Kopi Mane, Cita dan Karya Wenti yang Terwujud

0
1070
Pengusaha muda, Yuliana Wenti Permata Romas/Foto:AIB

Suatu hari, Wenti yang lahir dan besar di Jakarta, spontan berbicara kepada ayahnya; “Kayaknya seru kalau saya punya kedai kopi.” Kemudian saat pulang ke kampung halaman ayahnya di Ruteng, ia pun memulai usaha kedai kopi sampai membuka cabang di Labuan Bajo. Perempuan yang percaya ucapan adalah doa ini, menjalankan usaha kedai kopi sambil mengedukasi.

Kedai Kopi Mane Inspiration terletak di sisi jalan pada lintasan menuju Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo. Bangunannya klasik dan sederhana. Berdinding gedek dengan lapisan pelitur dan dihias dengan gantungan kayu. Setiap hari, Yuliana Wenti Permata Romas beraktivitas dalam bangunan tersebut dan melayani pelanggan yang hendak mencicipi berbagai menu yang disediakan oleh kedai kopi yang dikelolanya itu.

Kopi Mane sudah mulai dibuka sejak tahun 2014 di Ruteng. Orang tua Wenti memanfaatkan lahan di depan rumah mereka untuk membangun kedai. Kemudian pada November tahun 2015, Kopi Mane juga dibuka di Labuan Bajo. Wenti mengelolanya sendiri dengan beberapa karyawan.

Biji Kopi yang dipakai Wenti di Kopi Mane langsung diperolehnya dari Asosiasi Petani Kopi Manggarai (ASNIKOM). Pengelolaan Kopi Mane di Labuan Bajo pun atas kerjasama dengan organisasi tersebut.

“Kopi Mane yang di Ruteng ambil kopinya kan di ASNIKOM. ASNIKOM melihat efeknya lumayan baik bagi mereka maupun pengenalan kopi itu sendiri. Kita mengetahui bahwa Ruteng hanya seperti kota transit para wisatawan. Wisatawan lebih banyak di Labuan Bajo, jadi ASNIKOM memutuskan buka di Labuan Bajo dan minta kami yang urus,” beber perempuan berkacamata ini.

Wenti menyediakan tiga jenis kopi Manggarai yakni arabika, robusta, dan lanang di kedai Kopi Mane. Selain itu, ia juga menyediakan menu-menu lain bagi pelanggan. Harga yang ia berikan untuk menu-menunya pun terbilang cukup terjangkau dan tidak menguras kantong lebih dalam.

Wenti berpose di papan nama kedai Kopi Mane Inspiration yang dikelolanya/Foto:AIB

Kedainya tampak lebih ramai pada sore sampai malam hari. Terlebih pada akhir pekan. Perempuan kelahiran 26 Juli 1988 ini pun sering turun langsung melayani para pengunjung kedai dan ikut berbaur dengan mereka.

Keberadaan wisatawan di Labuan Bajo adalah peluang besar bagi Wenti. Kedai kopinya setiap hari dikunjungi warga Labuan Bajo maupun wisatawan domestik dan mancanegara. Lokasi kedai yang strategis karena tak jauh dari bandara pun memberi keuntungan lebih buatnya.

“Uniknya dengan lokasi yang dekat bandara, mencegat orang-orang yang mau ke bandara. Misalnya yang menunggu jam keberangkatan dan transit,” imbuhnya.

Wenti mempromosikan Kopi Mane dengan berbagai cara. Ia mengaku, lebih banyak dengan cara promosi dari mulut ke mulut dan bantuan trip adviser. Beberapa pengunjung Kopi Mane di Ruteng pun diarahkan ke Labuan Bajo. Terlebih bagi mereka yang masih ingin menikmati cita rasa khas Kopi Mane.

“Kopi Mane Yang di Ruteng juga sampaikan bahwa kita punya Kopi Mane juga di Labuan Bajo. Kalau mau mampir, langsung aja ke tempatnya. Kalau dari trip adviser, rata-rata adalah rekomendasi para pengunjung. Biasanya mereka menulis tanggapan dan menunjukkan bahwa tempat ini direkomendasi,” kata Wenti.

Wenti meyakini, usaha kedai kopi di Flores khususnya Labuan Bajo memiliki peluang besar dan menguntungkan. Namun, untuk saat ini, ia ingin mewujudkan cita-citanya sebagai social entrepreneur yang bisa memberi dampak baik bagi banyak orang.

“Kalau aku niatnya karena ingin menjadi social entrepreneur, yang profitnya punya dampak dalam jangka panjang bukan hanya pada aku saja, tapi juga buat orang lain. Entah buat petani dan siapapun. Kopi Mane ini adalah lahan belajar bagi aku, jadi keuntungannya cukup buat aku.”

Perjalanan Wenti Menuju Kopi Mane

Sebelum memutuskan membuka usaha kedai kopi di Manggarai, perempuan berdarah campuran Manggarai dan Jawa Tengah ini sempat merambah beberapa pekerjaan di Jakarta.

Sebagai seorang yang lulus pendidikan Ilmu Komunikasi jurusan Public Relation, Wenti sudah mencoba beberapa pekerjaan yang dianggap sesuai dengan bidangnya tersebut. Ia pernah bekerja di bank dan perusahaan advertising.

“Waktu praktek kuliah, pertama kali aku magang di hotel. Terus setelah lulus kuliah kerja di Bank BCA. Waktu itu stres banget karena harus berangkat jam setengah lima pagi dan baru pulang  rumah jam setengah sebelas malam. Memang stres dan saat itu aku merasa itu bukan bidangku,” aku dia.

Setelah keluar dari bank, ia kemudian masuk di perusahaan advertising yang tempat kerjanya di Jakarta dan Surabaya. Ia harus bolak-balik Jakarta-Surabaya untuk bekerja.

“Di tengah-tengah itu, sempat nyeletuk sama papa; ‘lucu kali yah kalau aku punya kedai kopi,'” imbuh Wenti dengan ekspresi sumringah.

Ia pun banyak belajar dari perusahaan advertising tersebut. Sejak itu pun ia bertekad akan membangun suatu usaha yang dikelola dan dimanajemen sendiri olehnya.

“Saat di perusahaan advertising, aku di bagian marketing, jadi dibiasakan bikin goal mingguan, goal bulanan. Dari situ aku pengen banget memenej sesuatu, aku pegang sendiri, dan aku mengatur sendiri,” tekadnya.

Ketika orang tua Wenti pensiun pada tahun 2012 dan memutuskan pulang ke Ruteng, Wenti pun ikut. Sesampai di Ruteng, ia sempat bingung mau berbuat apa. Kemudian karena merasa bertanggungjawab atas kata-katanya sendiri, dengan dukungan orang tuanya, Wenti pun mulai membuka usaha kedai Kopi Mane.

“Saya juga mikir, daripada tidak ngapa-ngapain selagi masih produktif, jadi buat kedai kopi. Akhirnya kita buka Kopi Mane di Ruteng pada 7 Desember 2014,” kata dia.

Lihat juga: Video Suara Entrepreneur Muda Wenti Romas Kopi Mane

Nama Kopi Mane pun adalah ide dari sang ayah. Mereka percaya bahwa nama adalah doa. Pemilihan nama Kopi Mane Inspiration itu juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat bahwa minum kopi tidak hanya dilakukan pada pagi hari, tetapi juga sampai malam hari. Selain itu, menurut Wenti, minum kopi pada sore hari juga mempunyai keistimewaannya sendiri.

“Buat aku sendiri, sore hari itu adalah waktunya mendapat inspirasi. Kayak ada auranya tersendiri kalau sore duduk merenung sambil ngopi, ada-ada saja inspirasi. Sore seperti punya cerita sendiri.”

Membangun usaha di Flores bukan hal yang mudah bagi perempuan yang lahir dan besar di kota DKI Jakarta ini. Namun, cita-citanya yang sudah lama dia impikan membuatnya tetap kukuh untuk menjalankan usaha tersebut. Apalagi, usahanya ini harus memiliki tantangan besar di tengah tradisi orang Flores khususnya Manggarai.

“Awal-awalnya itu penyesuaian. Saat itu masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi kami, bagaimana kita mengedukasi orang untuk minum kopi dan bayar. Tradisi orang Manggarai kan, kalau kita bertamu pasti dikasih kopi,” ucap dia.

Wenti sempat merasa putus asa dan mencoba kembali ke Jakarta untuk mencari pekerjaan lain. Namun, karena ketertarikannya pada kopi lebih kuat, ia kembali ke Flores untuk melanjutkan usaha kedai kopi.

Perempuan ini pun meyakini,pekerjaan yang dilakukan atas dasar minat akan menemukan jalannya sendiri. Yang terpenting, kata Wenti, dimulai dengan mencari tahu minat dan bakat diri kemudian dengan tekun mengembangkannya.

“Percaya saja, kalau niatnya baik, pasti hasilnya baik,” tutup Wenti berbalut senyum lebar.

Kopi Mane Inspiration saat inipun terdapat di tiga kabupaten yakni di Ruteng, Labuan Bajo, dan Maumere. Kedai ini lebih mengutamakan pengenalan dan pengelolaan kopi khas Flores. (*) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here