Antologi Puisi Ila Karmila Juni 2018

0
169
Ilustrasi./Sumber: pixabay.com

DIAMNYA

Menyusuri lorong hatimu
dan mencari, masihkah  ada
aku di ujung hatimu?
Remang-remang kutanya
Tapi diam
Ada hanya jeritan hati.

Hanya  kepak  sayap hewan  malam
yang  terdengar membisikkan gema
Kau terlalu  bodoh
hingga  fragmen  yang dia suguhkan
menjadi  terdalam  di hatimu

KETIKA  DETAK DETIK SENJA 

Detak  detik  senja  menyapa
Aku terpesona  hingga  lupa  pada tujuan
Kemarin  aku pernah  bermimpi
Meraih  cita  yang masih  harus  kutempuh,
Ketika  senja  datang  hari  ini
Tak banyak  kata  yang  kuucapkan
Hanya  senyum  bisu  hingga  akhirnya  terlarut  dalam  angan,
Kuhabiskan waktu bersama tujuan yang entah
Pikiran  mulai  tergoyang
Dan kini semakin mengguncang
Detak detik  senja  mulai  berlalu
sementara malam pun  datang.

Mengapa sebegitu cepatnya kau berputar waktu?
Aku tak sempat  berkarya  dan berlutut  di hadapan Tuhan
Aku sadar  aku sedang  ditelanjangi  kebodohan
Seribu  langkah  aku berlari meninggalkan  jejak hari ini
Sampai  kutemukan karya, hasil, dan perjuangan.

 SEPANJANG JALAN  KOTA KARANG

Terukir indah  tanah  di atas karang
Semisal kenangan  di hati
Ketika cinta tak lagi menyatu
Seperti  bibir langit  dan perut  bumi
Yang kadang  tak bersahabat

Aku luka dan hampa
Bersama  hati yang  kubenci
Mengapa kau ciptakan rasa
yang berakhir duka?
Pedih dan pahit  semakin mendekat

Dalam kesedirian kutanya pada rembulan
Adakah yang  tak abadi?
Tidak! Rembulan berseru dan tertawa sinis
Seolah sedang mengolok-oloki kebodohanku.

Malam sunyi, hanya gonggongan  anjing  yang meronggeng
Angin membisik, membangunkanku  dari mimpi surga.
Entah  kau tahu, ketika  kau  melewati jalan kota karang
Memorimu berputar kembali
dan kenangan akan abadi  di sini.

TENTANG CANGKIR

Tentang cangkir adalah saksi
Kita pernah di sini dengan cangkir yang sama
Tak bersuara hanya senyum bisu
Jika senyummu tak beracun
Aku yakin kau bukan ciptaan Tuhan

Tentang cangkir di sudut ruang
Adalah saksi perjanjian
Entahlah semua telah berubah menjadi kenangan
Tentang kau yang telah pergi adalah tangisan
Di sini kulukis namamu , wajahmu dan mungkin jejak langkahmu

Dan kini ku berdoa pada sang pemilik rindu
Agar kau kembali karena rinduku
Hingga kau menjadi milikku
Dan sekumpulan puisiku menghangatkan jiwamu

DI SINI DAN HATI

Tentang hati
Adalah organ tak terbaca
Dari balik kulit tak ada isi
Seperti makna di balik simbol

Tentang rindu di balik hati
Adalah ucapan pada denyutan
Hingga akhirnya aku,
Seperti soal mencari jawaban
Entah harus menunggu atau melangkah pergi

Dan di sini
Bersama malam dan bibir cangkir
Entah pengobat atau penawaran rindu
Dan tersadarlah tetesan bening jatuh pada kelopak mata

Dan sudut ruang
Menjadi tempat aku mengenang
Tentang kisah aku dan dia
Bercinta dalam kebohongan musnah dan berakhir
Hingga terlarut dalam luka

BISIKAN DOA IBU

Seorang wanita dengan pakaian sederhana
Tak berdandan namun dia sangat rapi
Entah apa yang dia pikirkan
Dia berlutut di hadapan Tuhan

Mulutnya seperti sedang membaca mantra
Namun dia bukan seorang dukun
Entah angin apa aku mendengar bisikannya
Wanita itu sedang berdoa dengan kristal bening di kedua bola mata

Doa sang ibu di hari ini
Wanita itu tidak mendoakan dirinya
Dia mendoakan aku dan kamu
Agar kamu diberkati, kamu yang sedang meniti jalan menuju kesuksesan

ENU

Dari gunung damai
Kau datang ke kota karang
Seperti air mengalir dari bukit
Tenang sejuk seperti angin pantai

Kau merenung di saat itu
Dan tak kau sadari lembah pada kelopak matamu sudah basah kuyup
Kau mencoba melangkah dan berjuang
Dan saat itu kau ingat
Mereka sedang berjuang dengan cara mereka untukmu

Kau adalah gadis, Enu
Dari kampung tak ramai namun damai
Dari gunung kampung nan sepi itu kau sukses
Dan senyum di ranum bibirmu
Seperti senja dan pelangi seperti jawaban yang menjawab beribu pertanyaan.

Ila Karmila

Penulis adalah mahasiswa bernama lengkap Nemesio  Ila  Karmila. Suka menulis  dan baginya menulis  adalah bagian  dari hidup  yang tak bisa  dipisahkan. Baginya, ketika  berhenti  menulis  di situ  otak sarafnya pun berhenti  berpikir.  Ia juga gadis yang menyukai  kopi  dan senja. Sekarang  sedang  berkuliah  di kampus  Fisip -Undana  Kupang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here