Antologi Puisi Loke Laka Juni 2018

0
185
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Cerpen Romansa, Jerit Rindu Ilalang Ijuk Keriput 

Menengok ke samping, kepada apa yang mengusiknya. Rintik gerimis rupanya tengah asik bercakap bersama genteng dari ilalang ijuk itu, hingga mengundang hatinya merasa cemburu dengan alam romantis itu. Bagaimana tidak? Panas terik mentari yang selalu bersandar hingga tubuh ilalang ijuk keriput terguyur keringat akibat kepanasan tak membuat luntur rasa terpendam itu. Betapa setia rindu ilalang ijuk yang tertuju untuk gerimis seorang. Rintik gerimis pun kini dengan mesranya menyapa ilalang ijuk itu yang telah lama menanti cumbunya. Dengan tenang air gerimis mengalir di atas genteng ilalang ijuk sebagai tanda rasa bahagia telah ia berikan. Dalam setiap helai rintik gerimis selalu berpuisi tentang jeritan rindu yang tulus dari ilalang ijuk itu.

Gerimis kumenyayangimu

Berselimut pada arus keringat berguyur lembut
Menemani harimu setiap saat dan waktu
Perih hatimu saat mentari tengah besandar
Rindu pun terpendam pada keriput ilalang ijukmu

Di setiap hembus nafas hidupmu
Mengidamkan rindu segeralah berakhir
Mulutmu kini terjahit karena keadaan
Rindu pun bersemedi pada awan yang tak kunjung mendung itu

Permohonan tertuju pada rintik gerimis hujanku
Harapan gerimis kiranya akan menyapa, itulah angan pada kalbumu
Sungguh mulia rasa rindu terpendammu
Rintik gerimisku pun sangatlah menyayangimu

Seorang yang menengok tadi pun merasa dengki. Dalam hati, ia pun berguman “Andaikan Siang sepi ini dapat bercakap bersama denganku, pastilah daku merasa bahagia sebagaimana yang dirasakan rintik hujan bersama ilalang ijuk keriput itu.”
“Ahh…rupanya aku larut dalam waktu. Anganku cumalah semata pembalut rasa rinduku”

 

Harapan Penyesalan, “Air susu dibalas dengan air tuba”

Sebuah pribahasa yang dalam keseharian menggambarkan terhadap suatu kebaikan dibuat untuk yang tertuju, namun suatu keburukan pun juga kejahatan yang didapat. Atau pun lebih singkatnya adalah kebaikan dibalas dengan kejahatan. Ada pun itu faktanya, dimana kita pernah mengalami seperti yang dimaksud dari pribahasa tersebut, pastilah saat itu keterpurukan, kebencian, serta penyesalan dalam diri akanlah muncul. Kepada hati pastinya akan hancur layaknya porak-poranda bencana alam terbesar sedang berlangsung. Memohon segera berlalunya bencana tersebut pun merupakan harapan satunya akan Dia.

Ada kata dalam goresan sajak yang menggambarkan salah satu contoh yang terjadi dalam kehidupan nyata seperti yang dimaksud pada peribahasa itu. “Bahagia karena mencintaimu dengan tulus, namun aku pun menyesal karena telah mempercayaimu mencintaiku juga. Hatimu ternyata bukanlah untukku, meski pun kenyamanan telah kuberikan untukmu.”

Goresan sajak yang sungguh menggambarkan ungkapan hati teramat sangat kecewa untuk dia yang dimaksud. Kalimat yang dilahirkan itu tentu tak lepas dari bahagia yang pernah dirasakan hingga kita pun berusaha memberikan yang terbaik agar yang ditujui itu akan sadar betapa terbungkus dengan tulusnya perasaan itu. Namun akhirnya drama yang dibuat oleh yang dituju pun sudah usai. Terbukti, bagaimana sesungguhnya perasaan dia yang dimaksud. Rupanya drama cinta berakhir dengan naskah yang mengecewakan. Saya pun terharu akan kisah itu.
Ingin kubuatkan puisi setidaknya menghibur kita yang pernah mengalami seperti yang dimaksud dari puisi tersebut.

Harapan Penyesalanku

Beranganku pada kisah sembilu
Kisah indah akan ketulusan hati mu
Kanang wajahmu lintasi pikiranku
Memilkimu lagi mimpi tidurku

Cinta suci tak romantis seperti dulu
Cerita bersamamu harapanku terbelenggu
Penyesalan kini merajut mendidih
Mematangkan kebencianmu hanyalah untukku

Tersadar, kuterlambat dalam waktu
Permohonan pun sudah tak bermutu
Bahagiaku hanyalah pada memori dulu
Kenangan menghantui dalam horor sepi sunyiku

*”Janganlah pernah kita mengsia-siakan mereka yang begitu tulus mencintai kita, sebab penyesalan terlambat tidak ada gunanya lagi.”

 

Tidak, Cinta Sejati Itu Tidak Buta!

“Lalu kalau memang faktanya begitu, apa yang aku lakukan? Lalu kalau memang perasaan kita sama, terus kenapa kita harus berpisah?” Sambil melirik Rembulan di balik pintu itu. Pundik pun melempar pertanyaan lagi; “Apa memang cintamu tak harus kumiliki? Sebagaimana perasaan ini berkata kalau Rembulanlah yang menjadi terakhir dan untuk selamanya.”

“Bukan maksudku mau berpisah darimu, Pundik. Tahukah kau, aku pun berat melakukan semuanya. Terkadang dalam hidup, kita harus membuat pilihan. Jikalau Pundik memang benar-benar mencintaiku, tunggulah aku di kota itu. Atau carilah kekasih barumu sebagai pengganti akan daku,” jawaban Rembulan, terseduh. Air matanya pun jatuh membasahi pipi. Betapa siksanya Rembulan untuk meninggalkan Pundik yang tak lama menjalin kasih dengannya. Cinta tak sampai, sakit pun ia raih. Benar-benar Rembulan tak menyukai situasi itu.

Kembali Pundik menjemput jawaban Rembulan tadi, “Pilihan Rembulan sangatlah berat untukku. Di satu sisi, aku sangat mencintai dan menyayangimu. Hingga ku tak tahu bagaimana caranya meninggalkanmu. Di sisi lain, dia adalah sahabat baikku. Aku pun tak ingin dia berfikir buruk tentangku. Kepahitan ini tak mampu ku bendung lagi. Andai ada pilihan ketiga, pastilah pilihan itu ku buat agar tetap bersama mu hingga kau pun tahu betapa besar harapn ku untuk memiliki mu. Kini daku tenggelam dalam kehancuran!”

Seketika itu, Rembulan datang menghampiri Pundik yang duduk di kursi dari potongan bambu dengan wajah tertunduk pilu. Dalam lubuk hati Rembulan pun menyahut, “Sungguh besar cintamu akan daku. Hanya karena demi sahabatmu, kau pun rela mengorbankan perasaanmu terhadapku. Betapa butanya cintaku.”

Sambil memeluk Pundik dari belakang kursi itu, Rembulan pun bercakap, “Maafkan aku, Pundik! Kini kusadar, sesungguhnya cinta itu janganlah dibuat pilihan. Cukup rasakan cinta itu lewat hati. Karena dengan begitu kita akan memperoleh dalamnya cinta sebenarnya. Sesungguhnya tak ada cinta yang buta. Kitalah yang buta, sebab tak mampu memilah dalam memilih cinta itu hingga cinta suci pun berakhir dengan drama menyakitkan.”

 

Senjamu Kunikmati

Sajak hati tak pernahlah mati
Kalau pun mati hanyalah sebuah suri
Bukan karena cinta mati
Tetapi cinta sejati selalu dihayati

Ungkapan suci tak selamanya abadi
Yang abadi adalah suara hati dalam diri
Bukan karena mengemis cinta hati
Tetapi selalu berhati-hati menjaga hati

Iri hati bukanlah harapan hati
Kiranya hati tidaklah dikhianati
Dalam diri patutlah disyukuri
Hati suci senantiasa kau pun miliki

“Senjaku”, begitulah panggilan kesunyian dalam keseharianku. “Terangmu nampak kini dan lagi. Namun tak pernah senja menyapaku, walau pun kutahu kau memang selamanya bisu dalam berkata. Tapi kenapa aku selalu rindu katamu untuk menyapaku? Apa karena masih ada rasa? Kalau pun ia, apa yang akan aku perjuangkan? Apakah aku harus duduk diam memandang hanya menikmati senjamu walaupun kutahu kau akan sirna ditelan waktu hingga membuatku bersemedi pada rindu itu?
Rasa nyaman ini muncul dengan sendirinya ketika mengingat senja mu. Sudahlah!!!
Aku bingung, keseharianku kini dihantui horornya berlian sinarmu”

“Dapatkah selalu aku melihat senjamu untuk hari esok dan selanjutnya?” Jawabanmu senantiasa daku tunggu. Sebab, apa yang aku lihat ketika hati ini telah menjadi buta? Pastilah gelap akan senjamu yang akan setia bersandar padaku. Daku pun tak menginginkan itu. Ketahuilah daku cuman berhati-hati dalam menjaga hati, agar iri hati janganlah mengkhianati. Sesungguhnya betapa senjamu kunikmati.

Orang Ke-Tiga

Seperti biasa dari sebelumnya, selalu ada waktu jeda untuk melepas malamnya sendiri pergi. Dari kejahuan yang tampak pudar, kembali Rembulan menyapa Fajar dengan sebuah salam, “Sampai kapan aku harus menunggu waktu itu? Dirimu selalu pastinya nampak setelah diriku berlalu. Lalu, janganlah berjanji untuk bertemu bila nantinya kau pun mengatakan sudah. Lalu, apa yang membuatmu kaku? Mulutmu seolah sejenak terjahit untuk bercakap denganku. Dimanakah pribadimu yang selalu berisik dengan bawel bibirmu? Terkadang tulus itu pun layu di kala kau tak sirami waktumu dengan menyahut. Fajar, pribadimu penuh dengan teka-teki.”
Begitu banyak lemparan pertanyaan dari Rembulan yang hanya untuk sang Fajar seorang.

“Pandanglah rimbunan daun dari rumput, bunga, dan pohon itu! Adakah embun yang masih setia bersandar memeluk pada diri mereka?”
Sungguh, kini cakap Rembulan sangat tegas, bertanda dalamnya kesal itu.
“Kujelaskan padamu. Bukanku membela, pun memuja embun itu, namun ketahuilah, di saat tengah memeluk kekasihnya yang adalah rimbunan daun dari rumput, bunga, dan pohon, dia selalu menitipkan sela waktunya hanya untuk menemani malam panjang diriku. Bahkan di saat bayang diriku memudar lantaran akan nampak dirimu, masih dan selalu ada waktunya untuk mendengar curhat pujianku tetangmu. Sungguh, dia teman baikku. Lalu mengapa kau begitu dendam dengannya? Kau pun nampak tanpa menyapa untuk berjumpa diriku, kemudian dengan terik panas perasaaanmu itu, kau menguras embun itu hingga dia pun sirna ditelan waktu. Fajar, bila terik panas perasaanmu itu memang bukan untukku, janganlah kau melerai mereka, melepas peluk hangat sang embun itu.”

 

Loke Laka

*Loke Laka adalah nama pena dari Yustinus Apri Bambut. Alumnus SMAN 2 Komodo ini sangat berminat pada teater dan puisi. Ia sering mempublikasikan puisinya lewat media sosial. Saat ini,pria kelahiran Cancar, 29 November ini aktif di beberapa kegiatan sosial di Labuan Bajo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here