Chomabee, Usaha Rinho yang Melestarikan Flores

0
1637
Rhino Chomabee di gerai Toko Chomabee Cewo Kaos miliknya yang berlokasi di Jalan Pantai Pede Labuan Bajo/Foto:AIB

Merangkak dari bekerja pada perusahaan desain dan produksi baju kaus di Yogyakarta, Rinho kemudian menciptakan mereknya sendiri dan mengusung kekayaan alam dan budaya Flores. Ia memberi nama Chomabee untuk karyanya dan telah membuat 400 lebih desain baju kaos sejak tahun 2009 hingga kini.

Sembari menanti pembeli berdatangan di tokonya, Jovially Satriano Valentino lebih banyak menghabiskan harinya di meja kerja yang terletak di belakang toko miliknya yang berlokasi di Jalan Pantai Pede, Kota Labuan Bajo. Di ruangan persegi panjang tersebut, terdapat beberapa unit alat pendukung untuk membuat baju kaus, di antaranya, baju kaus polos, satu unit komputer, mesin plotler, mesin press kaus, dan peralatan pelengkap lain seperti gunting dan penggaris.

Rinho, begitu ia akrab disapa, menjalankan usaha di bidang fotografi, desain grafis, dan baju kaus dengan merek Chomabee. Nama Chomabee ini pun memiliki makna dan harapan yang dalam bagi sang pemilik. Ia mengatakan, kata Chomabee berasal dari dua suku kata yakni Choma dan Bee.

Choma berasal dari nama kakek buyutnya yakni Cosmas. Ia menuturkan, karena kebiasaan orang Manggarai mengubah nama orang terdekatnya sebagai panggilan sehari-hari, konon sang kakek Cosmas sering dipanggil Choma. Selain itu, Rinho juga mengagumi Santa Cosmas yang merupakan seorang martir Katolik kelahiran Arab. Sedangkan Bee, berasal dari Bahasa Inggris yang berarti lebah.

“Lebah kan menghasilkan madu, dan madu tidak pernah basi,” ucapnya.

Sementara itu, ketiga bidang usaha yang dikembangkannya punya nama-nama berbeda, yakni; Chomabee Wotoworks untuk fotografi, Chomabee Cewo Grapich untuk desain grafis dan khusus untuk toko baju kausnya, dia beri nama Chomabee Cewo Kaos. Kata cewo diadaptasinya dari bahasa Manggarai yang berarti sarang.

Rinho Chomabee berpose di depan tokonya yang berlokais di Jalan Pantai Pede Labuan Bajo/Foto:AIB

Kepada Flores Muda, Rinho lebih banyak bercerita tentang usaha desain grafis dan baju kaus miliknya. Ia mengaku mulai bekerja membuat desain baju kaus dan mencetaknya sendiri sejak di bangku kuliah. Saat itu, pria kelahiran 12 Mei 1987 ini sedang menempuh pendidikan di dua tempat sekaligus yakni di STMIK Amikom Yogyakarta yang kini menjadi Universitas Amikom Yogyakarta dan ASRD Modern School of DesignYogyakarta.

Memulai usahanyapun, Rinho mengaku berawal dari nol. Meski sedang bergabung bersama teman-temannya, ia memasarkan baju kaus dengan desain karyanya sendiri. Saat itu, modal diambil dari keuntungan yang ia peroleh.

“Mulai saat itu, saya mulai jualan brand. Diawali tanpa modal. Cara saya, setiap ada pesanan orang, yang jadi keuntungan tidak saya ambil dalam bentuk uang tapi saya jadikan baju kaus desain saya sendiri,” bebernya.

Setelah menyelesaikan kuliah, Rinho yang sesungguhnya lahir di Ruteng, Kabupaten Manggarai, memilih kota Labuan Bajo untuk menjalankan usahanya. Ia mengontrak lahan kecil di Jalan Pantai Pede Labuan Bajo. Modal awal untuk membuat bangunan dan mempersiapkan baju kaus diperolehnya atas bantuan orang tua. ia pun menjual kaus dengan desain sendiri dengan harga berkisar Rp90 ribu sampai Rp150 ribu.

“Saya pilih Labuan Bajo, karena prospek ke depan saya sudah melihat bahwa Labuan Bajo adalah kota yang berkembang dari kota yang biasa saja,” terangnya.

Rinho Chomabee di ruang kerjanya/Foto:AIB

Perjalanan usahanya pun tidak selalu berjalan mulus. Rinho seringkali menghadapi beberapa tantangan yang menguji ketahanannya dalam berwirausaha. Namun, bagi pria yang juga suka membaca ini, yang terpenting adalah mencintai apapun yang dikerjakan. Ia mencintai seni desain dan usaha baju kaus. Hal tersebut yang membuatnya tetap teguh dan senang menjalankan usahanya tersebut.

“Pasti pernah jatuh. Misalnya, sering apa yang diprediksi salah. Membuat kaus ini kan seperti judi. Pernah terjadi, buat desain dan jual sampai puluhan tapi tidak ada yang beli, itu kan sakit. Ketika kamu buat desain baju dengan persediaan sedikit, di situ sakit hati juga karena tidak buat banyak. Terus yang berikutnya beberapa kali kerjasama membuat baju tapi tidak dibayar sampai skrang. Itu biasa terjadi,” ungkap Rinho.

Lihat juga: Suara Entrepreneur Muda Rino Chomabee

Rinho pun melakukan berbagai cara agar terus semangat menjalankan usaha dan berkarya. Selain dengan membaca berbagai hal yang bisa membuatnya termotivasi, ia juga seringkali mengingatkan diri sendiri. Salah satu caranya dengan menempel kalimat pertanyaan yang menantangnya untuk berkarya setiap hari di meja kerjanya.

Sejak membuka usaha tersebut, Rinho juga memanfaatkan media sosial untuk promosi. Ia mengakses seluruh media sosial seperti facebook dan instagram untuk memperkenalkan pakaian hasil desainnya sendiri yang dia jual di toko. Dari situ, banyak pembeli berdatangan dan memberi keuntungan serta kecukupan untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk mengembangkan tokonya.

“Puji syukur banyak yang beli, baik orang lokal maupun dari luar. Bule juga sering beli di sini.”

Untuk saat ini, tokonya bisa memproduksi 400 sampai 500 kaus dalam sebulan. Selain membuat pakaian hasil desain sendiri untuk mengisi toko, Rinho juga melayani desain dan cetak pakaian dari luar. Ia pun sering kali diminta untuk membuat logo dan stiker. Karyanya sudah banyak dibeli dan dipakai orang di sekitar Labuan Bajo maupun dari luar baik itu wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Pengembangan ke depan, saya mau Chomabee menjadi brand Labuan Bajo, lebih umumnya Flores. Kalau untuk kuantitas dan kualitas saya ingin keduanya beriringan,” harap pria jangkung ini.

Kekuatan Besar Chomabee

Dua baju kaus yang didesain Rinho Chomabee dan dijual di toko Chomabee Cewo Kaos yang berlokasi di Jalan Pantai Pede Labuan Bajo/Foto:AIB

Rinho percaya bahwa baju kaus menjadi salah satu media promosi yang murah. Ia berprinsip, pakaian yang dikenakan manusia adalah identitas sang pemakai. Melihat ini, ia pun mengusung suatu usaha yang tidak hanya sekedar menjual estetika desain, tetapi juga punya kekuatan untuk mempromosikan dan melestarikan kekayaan budaya dan alam Flores khususnya Manggarai. Ini menjadi kekuatan terbesar dari Chomabee.

Lewat desain-desain yang dia jual pada media baju kaus, desain Rinho banyak memuat konten-konten yang menunjukkan jati diri Flores. Untuk di toko Chomabee, ada tiga jenis tema desain yang ia tampilkan yakni objek wisata seperti Komodo, kebudayaan Manggarai seperti tarian Caci, dan ungkapan atau pepatah Manggarai yang sudah jarang terdengar oleh generasi muda masa kini.

“Saya berprinsip bahwa saya punya brand! Di sini ada kekuatan brand. Brand dalam artian bahwa, ini loh local power! Brand saya Manggarai atau Flores itu. Kaus bisa menjadi media identitas ketika saya menjual ide-ide dengan memuat konten yang benar-benar menunjukkan jati diri saya sebagai orang Flores khususnya Manggarai. Apalagi saya lahir di Manggarai. Saya akan membuat kaus, kaus Flores serakat-rakatnya, kaus Flores semengger-menggernya,” tegasnya.

Ia pun melanjutkan, kelebihan tersebutpun yang membuat usahanya tetap berjalan dan mampu mendapat pasar khususnya di tanah Flores. Ia memuat tema yang lebih spesifik.

“Kalau saya buatnya sama seperti desain distro kebanyakan, pasti saya kalah,” ucap dia.

Beberapa karyanya yang banyak terjual adalah baju kaus dengan desain bertuliskan “I’m Flores”. Ia sudah mengeluarkan hampir 6 jenis desain untuk tulisan tersebut dengan angka penjualan yang cukup tinggi dibandingkan desain yang lain. Yang berminat pada karya yang satu ini bukan hanya pembeli yang berasal dari Flores, tetapi juga dari luar daerah termasuk manca negara.

“Berkat kaus pun, orang yang tidak suka (tarian) Caci, akan suka Tarian Caci. Dalam artian begini, kaus kan media promosi paling murah, ketika anda pakai kaos, anda sudah bicara,” tutupnya dengan ekspresi sungguh-sungguh. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here