Catatan Untuk Emirensiana

0
170

Pada ranum bibirmu yang memerah,

Tersurat sebuah duka dari rembas cahaya

Sekali. Dua kali. Lebih panjang . Lebih berat kata itu kau dendang

Bilur sembilu menetes lembut pada bahu

Mengukir liukan keluh yang enggan kau tumpah pada semesta

Menari riang kau di balik canda, dalam selimut malam matamu tak dapat pejam

Kau seolah berlomba dengan waktu merebut halauan nasib yang digantung sang khalik

Di hadapan salib kau mengangguk

Berbisik lembut pada senyum patung yang abadi

Lamat-lamat, lima belas detik senyap.

Parau suaramu menelisisk di balik daun jendela

Nak, Janganlah kau lebih lambat dari matahari, sebab rezeki hadir lebih subuh…”

 

Melita Encik

*Penulis bernama Melita Encik. Seorang mahasiswi Universitas Nusa Cendana Kupang. Perempuan yang berasal dari Lembor, Kabupaten Manggarai Barat ini, sedang konsen mempelajari pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here