Signal 4G di Taman Nasional Komodo? Jangan Senang Dulu!

0
138
Ilustasi/Sumber: https://www.facebook.com/ValentinoRossiVR46Official/

*) kbs

Kita semua, apalagi yang suka selfie, suka update status, bikin story instagram, dan lain-lain, pasti lompat sampai ke langit kalau ke kawasan Taman Nasional Komodo.

Bagaimana tidak, signal HP kencangnya bukan main. 4G. Sekali lagi 4G. Sekali lagi 4G, sekali lagi 4G. 4G, bro dan bra!

Halo yank, aku dah di pulau Komodo nih. Lagi di depan komodo nih. Lihat tuh liurnya meleleh! Yank, lihat kan? Gak tahu kenapa nih komodo, entah ngiler lihat aku lagi santik atau apa. Tuh, lihat kan, yank?

Bisa video call bro dan bra. Bisa! Mau video call dengan siapa saja. Mau dengan nenek, moyang, cucu, kenalan dan handai tolan, silahkan, yang penting hati-hati!

Nah, hati-hati ini yang sebenarnya menjadi isi dari catatan ini! Sori, kalau hanya omong hati-hati tapi panjangnya seperti usus.

Hati-hati yang pertama adalah hati-hati yang biasa. Awas Komodo lipat kau, karena kebanyakan hura-hura dan gara-gara! Komodo adalah binatang paling cuek di dunia, dan satu lagi, binatang pura-pura cool terbaik di dunia. Tapi, kau jangan korek dia punya nakal dan ganas. Jangan sok santik dan sok santeng di depan Komodo! Awas kau punya batang betis dan batang leher lewat.

Hati-hati yang kedua, ini! Hati-hati yang tidak punya hati! Signal 4G itu adalah sebuah pesan khusus. Sebuah tanda perihal kehancuran yang bakal tiba. Signal kuat kalau suatu titik waktu komodo akan punah, ekosistem yang dibanggakan akan hancur, konservasi akan segera tinggal mendekam dalam bayang.

Ceritanya begini, tidak mengejutkan memang jika kawasan strategis semisal Taman Nasional Komodo (TNK) pada suatu titik bakal diserbu investor. Dan, perlu dicatat, investor yang ajukan izin pengelolaan dalam kawasan strategis seperti TNK sebenarnya bukan investor main-main.

Tetapi, sekali lagi tetapi, para investor yang gagasan pembangunannya berlari sepuluh langkah lebih cepat dari yang dibuat pemerintah daerah, plus, yang bisa bikin aturan dari pusat sampai daerah di republik ini dengan seenak jidat, seenak perut, seenak mereka lah!

Karena, prinsip para investor bukan lagi sekedar signal 3G alias Gold, Glory and Gospel yang dalam bahasa saya menjadi mencaplok sumber daya publik (gold hari ini), menguasainya dengan privatisasi (glory hari ini) dan dengan modus janji-janji kesejahteraan dan keadilan sosial (gospel hari ini), tetapi, ada satu G lagi yang disebut Government. Investor sudah menjadi pejabat negara. Menginterupsi dalam system.

Buktinya. Well, saya bentangkan sedikit data berikut ini. Sejak 2011 sampai dengan 2018, sudah terdapat tujuh (7) perusahaan yang mengajukan permohonan izin pengusahaan pariwisata alam di TNK.

Tujuh perusahaan tersebut adalah, PT. Komodo Wildlife Ecotourism pada 2011, PT. Kirana Satya Abadi pada 2012, PT. Perdana Surya Dinamika pada 2012, PT. Segara Komodo Lestari pada 2012, PT. Inti Selaras Abadi pada 2012, PT. Karang Permai Propertindo pada 2013.

Well, silakan lacak, perusahaan mana saja yang sekarang sudah mendapat izin dan mana yang belum. Kemudian lacak lagi, siapa pemilik PT ini dalam kaitannya dengan dikeluarkannya SK penetapan zonasi kawasan Taman Nasional Komodo muncul pada Oktober 2012, Dirjen PHKA No. SK. 21/IV-SET/2002.

Saya berani bertaruh makan gorengan. Saya salah, saya traktir gorengan 10 ribu rupiah, saya benar, ditraktir gorengan 1 milyar. Hayo!

Kita semua, apalagi yang suka selfie, suka update status, bikin story instagram dan lain-lain, pasti lompat sampai ke langit kalau ke kawasan Taman Nasional Komodo. Bagaimana tidak, signal HP kencangnya bukan main. 4G. Bro dan bra, 4G.

Wah sayang, hp saya lowbat!

*kbs adalah nama pena dari Kris Bheda Somerpes. Kris adalah peneliti di Sunspirit For Justice and Peace yang juga adalah seorang blogger dan pendiri floressastra.com. Suka menulis esai pendek yang tidak bermakna, kadang bermakna dalam banyak hal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here