Bully: Diskriminasi Kecil-Kecilan di Lingkup Sekolah

0
344
Ilustrasi Bully di Sekolah/Sumber:Tempo.co

Fenomena global yang masih mengetengahkan penguatan nilai-nilai universal yakni hak asasi manusia dan demokrasi, muncul bersamaan dengan lunturnya nilai-nilai moral. Hal ini cukup kentara terjadi pada diri para pelajar “zaman now” yang hampir pasti mengenakan identitas atau karakter yang kabur. Karakter atau identitas itu dipengaruhi secara amat kuat oleh arus perkembangan zaman yang tidak terkendali. Karakter atau identitas pelajar berubah seturut derasnya arus perkembangan zaman. Pelajar dihadapkan pada dilema ini: tetap tinggal dalam keterbelakangan dan akan dicap “ketinggalan zaman”, atau memilih mengikuti zaman dengan tawaran-tawarannya yang menghilangkan jati diri seorang pelajar. Hal yang didapat dari dua akibat dilematis ini adalah membiaknya ujaran-ujaran yang tak bersahabat di antara mereka, yang lazim disebut bully. Diskriminasi kecil-kecilan ini, juga sering ditemukan melalui ocehan-ocehan kecil yang meremehkan, kadang juga ditemukan dalam bentuk tindak kekerasan.

Mata Rantai yang Tak Pernah Putus

Di Indonesia, sering ditemukan kasus diskriminasi kecil-kecilan dan yang paling banyak ditemukan adalah di antara sesama pelajar. Sekolah-sekolah yang sering mengalami masalah seperti ini ialah sekolah yang memiliki sistem pendidikan asrama atau barack, seperti seminari menengah dan juga sekolah-sekolah kedinasan, seperti Sekolah Tinggi Pemerintah dalam Negeri (STPDN) dan sebagainya. Di lingkungan seminari menengah, penjajahan atau senioritas merupakan sebuah warisan yang selalu berkonotasi negatif, tetapi selalu dianggap wajar dan biasa-biasa saja. Diskriminasi kecil-kecilan di lingkungan seperti ini biasanya terjadi dalam bentuk penindasan atau pemukulan oleh para senior, sentimen antar angkatan, dan bentuk-bentuk penjajahan lainnya.

Hal ini menjadi suatu warisan atau mata rantai yang tidak akan pernah putus karena setiap orang ingin menjadi atau merasakan kedudukan sebagai seorang senior. Alasan lainnya adalah karena selalu menyimpan rasa dendam kepada senior dan yang sulit atau tidak akan terbatas penindasannya, sehingga mau tidak mau dendam itu dilupakan dan diwariskan kepada angkatan yang berada di bawahnya. Namun, diskriminasi di kalangan ini masih bisa dikatakan berada pada level rendah.

Berbeda dengan lingkungan seminari menengah, sekolah-sekolah kedinasan, seperti STPDN yang tingkatnya lebih tinggi, masalah penindasan atau penjajahan menjadi masalah yang lebih serius dan memerlukan respons lebih dari pemerintah sebagai pencetus utama dari sekolah kedinasan dan juga dari pihak sekolah itu sendiri sebagai penanggungjawab utama. Hal ini dikarenakan, diskriminasi yang terjadi di lingkungan seperti ini cenderung berujung pada kisah tragis dari salah satu pihak. Masalah seperti ini juga terkadang membutuhkan campur tangan dari pihak berwajib, seperti polisi dan sebagainya.

Masalah ini juga sering ditutup-tutupi oleh pihak yang menjadi korban. Masalah ini juga terus berkembang karena rupanya para formator di sekolah-sekolah seperti ini hanya melakukan tindakan-tindakan restitutif, yang hanya berusaha untuk memecahkan suatu masalah, bukannya tindakan preventif yang sifatnya bisa memutus dan menghentikan masalah-masalah seperti ini.

Membunuh Secara Perlahan

Banyak yang mengatakan bahwa globalisasi membentuk orang menjadi lebih individualis. Namun, hal tersebut rupanya tidak berlaku bagi para pelajar, globalisasi malah membuat mereka lebih suka repot. Repot itu menjadi bahaya ketika mereka mulai menilai dan mengoceh setiap kekurangan yang dimiliki orang lain, baik mengejek secara langsung maupun menggosip dari belakang. Lebih parah lagi, ketika hal ini dilakukan dengan sadar dan senang hati, bahkan juga menertawai orang yang menjadi korban. Hal ini secara tidak langsung membunuh karakter orang dan tidak memberinya kesempatan untuk berkembang membuat orang menjadikurang percaya diri, pendiam, dan sebagainya karena terus ditekan dan ditertawakan.

Orang-orang yang menjadi korban terkadang berusaha untuk keluar dari masalah ini dan ingin menunjukkan bahwa sebenarnya ia bisa melakukan sesuatu dan bahkan bisa menjadi lebih dari itu. Hal ini sebetulnya baik, tetapi akan menjadi berbahaya ketika ia berusaha mengembalikan dan menunjukkan jati dirinya dengan cara yang salah, yang bisa berujung buruk. Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini?

Maka setiap pelajar tentunya memiliki keunggulan masing-masing yang patut diapresiasi dan dikembangkan. Para pelajar mestinya saling mendukung dan mengapresiasi kelebihan di antara sesamanya. Hal ini penting dilakukan untuk menyuburkan ide-ide kreatif dan inovatif serta menumbuhkan semangat dalam diri masing-masing pelajar. Hal ini tidak berarti juga bahwa kita tidak boleh mengkritik orang lain. Apresiasi adalah motivasi yang amat penting agar setiap orang mampu menemukan dan mengaktulisasi dirinya dengan positif. (*)

*Penulis adalah Alexandro Julio Rebado. Seorang pelajar di SMA Seminari Pius XII Kisol. Saat ini ia masih duduk di bangku kelas  X jurusan IPS.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here