Antologi Puisi Loke Laka Juli 2018

0
73
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Kepribadian yang Membuktikan Rasa

Selayak itukah raut wajahmu?

Oh…gadis, sementara kau masih terlihat rupawan, lalu mengapa candamu bagaikan sebuah marah? Senyum manis bibirmu mempunyai pemilik yang sah, lalu masih pantaskah kau berseri untukku?

Tidak! Tidak gadis!
Berterus teranglah, maka marahlah!
Padahal kau telah tahu, aku tak pandai bercakap. Lalu, mengapa beranggapan telah cuek?

Gadis, tanpa harus berkata untuk sebuah penjelasan, kepribadianlah yang dapat membuktikan rasa.

Sang Malam yang Penuh Kebijakan

Mereka di sana adalah cahaya yang sama. Seperti apa aku menjelma untuk menemani dirimu? Akankah seperti bulan? Akankah seperti bintang? Sebab, kuingin mengukir keindahan wajahmu di langit.

Sang malam yang penuh kebijakan. Kau menyapa dalam mimpi. Serupa apa aku menyambut mimpi? Haruskah serupa dengan apa yang aku khayalkan? Atau malah haruskah serupa dengan keindahan wajahmu yang kulukis di langit? Sesungguhnya sang malam, kuingin pintu langit menuju dirimu terbuka untuk diriku.

Sang malam yang penuh kebijakan. Terkadang sunyi selalu menjadi sahabatku saat kau nampak. Maukah dirimu kujadikan sang pemeran menemani khayalku dalam sunyi? Entahlah, aku tak mau keindahan wajahmu di langit tersapu egoisnya awan itu.

Sang malam yang penuh kebijakan. Hampa angin memburu membuatku cemburu? Lalu apalagi yang akan aku buru? Pada bulan, pada bintang, pada sunyi, pada keindahan wajahmu yang kulukis di langit, kujumpa hanya pada mimpi. Andaikan begitu, biarlah mimpi yang membuatku nyenyak terlelap

Melebihkan Dirimu

Ku jatuh, perjalanan ini pun telah lumpuh. Dinda, rupanya peta yang kau berikan untuk menuju hatimu hanyalah beralamatkan palsu. Lalu, haruskah perasaan ini diberikan alamat buntu?

Aku rapuh. Hati yang kurakit untukmu hanyalah sebatas perahu rindu. Memang dan kutahu, perahu layar di sana memiliki kelebihan dari perahu rakitanku. Namun, perahu yang kurakit dari bambu inilah yang selalu melebihkan dirimu.

Dinda, kau pun bercakap bawah hujan membuatmu rindu. Maka aku tak mau menaruh perahu rindu ini berlayar pada hujan yang kau maksud. Aku takut saat hujan berhenti, rindu pun akan berlalu.

Air Matamu Berarti

Telah dan terlalu banyak yang aku jelaskan. Bawasanya cinta sesungguhnya adalah sebuah ketulusan. Sebab cinta adalah sebuah rasa tanpa paksaan. Dia tidak pernah memikirkan apa kau terima cintanya atau tidak! Dia tidak pernah mengharapkan apa kau membalas cintanya atau tidak! Karena baginya, ketika rasa itu kau biarkan tumbuh dalam hatimu, maka bertanggung jawablah untuk selalu menjaga rasa itu, itulah yang ia syukurkan.

Sejatinya cinta adalah tentang bagaimana caranya kau berusaha kembali meskipun kau sudah berjalan begitu jauh. Namun ketika cinta itu datang dan telah tumbuh padaku, aku pun malu dengan semua arti cinta yang sudah kujelaskan.

Tak banyak maksudku kasih, andaikan cinta itu menyakiti dirimu, tersenyumlah. Sebab, air mata terlalu berharga untuk kau jatuhkan begitu saja.

Biarlah Tujuan suratku Tak Beralamatkan Siapapun

Sekian lama jeda waktu tak bercerita di atas goresan tentangmu. Dinda, kanda harap dirimu tak dengki karena itu. Setelah kemarin, kiranya salam dariku semoga dinda pun terima. “Sambil mencuri lirik pandang wajah ayu sang dinda, kanda pun melanjutkan kata.”

Biarlah!

Dinda, bukan tanpa alasan kutak mengerti engkau. Kanda sengaja membiarkan engkau larut pada tenggelam rindu untukku. Sesungguhnya di kedalam dasar rindu itu, aku selalu menanti dirimu. Hanya saja dindaku tak pernah merasakan itu. Maka biarlah sadar yang mengerti dindaku”

Lantaran karena kabar itu, rasa percaya dindaku telah pupus. Lalu mengapa membenci di saat dindaku mengetahui fakta nyatanya tentang kabar itu? Dinda, sesungguhnya hanya egois yang mendukung itu. Maka biarlah mengalah ini yang menegur dindaku.

Dinda, rasa ragumu meluap mendidih. Nyaman ini pun tidak berarti untuk dirimu lagi. Maka biarlah. Biarlah tujuan tulisan suratku tak beralamat siapa pun.

Loke Laka

*Loke Laka adalah nama pena dari Yustinus Apri Bambut. Alumnus SMAN 2 Komodo ini sangat berminat pada teater dan puisi. Ia sering mempublikasikan puisinya lewat media sosial. Saat ini,pria kelahiran Cancar, 29 November ini aktif di beberapa kegiatan sosial di Labuan Bajo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here