Pertama Kali Rayakan Idul Fitri di Makassar

0
183
Jemaah yang melaksanakan Shalat Id di lapangan Telkom Makassar, Jumat, 15 Juni 2018/Foto: Nurhayni

Jumat ,15 juni 2018 merupakan pengalaman pertama saya merayakan Lebaran di tanah rantau yakni di kota makasar. Pada lebaran kali ini saya ditemani oleh beberapa kakak senior yang berasal dari daerah Lembor, Kabupaten Manggarai Barat.

Sebagai pendatang baru, saya dan beberapa teman belum begitu tau tempat pelaksanaan Shalat Id saat Idul Fitri di kota Makassar. Para senior kami menawarkan beberapa tempat seperti; lapangan Universitas Muhammadiyah Makassar, Lapangan UIN Alauddin Makassar, dan lapangan Telkom Makassar. Ketiga tempat ini sangat bisa dijangkau dari tempat kami tinggal, namun hasil keputusan dari senior, kamipun melaksanakan Shalat Id di lapangan Telkom.

Kami berjalan kaki bersama dari indekos menuju lapangan Telkom. Saat itulah saya merasakan hangatnya kebersamaan di tanah rantau.

Kami berjalan selama kurang lebih 20 menit. Setiba di lokasi, lapangan sudah dipenuhi oleh jemaah. Saya memperhatikan para jemaah di lapangan, ada yang sudah duduk dengan tenang di atas sajadahnya dan ada yang masih lalu-lalang mencari koran. Saat itupun, saya heran mengapa ada orang yang mencari koran di saat seperti ini? Setelah saya perhatikan, akhirnya sayapun tau maksudnya, ternyata koran tersebut dipakai untuk mengalas  sajadah agar tidak terkena langsung rumput lapangan.

Kamipun ikut meminta koran pada panitia dan mencari tempat untuk melaksanakan shalat Id. Setelah mendapat tempat, seorang pria berjalan di tengah kami sambil membawa ikatan balon mainan anak-anak sambil berkata, “Sayang anak, sayang anak!”. Awalnya saya tak paham maksud pria itu, namun setelah seorang ibu kemudian membelikan satu balon untuk anaknya, sayapun mengerti.

Tak lama kemudian shalat Id pun dimulai. Penjual balonpun mengahiri penjualannya dengan menyimpan balon di pinggir lapangan. Saya menjalankan shalat dengan khusyuk bersama teman-teman dan ratusan jemaah di lapangan.

Setelah melaksanakan shalat, semua jemaah mendengarkan ceramah. Saya merenungi isi ceramah yang disampaikan imam. Setelah 20 menit berlalu ceramah pun selesai. Kami lalu bersalaman sambil mengucapkan mohon maaf lahir dan batin atas segala salah dan khilaf. Setelah itu, rombongan kami berfoto bersama untuk mengabadikan momen tersebut. (Nurhayni/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here