Antologi Puisi Loke Laka Mei 2018

1
230
Ilustrasi/Sumber:pixabay.com

Mengenang Dirimu

Dia pun berkata pada rembulan malam itu, “Apa engkau tidak melihat cahaya di balik awan mendung itu? Betapa cantiknya angkasa malam ini. Pandanglah dengan kasat mata indahmu, bulan dengan semangat menari bersama bintang itu. Lalu kenapa kau diam saja? Apa karena kau benci pada hembus angin nafasku yang selalu bercerita tentang memori senja sore itu? Atau karena air hujanmu sudah memiliki angin ganas sebagai kekasih barumu itu? Kiranya begitu, apa yang akan daku lakukan sekarang?”

Memori malam kelam itu persis akan nampak malam ini.
“Lalu kenapa kau enggan untuk melirik rembulan malammu sendiri? Tidakkah kau mengingatnya? Apa karena malam Minggu? Kebetulan malam kemarin itu pula malam Minggu.”
Tak ada maksudku merajut kembali malam kelam bersamamu. Namun terlalu indah jikalau egois menguasai pribadimu, hingga sedetik pun matamu tak melirik cahaya malam ini. Bukankah pada malam kelam itu kau pernah berkata; “Tak akan aku lewatkan semalam pun untuk menatap rembulan malamku sendiri, bukan karena aku menyukainya namun terlalu indah untuk aku lupakan.”

Memujamu

Kasih, sungguh daku tak tahu lagi bagaimana cara hidup ini
Mari, bersamamu aku ingin bernafas
Sungguh, kini daku berlabu megah
Aku kelelahan, rupanya tersesat pada hati’\mu

Memujamu
Kasih, kurangmu tak pernah daku resah
Entahlah, telah kutemukan indah serupa
Kini, sempurna dirimu tidaklah kuragu
Mungkin karena sang empu telah menitipkan indah-Nya untukmu

Memujamu
Kasih, padamu kudapat mustahil
Rembulan pun kujumpa pada dasar laut
Maaf, bukankah hanya malam terjumpa rembulan?

Sesungguhnya, seperti itu caraku bersyukur telah memilikimu

Kepada siang

Kenapa kau malu.
Bukankah sudah menjadi kebiasaanmu mengusik siang dengan terik kepanasan? Namun dimanakah terik panas yang teramatlah sempurna? Kaupun membiarkan tanah lumpur itu mengotori jejak telapak kakiku.

Kepada lumpur
Biarkan telapakku berjalan tanpa membawa kotor bekasmu. Kiranya kotor itu sudah dan berhenti di sini. Bukan karena aku tak bersyukur atas indah kotormu, tapi kesadaran akan semuanya bahwa suci kotormu tak pantaslah untukku. Daku pun tahu, dia adalah memiliki telapak kaki yang selayak pantasnya mendapat indah kotor itu.

Kepada jejak.
Biarkan telapak kakiku mencari jejak itu. Mencari kotor yang memang dan seharusnya pada lumpur yang pantas buat jejak kakiku. Karena betapa indah jikalau aku mendapatkan kotor lumpur itu yang memang sesuai dengan latar kehidupanku.

Kenapa Kita Tak Saling Menjaga?

Kau menenggelamkan semua alur cerita pada lubang mata air di balik bukit senja.
Aku terasing, mencari kemungkinan masih ada alur cerita yang masih jeda, kiranya mata air tak menjadi air mata.

Kita berdua, tak saling betemu, tak saling menyapa, saling menjaga tanda tanya, dalam sepi kaburkan rindu yang selalu menyapa.

Egois telah merajalela. Lalu, perlahan memberikan kenangan yang ternoda dan terhapus semua.

Kita salah, kenapa kita tak saling menjaga.

Cintamu Prinsip Maling

Berjalan mendaki di atas lautan samudera biru
Menyusuri ombak yang bertopang pada terik mentari
Gelombang besar kau jumpai di dasar gurun
Petualangan setiamu tercampak gersangnya air keruh

Cinta tertanam di atas purnama bulan itu
Membutakan cahaya bintang yang tengah bersinar tersipu malu
Kepada hutan, padang rumput selalu berangan
Membuat desa tercabik nyaman di alam kota

Detik waktu terendam asmara di dalam tanah
Mengalir indah pada jurang pemisah insan
Cintamu seperti maling tengah beraksi
Semakin dikejar semakin beranjak untuk sembunyi

Buaya Ganas Ibu Kota

Air jernih memenuhi kantongmu
Kantong lembut dari kapas bersalju
Biru merah isi perutmu
Kau pun kenyang setiap waktu

Lapar akan murka selalu kau mangsa
Haus akan Rupiah dalam cengkeraman
Hatimu memang penuh serakah
Dalam diri buaya ganas ibu kota

 

Loke Laka

*Loke Laka adalah nama pena dari Yustinus Apri Bambut. Alumnus SMAN 2 Komodo ini sangat berminat pada teater dan puisi. Ia sering mempublikasikan puisinya lewat media sosial. Saat ini,pria kelahiran Cancar, 29 November ini aktif di beberapa kegiatan sosial di Labuan Bajo.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here