini berlangsung dalam bentuk workshop, agar setelah peserta didik memahami materi yang disampaikan mereka bisa menghasilkan karya dari pelatihan menulis tersebut.

Peserta didik menanyakan perihal bagaimana kiat-kiat untuk meningkatkan kemampuan menulis sementara mereka kekurangan informasi di d

esa. Dalam tanggapannya, Mega mengatakan kiat meningkatkan kemampuan menulis adalah dengan menulis, menulis, dan menulis. Kemudian siswa dituntun membuat sebuah puisi untuk melihat sejauh mana kemampuan peserta didik dalam mengembangkan kemampuan menulisnya. Di akhir kegiatan Mega memberikan semangat kepada peserta didik untuk senantiasa meningkatkan kemampuan menulis meskipun tinggal di daerah pinggiran.

Kegiatan program olah kreatif yang dilaksanakan di MeAN Manggarai Timur  adalah kesenian tradisional melalui pelatihan tari kecak yang merupakan tari khas daerah Bali. Gede Ambara Putra, yang merupakan peserta GGD 2016 mencoba mengenalkan salah satu budaya di luar daerah Manggarai Timur kepada peserta didik. Dalam pelatihan tari ini, sebanyak 10 peserta didik dilibatkan untuk melaksanakan latihan selama 3 hari untuk persiapan pementasan di hari terakhir MeAN.

“Kami berharap peserta didik lebih bisa mengahargai budaya dari daerah lain, serta meningkatkan kemampuannya khususnya di bidang tari,” ungkap lelaki yang dipanggil Gede itu.

Dalam proses pelatihan, penanggungjawab memiliki banyak kendala antara lain sikap anak-anak yang malu, gerakan mereka yang sangat kaku, dan tari ini memang adalah hal yang lain bagi mereka. Namun dengan semangat anak-anak, Gede Ambara sangat yakin mereka bisa menguasai tarian sebelum ditampilkan di hari terakhir MeAN.

Kegiatan pelatihan tari lainnya yaitu Tari Tulolonna Sulawesi. Ully Reski Amalia Rahman, selaku penanggung jawab menjelaskan bahwa tarian ini adalah tarian yang bercerita tentang gerak dan aktivitas anak perempuan dari suku Makassar yang terlihat anggun. Penari dipilih sebanyak lima orang yang semuanya perempuan. Mereka dengan penuh keseriusan dan semangat mengikuti latihan sesuai arahan dan intruksi dari pelatih.

Tidak hanya tarian dari daerah lain yang dilatih, ada juga tarian dari daerah asal Manggarai “Pu’u Songke”. Ully Reski Amalia Rahman dan Paulianus Jehadu bersama-sama melatih peserta didik. Tari khas ini memiliki tujuan untuk menunjukkan hasil tenunan masyarakat Manggarai. Pelatihan menari ini diikuti oleh lima peserta didik.

Program olah kreatif lainnya ialah melatih peserta didik untuk membuat hasta karya yaitu pembuatan lampu hias kelap-kelip dari barang yang ada di lingkungan sekitar.

“Salah satu tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan kreativitas peserta didik dalam memanfaatkan barang yang ada di sekitar mereka untuk didaur ulang menjadi benda yang baru dan bernilai,” ungkap Eduardus Darman selaku penanggung jawab.

Sebanyak  20 peserta didik dibagi menjadi 6 kelompok, dimana masing-masing kelompok bekerjasama dalam membuat hasta karya mereka masing-masing. Barang yang digunakan dalam pembuatan lampu kelap-kelip ini adalah botol bekas, tempat tisu, dan minyak tanah. Dalam prosesnya, peserta terlihat sangat senang dan antusias dalam menyelesaikan tugasnya. Beberapa siswa mengaku bahwa apa yang mereka buat adalah sesuatu yang baru bagi mereka.

Salah satu program penguatan literasi sekolah yang diterapkan adalah sosialisasi membaca 15 menit yang juga merupakan program wajib dalam gerakan literasi sekolah Mengedukasi Anak Negeri.

Penanggung jawab kegiatan Mega Wulan Ning Suci, menjelaskan bahwa program ini sangat penting bagi peserta didik untuk meningkatkan semangat literasi khususnya pada keterampilan membaca. Harapan dari kegiatan ini adalah peserta didik bisa membiasakan diri meluangkan waktunya selama 15 menit untuk membaca. (BERSAMBUNG)

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here