Antologi Puisi Ila Karmila Juli 2018

0
99
Ilustrasi./Sumber: pixabay.com

KEHADIRANMU  

Kemarin kau masih di sini
Berdiri tersenyum manis bersamaku
Melangkah bersama  bercerita dan bertanya pada alam tentang dunia nanti

Ah. .
Apakah itu mimpi
Bunga-bunga tidur yang lenyap  dan pergi  dihempas  angin  pagi
Dan juga  pergi  bersama  subuh yang ditelan fajar

Kehadiran  seolah  seperti  pencuri
Yang datang mengambil  milikku
Dan kau pergi  dengan  bahagiamu

Lalu  kau tinggalkan aku dengan  tangis kesedihan  dalam  penyesalanku
Dan kini  aku di sini
Bersama lukaku  dan sisa  kehancuran yang kau berikan
Dan bertanya  pada alam semesta
Pada bulan  dan bintang  yang seolah  ikut  menangis  dan bersedih

SAMPAIKAN  PADA TUAN  KAMI 

Wahai kau pemilik emas  perak
Wahai  kau tuan di Negeriku
Tak malu kah kau berkuasa di atas penderitaan kami
Masih  belum  puaskah hak kami kau rampas
Tak iba kah  dirimu melihat  tanah  ini

Dibanjiri  tetesan  air mata  rakyat  jelata
Masih inginkah  kau tuanku
Melihat  kami dibodohi oleh  kaummu

Ah
Sepertinya otak kotormu
Masih kau rawat
Hingga  kau lupa pada tujuan
Hati  nurani

Sepertinya cita-cita rakyat seluas  lautan dan samudera
Hingga  tak mungkin  diarungi dalam  penindasan

Oh

Semilir angin malam
Sampaikan jeritan rakyat  kecil
Titipkan  salam rindu  kedamaian  dan kesejahteraan kami
Pada tuan kami itu

RELAKAN DI TANAH KARANG 

Jarum waktu berputar
Kau tinggalkan  ayah-ibu
Ada satu harapan  terdalam
Menyusuri  jejak cita

Anggap  yang  seolah kau dekap
Seperti   bagian  tubuhmu
Yang  tak mau hilang dari hidupmu
Impian yang  seolah  kau genggam

Seperti mimpi  indahmu
Yang tak mau hilang ditelan fajar
Maka teruskanlah segalanya
Jika ibu ayah kau tinggalkan

Karena  impian, relakan
Kelak mereka paham yang kau maksud
Biarkan syairku
Kembali  terbaca  di atas  karang

Yakinlah  tekad  yang  kau tanam
Tak akan  pergi  dari  sejarahmu
Ada esok  yang  menjawab
Aku tak  mau lilin itu padam
Sebelum subuh  ditelan  fajar

ISI JINJINGAN WANITA TUA

Panas dan terik
Seolah membuat  kulit  menjerit
Panas dan pedis laksanakan api
Ingin  berlalu  ditelan  senja

Perempuan di pinggir  jalan
Dengan  jinjingan di tangannya
Ada harapan  yang  terdalam
Yang  terbaca  dari ekspresi

Berharap apa isi jinjingan
Senyum simpul
Sepertinya  aku hanya  mencoba melihat  dengan mataku

Yang mungkin tak bisa diraba
Oleh tangan ku layaknya kursi  yang punya banyak arti
Namun hati nuraniku kembali  membaca tentang  apa yang terdalam  dari ekspresinya

Ada mimpi  darinya tentang  buah hati
Yang harus  berbakti  pada negeri
Dengan  modal jinjingan plastik
Membayar  ilmu  yang tak ada henti

TENTANG  RINDU 

Secarik  kata  yang selalu  terucap
Entahlah  sampai kapan kata rindu habis ditelan perjumpaan
Malam yang seolah  menjemput
Memangilku pada jam-jam kesepian
Yang diselimuti rindu  yang kian  menggebu

Lalu kedua  mataku  beralih  pada gambar  di sudut  ruang
Ada senyum  yang  seolah  hidup
Sepertinya  aku ingin  memeluknya
Walaupun hanya  gambar  yang selalu  menemani  malamku
Hingga aku terlelap dalam mimpi malamku

Jika waktu Tuhan membiarkan kau dan aku berjumpa
Mungkin hanya satu kata yang aku ucapkan nanti
Aku tak mau kehilangan dirimu
Hingga  membuatku  kembali  menyusuri  lorong  rindu  itu

 

Ila Karmila

Penulis adalah mahasiswa bernama lengkap Nemesio  Ila  Karmila. Suka menulis  dan baginya menulis  adalah bagian  dari hidup  yang tak bisa  dipisahkan. Baginya, ketika  berhenti  menulis  di situ  otak sarafnya pun berhenti  berpikir.  Ia juga gadis yang menyukai  kopi  dan senja. Sekarang  sedang  berkuliah  di kampus  Fisip -Undana  Kupang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here