Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan

0
651
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Perkembangan dunia global yang diwarnai dengan menguatnya teknologi canggih merupakan basis masalah yang sering dihadapi dalam dunia pendidikan dan kebudayaan. Siklus berkembangnya arus globalisasi secara nyata meluas dalam sistem digitalisasi. Mentalitas khalayak pada saat tertentu digiring menuju titik akhir yang berciri instan atau dengan kata lain mau hidup nikmat dan santai tanpa usaha. Fenomena ini rentan berkembang di dalam satuan-satuan pendidikan.

Hal ini menjadi fenomena krusial di kalangan para praktisi pendidikan karena secara pelan namun pasti tengah mereduksi nilai-nilai di balik etika pendidikan. Sebagian besar peserta didik pada zaman ini lebih tergiur dengan tawaran media-media online ketimbang menggumuli secara langsung budaya literasi pada pojok-pojok taman baca. Kekuatan dunia online mempermudah peserta didik di semua jenjang pendidikan untuk mengakses informasi dan hiburan-hiburan maya lainnya. Kelekatan dan kedekatan pada media online inilah yang kemudian menyekap ruang gerak peserta didik pada lingkup sosial yang sempit. Aspek kognitif mereka menjadi statis dan sulit mengalami perkembangan. Karena hal terbesar yang menjadi sebab di balik stagnannya aspek kognitif mereka adalah budaya plagiasi. Budaya plagiasi dalam konteks kekinian, sudah menjadi perhatian serius dalam berbagai jenjang pendidikan karena dapat mengeliminasi aspek psikoemosional peserta didik. Sebab mental ala plagiator tidak pernah membantu perkembangan aspek kognitif dan afektif siapa pun dalam menggeluti ilmu pengetahuan dan juga melebur dalam keragaman budaya. Selain tumbuh-suburnya mental plagiasi, ada pula fenomena lain yang menjadi tendensi kelam munculnya iklim reduktif dalam dunia pendidikan.

Sepintas kita mencermati situasi dalam dunia pendidikan saat ini, kita menemukan banyak permasalahan yang sulit untuk dijelaskan. Pendidikan karakter perlahan-lahan hilang dalam setiap literatur pendidikan. Kegiatan belajar mengajar cenderung mengedepankan unsur teoritis dan tidak diimbangi dengan program-program rekreatif atau berciri praktis-aktual. Sebab pendidikan itu bukan sebatas teori yang memperkaya logika seseorang, melainkan juga soal praktek hidup yang membantu seseorang menemukan identitas dirinya dalam setiap kultur atau budaya di mana seseorang itu berada. Aspek formalitas pendidikan bukan yang utama, melainkan terpenting pendidikan luar ruangan atau bersentuham langsung dengan lingkungan. Pendidikan karakter, pola didik dan ajar yang kohern sangat dibutuhkan karena menjadi karakter utama setiap orang mengalami dari dekat budaya atau adat-istiadatnya.

Kompleksitas dunia pendidikan saat ini sudah menjadi trend publik yang sedang diragukan. Reputasi pendidikan kita dalam beberapa dekade terakhir masuk dalam catatan dan penilaian krusial oleh para pakar pendidikan baik bertaraf nasional maupun internasional. Tentu ada aneka permasalahan yang menjadi alasan utama lahirnya potret pendidikan yang tak lagi diandalkan dan disanjung banyak kalangan.

Ketika kita mencermati fenomena tersebut, ada sebab yang melahirkan akibat dari situasi batas dalam dunia pendidikan. Sebab penting yang selalu disiasati dalam dunia pendidikan saat ini adalah sistem pendidikan yang diterapkan dalam jenjang-jenjang pendidikan. Banyak sistem pendidikan yang diterapkan cenderung berseberangan atau bertolak-belakang dengan sistem budaya atau kearifan lokal di mana panti pendidikan itu berada. Fenomena kontradiktif ini muncul karena basis formal pendidikan yang syarat unsur teoritis lebih dominan dan mengabaikan pola didik dan ajar yang melibatkan praktek langsung lapangan. Akibatnya, mental peserta didik dalam berbagai satuan pendidikan menjadi kerdil, minim kreativitas, arogan, kompromistis, dan nihil etika. Akibat inilah yang paling nyata kita temukan ketika para peserta didik melebur dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan. Motif kelam yang menjadi penanda minimnya peran serta peserta didik dalam sistem-sistem kebudayaan adalah kurang percaya diri atau pesimistis dalam berbaur dan berkarya. Akibat lain yang muncul dari semua permasalahan di atas bisa kita temukan ketika ada hajatan publik yang melibatkan peran-serta peserta didik. Peserta didik bisa melebur dalam budaya ketika mental mereka sudah diperkaya dengan bius kesadaran nikotin dan alkohol. Oleh karena itu, banyak pakar pendidikan menilai bahwa prospek pendidikan saat ini hanya melahirkan generasi yang kaya dalam aspek kognitif tetapi tidak dalam aspek afektif, psikoemosional, bahkan dalam aspek spiritual. Perlu ada kesinambungan atau kelekatan secara horisontal di antara aspek-aspek dimaksud.

Mendominasinya pola didik dan ajar yang terlalu formal di ruangan kelas, pada akhirnya melahirkan banyak situasi permisif. Karena itu, dibutuhkan kecerdasan sosial untuk mengkonfrontasikan sistem dan pola pendidikan dalam situasi-situas riil. Jika sebelumnya lebih mengutamakan metode pendidikan yang formal dan berbasis teori, maka kini saatnya diarahkan pada basis pendidikan yang berbaur atau melebur secara langsung dengan budaya-budaya secara praktis. Hal ini sebagai salah satu langkah menguatkan pendidikan dan memajukan kebudayaan. Sebab korelasi antara pendidikan dan kebudayaan saling megandaikan. Seseorang dikatakan adab dalam berbudaya jika orang itu sudah diperkaya dengan pengetahuan soal budaya. Maka muncul istilah budayawan atau budayawati bagi sebagian kalangan yang memberi perhatiannya pada perkembangan kebudayaan. Pendidikan itu memang urgen dibutuhkan sebagai penunjang setiap generasi membuka cakrawala pemahman dalam menggumuli dan mengembangkan kebudayaan. Sebagai upaya memajukan kebudayaan di zaman ini, maka upaya konkret dalam sistem dan pola pendidikan harus direvitalisasi sambil mengklarifikasi dan mengadopsi sistem-sistem pendidikan baru yang benar-benar relevan dan kontekstual menjawabi perkembangan zaman. Proses revitalisasi atas pola dan sistem pendidikan sangat urgen karena menentukan arah ke mana sebuah budaya dikembangkan dan dilestarikan secara berkesinambungan.

Upaya revitalisasi harus disertakan dengan aksi verifikasi secara komprehensif. Proses verifikasi menegaskan betapa pola pendidikan sangat penting dikedepankan untuk mempelajari budaya dan kebiasaan hidup yang lain. Dengan demikian, upaya untuk menguatkan pendidikan dan memajukan kebudayaan bisa terjawab tuntas. Berhubung, sistem kultur atau budaya itu bersifat dinamis, perlu diprioritaskan keterlibatan semua elemen masyarakat. Keterlibatan dan keberpihakan dibebankan kepada seluruh masyarakat karena budaya tidak menegasikan ras, agama, maupun golongan. Atensi masyarakat harus selektif diarahkan sebagai penunjang membuka peradaban sosial baru yang mengkohesikan nilai-nilai pendidikan dengan kebudayaan manapun. Diharapkan semua pihak terkait dan elemen masyarakat seluruhnya berpartisipasi aktif dalam menguatkan pendidikan dan memajukan kebudayaan. Proyeksi kita bisa jadi berbenturan dengan perkembangan dunia modern. Namun, optimisme penting diprioritaskan untuk membentuk prospek dan aksi-aksi praktis dalam menjawabi kebutuhan dunia pendidikan dan berkembangnya pola-pola kebudayaan. Kita tidak hanya berkutat bangga di atas kertas berimbas teori, tetapi perlu melebur dan berbaur langsung dengan budaya. Sebab dari dan di dalam budaya, kita menemukan identitas sosial kita sesungguhnya. Kebudayaan adalah karakter atau ciri khas kehidupan kita. Saatnya kita sepadankan prospek pendidikan dengan nilai-nilai kebudayaan di zaman ini. Kita terus melebarkan imajinasi untuk menemukan realita yang mumpuni agar pada waktunya kita bisa menepuk dada dan berbangga, bahwa di balik pengetahuan teoretis, kita pun kaya dalam berbudaya.(*)

Yandris Tolan

 

*Penulis adalah Yandris Tolan. Seorang alumni Seminari San Dominggo Hokeng yang berdomisili di Kota Larantuka, Flores Timur.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here