Antologi Puisi Ilda Wahyu Juni 2018

1
202
Ilustrasi./Sumber:pixabay.com

INGATAN

Kepalaku membayangkan
Di waktu yang larut malam
Melihat sebatang lilin di atas nampan
Bercahaya sendiri dalam keremangan

Kepalaku membayangkan
Ribuan tahun yang akan datang
Duduk membisu di tengah keramaian
Lupa akan sebuah ingatan
Dimanakah kita akan pulang?

MELUPAKAN

Kita tergeletak pada lorong kesesatan
Mati oleh ribuan pilihan
Menatap wajah diri tanpa bayangan
Lalu, hanya mendapat gelisah

Banyak tanya menyerbu kepala
Seonggok kebencian penuhi diri
Pulang bukanlah jalan
Mati bukanlah pilihan
Melupakan adalah mungkin

MALAM BUKAN JALANG

Jika malam adalah;
Gelap dan hitam
Jika malam adalah;
Mati dan sunyi

Malam itu bukanlah jalang
Pahamilah!
Tak selamanya jalang ada pada malam

HINGGA PADA PULANG

Akan dikemanakan semua yang kita garap?
Atas gelar yang kita dapat?
Atas uang, harta, serta perihal lainnya?
Hingga hari makin menua
Hingga rambut akan beruban
Hingga urat akan terlihat
Hingga kening mulai mengerut
Hingga kulit makin kusam
Hingga mata mulai rabun
Hingga usia makin tua
Perihal dunia yang fana ini.
Masihkah kau menantangnya?
Hingga pada Pulangmu

KEMARAU ADALAH KITA

Haus akan air,minumlah!
Lapar akan nasi,makanlah!

Hitunglah tahun usiamu!
Tataplah dirimu pada bayang malam
Adakah kau dapati sketsa wajahmu?

Pagi hingga malam keluhanmu terdengar tanpa jeda
Segalanya tak ada yang memuaskan.
Kau menatap semuanya mati.
Kosong tanpa hasil.
Sesungguhnya; kemarau itu adalah kita

 

Ilda Wahyu

*Penulis dikenal dengan nama Ilda Wahyu. Seorang pelajar SMAK Setia Bakti Ruteng yang juga aktif menulis di Flores Muda sebagai Reporter Pelajar. Punya minat pada dunia jurnalistik dan hobi menulis puisi.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here