(Cerpen) Seorang Pria Ingin Bertemu dengan Bidadari dalam Dongeng Ibunya

0
329
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Dongeng sudah menjadi semacam makanan pokok baginya. Dongeng selalu menghantarnya pada tidur, memang membosankan, tapi ia tetap merasa senang–senang karena kelemahlembutan dan kesediaan ibunya untuk menghantarnya pada dunia yang selalu berubah-ubah. Ibunya berpikir bahwa anaknya sudah besar dan sudah sepatutnya untuk menghentikan segala dongengan yang membutakan dan kemudian ia meminta anaknya untuk benar-benar memahami dan turun ke dunia nyata. Anaknya merengek-protes, tetapi ibunya tetap bersih keras. Ia harus bisa menciptakan dunianya sendiri.

Pada suatu kali anak itu bermimpi, ia hanya sendirian dan tidak tahu di mana ia sedang berada. Ia hanya duduk di tepi kali dan terus memandang ke arah kali di bawah kakinya. Ia heran dengan keluguan benda-benda yang ada di dalam air itu. Batu-batunya kokoh, tak bergeser, seakan-akan tidak mengerti dengan dunia luar dan membiarkan begitu saja air yang mengalir di atasnya. Ikan-ikan di dalamnya seakan tidak pernah tidur–menutup mata, menelan air terus-menerus dan tidak pernah merasakan kemajuan, selain badannya yang terus membesar. Benar-benar hidup untuk makan dan tinggal menunggu waktunya untuk reinkarnasi. Dan, sama seperti temannya juga yang seakan tidak mengerti dengan keadaan dunia luar. “Apakah ia benar-benar menikmati hidupnya dalam air itu atau mungkin karena air yang keruh itu tidak membulatkan dirinya, sehingga tidak ada kemauan dalam diri untuk ‘mungkin’ sekali-kali keluar dari zona mapannya itu”, kata anak itu dalam hati.

Miniatur bumi yang licin dan jijik itu telah banyak menjatuhkan dan menenggelamkan orang. Dan kali ini adalah giliran anak yang sudah cukup mengenal kehidupan itu, walaupun masih sangat sedikit, bahkan kabur. Ia tergelincir dan jatuh ke dalam arus massa dan mungkin juga akan membeo dalam pusaran iluminati yang membodohkan.

“Ah…..!!!”

Rupanya ia selamat. Tetapi siapa yang membantunya? Mungkin perjuangannya sendiri atau mungkin kura-kura yang sudah tua, yang memiliki lebih banyak pengalaman, baik dalam air keruh itu maupun dunia di luar itu. Kura-kura yang tahu kapan harus menyerang, kapan harus bertahan dan juga, kura-kura yang licik, penuh tipu muslihat dan selalu berlagak dengan cangkang tuanya itu. Anak itu sudah sadar dan terbangun, kemudian bangkit menjadi seorang ekspatriat yang lupa dengan negrinya, hanya meninggalkan nama dan kenangan-kenangan bodoh di masa lalunya. Merasa diri berbeda dengan tanah, tidak lagi bertaruh pada alam yang bingung dengan nasibnya sendiri, tidak lagi bertumpu pada konsensus-konsensus adat yang menyesatkan, seakan-akan dirinya melayang-layang di atas tanah. Bahkan, juga sering mencakar-cakar langit di atasnya.

Ia lupa ibunya, kecuali dongeng yang diceritakan ibunya tentang paman rusa yang sering muncul di bantaran kali untuk melepas dahaga. Ia menunggu rusa yang diceritakan ibunya, sebab kata ibunya dalam dongeng itu, rusa adalah tanda keburuntungan, tanduknya yang menyerupai mahkota raja-raja persia mampu mengubah nasib orang cukup dengan menyentuhnya saja. Tanduk-tanduk itu mampu memancarkan cahayanya sendiri, dan bila cahaya itu disaksikan oleh sepasang mata manusia, maka ia akan betul-betul bertemu dengan kekasihnya. Manusia yang bertemu dengan rusa putih, lanjut ibunya, akan amat beruntung, sebab rusa putih tak lain adalah seorang bidadari cantik-jelita yang ingin melihat keadaan di bumi, di mana menghuni makhluk-makhluk lemah yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Manusia yang bertemu dengan rusa putih akan mendapat kekuatan dari bidadari itu, dan kalau beruntung akan dinikahi sang bidadari.

Anak itu merekam semua dongeng ibunya dalam alam bawah sadar, hingga ketika dewasa, ia membangun kerajaannya sendiri di hutan, memelihara aliran sungai, menanam pohon sebanyak-banyaknya dengan harapan seekor rusa putih akan tersesat di hutan itu, lalu tergoda untuk beristirahat, meminum air sungai yang dipeliharanya berpuluh-puluh tahun, dan bertemu dengannya. Singkatnya ia ingin menikahi bidadari dalam dongeng ibunya. Ia sungguh yakin sang bidadari dalam rupa rusa putih betul-betul akan datang, karena itu ia mulai membangun jerat di pinggir sungai yang teduh, supaya ia tak perlu mengejar rusa putih itu seandainya ia datang dan tergoda untuk beristirahat di pinggir kali. Ia sudah banyak membaca dengan kehidupan para rusa, rusa adalah sprinter, amat sulit mengejarnya jika ia sudah lari.

Rusa pun adalah binatang yang amat sensitif, tanduknya dirancang untuk menyensor kondisi-kondisi di sekitarnya, sehingga tidak heran sedikit saja ada gemerisik semak belukar ia sudah mengambil ancang-ancang untuk lari, bahkan untuk berlari ia tidak perlu mengambil star. Informasi itu didapat sang anak dari buku zoologi yang dicurinya dari perpustakaan kota. Maka ia merancang kanopi yang indah dipinggir kali, menyusun batu-batu penahan menyerupai bendungan, sehingga terciptalah danau kecil yang cukup dalam. Sambil menunggu rusa putih dalam dongeng ibunya, sesekali ia terjun ke danau buatan itu dan mencicipi air itu, merasakannya, apakah sudah cocok bagi seekor rusa putih untuk minum darinya.

Mimpi tentang rusa putih itu makin hari makin membuncah dalam hatinya, sebab beberapa binatang hutan akhir-akhir ini mulai bermunculan di danau itu, ia menunggu-nunggu kapan ada rasa putih yang mampir sehingga timingnya jitu untuk menjerat rusa itu. Membayangkan rencana itu, hatinya berbunga-bunga, senyumnya mengembang selebar kehidupan, malam hari ia tak dapat tertidur pulas, pikirannya menjaring bayangan rusa putih, siapa tahu malam hari ia mendekati tempat itu.

Hari-harinya dilewati seperti itu, beberapa binatang hutan bahkan mulai terbiasa dengan kehadirannya, sesekali binatang-binatang itu mengeluarkan bunyi yang entah apa artinya. Mereka mengenalnya sebagai penjaga danau yang ramah, sebab tak sekalipun dirinya mengusir apalagi berusaha memburu binatang-binatang itu. Saban petang ia kembali ke pondoknya, melirik dari lubang kecil yang dibuatnya ke arah danau, sebelum benar-benar pulas. Itupun, ia tak pernah pulas, dibayangi mimpi tentang sang bidadari dalam dongeng ibunya.

Apakah rusa putih itu benar-benar datang? Terakhir kali aku bertemu dengan anak itu, ia kini tumbuh dewasa, tua dengan rambut putih yang lebih banyak. Ia sudah renta, tak pernah mengalami dunia di luar hutan itu. Dunianya terbilang sempit, dunia hutan, binatang, dan danau ciptaannya, serta dunia dalam pikiran tentang perjumpaan dengan sang bidadari yang juga tak kunjung-kunjung datang atau tak akan datang. Tapi hutan itu terpelihara dengan indah, sejuk bukan main. Beberapa kali kelompok para bidadari dari kayangan datang ke tempat itu, sebab masyurlah cerita tentang hutan dan danau itu di kalangan mereka. Setiap kali mereka datang, mereka melihat seorang pria duduk termenung di pinggir danau, mereka berpikir pria itu akan mencuri baju-baju mereka seperti cerita-cerita yang sering kita dengar dalam kebanyakan dongeng, tetapi tidak juga. Maka tempat itu menjadi tempat favorit para bidadari itu.

Adapun pria itu, ia sudah tua renta, ketika tua tak ada lagi yang patut dipercayai dari dunia, ia merasa dongeng ibunya memang dongeng khayalan sebelum dirinya terlelap di pangkuan ibu, dulu, dulu sekali, tidak kini. Ketika para bidadari asyik-masyuk mandi di danau buatannya di hutan itu, ia melihat mereka. Itu sudah terlalu terlambat untuk menyimpulkan jika mereka adalah bidadari dari khayangan. Terlambat. Terlambat baginya. Ia hanya melihat teman-temannyanya seperti hari-hari sebelumnya, mengeluarkan bunyi-bunyi setelah mereka minum dari sungai itu, sebelum berpamitan darinya, dan datang lagi keesokannya dalam waktu yang sama. Begitu terus. Begitu terus. (*)

*Penulis adalah Alexandro Julio Rebado. Seorang pelajar di SMA Seminari Pius XII Kisol. Saat ini ia masih duduk di bangku kelas X jurusan IPS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here