(Cerpen) Magdalena: Mari Pulang

0
205
Ilustrasi/Sumber: pixabay.com

Saat itu, aku terpaksa bangun walau sekujur tubuhku masih terasa bandel disiksa oleh kantuk. Kasur empuk rupanya gagal membuatku merasa nyaman berbaring lagi. Ruangan serba harum nan asri itu pun tak sudi lagi membendung khayalanku yang sudah berkeliaran tak tau arah entah ke mana. Suasana malam menjadi sepi yang membuat seluruh tubuhku digigit oleh rasa takut dalam kesendirian. Apalagi mataku pun sudah tak mau lagi memeluk malam itu.

Magdalena, nama itu kurekam amat jelas hingga kini. Samar-samar namun lembut. Sebanyak tiga kali dia panggil. Ya memang tiga kali tidak kurang dan tidak lebih. Magdalena, itulah nama yang dipanggil oleh pria kumis dan berambut panjang itu. Suaranya lembut. Matanya indah seindah rembulan di langit sana. Barangkali tiga puluh tiga tahun umurnya. Ya mungkin. Dia, pria tampan yang belum kujumpai dalam hidupku. Walau sekejap, senyumnya telah menghangatkan jiwaku yang semakin layu menggersang. Magdalena itu nama yang malam itu dia sapa. Tapi siapa Magdalena? Aku? Bukan! Aku Anna. Tapi kenapa, tiba-tiba aku panggil Magdalena ya. Aneh benar. Betul saat itu, hanya aku perempuan seorang diri, tidak ada yang lain. Dan yang aku tahu di samping dan belakangku hanya beberapa pria tampan. Ya mereka, pria yang pernah kukenal dan datang mengisi masa laluku. Ah sudahlah, kan cuma mimpi. Tapi mengapa Magdalena. Aku? Bukan!

Malam itu, aku baru saja tersadar oleh mimpiku. Ya mimpi tengah malam. Mimpi dipanggil oleh pria berbadan tinggi. Walau belum seberapa tapi ia tampil begitu anggun. Karakternya juga cerdas apalagi ditambah dengan jubah putih yang melilit di tubuhnya. Tak heran jika aku disiksa rindu yang sangat padanya. Dia telah membawa setengah dari malamku berlalu dalam sesal yang dalam sebab aku semakin tergila padanya. Barangkali dia ramah orangnya.

Saat itu aku memang ingin memadangnya lebih lama namun ia menghilang dalam sekejap. Dari mana asalnya aku juga belum tahu, karena setelah tak banyak basi-basi ia memilih meninggalkan aku dalam kebisuan malam. Namun, sebelum menghilang, ia sempat menatapku dengan tatapan yang paling manja namun tajam. Sebuah tatapan yang seakan memastikan kesungguhan niatku untuk melebur lalu tenggelam dalam hatinya. Aku sampai kewalahan padanya, karena tak terbiasa dengan tatapan setajam itu. Jujur saja, tatapannya telah membuatku jatuh cinta padanya.  Kini kerinduanku mulai memuncak setelah kepergianya. Ah, semoga dia kembali menemuiku malam ini. Mudah-mudahan.

Setelah ia lenyap di pekatnya malam, aku mulai pelan-pelan mengubah posisi tidurku dengan agak sedikit menyamping. Dengan maksud bahwa saat datang, ia akan tepat di depanku. Nanti kami; aku dan dirinya, akan saling berhadap-hadapan. Lalu setelah beberapa menit, aku tertidur dalam pelukanya. Ah, indah sekali. Sebuah perjumpaan ilusif yang mengasikkan.

Jarum jam di wekerku bertengger tepat di angka tiga. Sebuah angka keramat. Akupun teringat bahwa malam itu, Jumat Kliwon. Jumat yang seram. Kata orang bangun tengah malam di malam Jumat itu tidak baik. Yang pasti bahaya sudah di ujung hidung. Maut kematian segera akan tiba.

Ah, kematian, aku belum siap. Aku masih ingin hidup seribu tahun lagi! Pinta ku tegas. Malam itu, aku tidak mau peduli bahwa kematian adalah hal yang pasti dalam hidupku. Aku tahu sejak aku lahir, kematian pun sudah membayang-bayangi hidupku. Namun waktu itu aku mau bandel sedikit dengan kematianku.

Perasaanku campur aduk dan macam-macam. Di otakku hanya setan, dan maut. Pasti aku akan mati malam ini. Oh Tuhan, ijinkanlah aku berjumpa dengan dia satu kali lagi. Biar cukup sekali saja. Please! Aku hanya ingin tanya kenapa aku disapa Magdalena? Itu saja. Namun bila sebentar dia tak datang lagi dan berpisah dari malamku, aku akan tetap setia menanti jawabannya. Bila memang ini ujung hidupku, maka mulai malam ini dia akan selalu dalam jiwaku. Walau dunia kami berbeda. Itu semua yang ada dalam otak di malam bisuku.

Tubuhku yang sempat hangat sejak beberapa jam sebelumnya perlahan-lahan mulai berubah menjadi panas yang semakin mendidih. Keringat besar-kecil pun dengan ganas membasahi tubuhku. Kamarku semakin seram. Seakan-akan sesuatu akan terjadi. Dan prak!!! Tiba-tiba seekor tokek bunting jatuh pas di kakiku. Spontan suaraku meledak memecah kebisuan malam itu. Sial, sial, sial!

Sedikit demi sedikit kutarik selimutku. Aku tahu hari esok masih terlalu jauh untuk dijemput. Malampun masih nyenyak di pembaringannya. Namun mataku tak mau damai pada hasratku. Kini hanya aku dan malamku yang masih terjaga. Aku bagaikan penjaga malam. Mungkin lebih tepatnya satpam.

Wajah pria itu masih nongol di lubuk mataku. Dia seakan masih berdiri melirikku dalam diam. Tetapi itu hanya pikiranku yang semakin ngawur. Dia mungkin pria yang paling tahu tentang seluruh diriku dan masa lalu. Dia mengerti kalau dari dulu aku memang sudah terbiasa untuk tidak tidur di waktu malam apalagi pada jam seperti ini. Memang ini adalah jam kerja yang sangat mengasikkan buat diriku dan beberapa sahabat-sahabatku. Biasanya pada jam begini aku masih asyik bergoyang-ria dengan para tamu di rumah berlapis baja bak gudang itu. Hampir setiap malam ada tamu yang kulayani. Mungkin karena bentuk tubuhku yang sedikit indah dan seksi inilah yang barangkali membuat para tamu ingin dilayani sampai pagi. Ya, demikian.

Kadang aku berpikir untuk tidak pergi lagi ke tempat itu sebab di sana aku akan jatuh ke jurang yang semakin dalam. Tetapi memang aku sendiri sudah tak mampu lagi membendung keinginanku. Aku memang sudah diborgol oleh uang, alkohol, obat-obatan terlarang, dan kenikmatan yang mengasikkan itu. Itulah dunia saat itu. Barangkali itu menjadi alasan kenapa aku terjaga tadi. Barangkali tak salah jika pemuda ganteng itu datang menjengguk malam itu. Mungkin dia sudah lama sedih dan tak sanggup melihat aku hidup dalam keadaan seperti itu. Sebab hidup seperti itu akan membuatnya tersiksa dan semakin tersakiti. Mungkin itu caranya mencintaiku. Dia mencintaiku lewat mimpi tengah malam. Itu hanya dugaanku yang sedikit ngawur. Tapi bisa benar juga.

Malam masih sangat dewasa dan aku masih terjaga. Dingin pun tetap terasa. Malam itu hanya ada sunyi yang masih erat memeluk malam. Tidak ada yang lain. Dan memang setengah dari malamku sudah dirampas oleh pria misterius berhidung mancung itu. Dia datang dan pergi tanpa pamit. Bahkan seenaknya. Semaunya.

Sampai detik ini kata-kata pria perampas malamku itu belum mau keluar dari kupingku. Masih terus mengomel. Membangunkanku di tengah malam seperti ini hanya membuat hatiku semakin pilu sebab ia telah memaksaku untuk menjenguk kembali masa laluku. Ya, masa lalu yang punya sejumlah catatan kumal. Aroma dan tetesan busuknya masih deras mengalir di sana. Serpihan-serpihan tangis juga masih menganga. Semuanya tidak akan bisa dibohongi lagi. Ya memang demikian. Masa laluku memang ibarat kertas yang dipenuhi tinta berwarna, diremuk lalu dilempar ke sampah.

Dulu aku dibesarkan dalam kelurga Muslim yang cukup sederhana. Kami hidup bahagia dan ramah seadanya. Ayah dan ibu sangat setia beribadah setiap hari. Bukan menjadi rahasia lagi kalau para tetangga, memandang orang tuaku sebagai orang yang taat beribadah. Aku sangat beruntung memiliki mereka yang dipandang penting dan agamawan oleh warga sekitar kami.

Waktu itu, saat pagi mulai beranjak dewasa dan umurku melangit aku pelan-pelan mengenal percintaan. Aku tumbuh sebagai seorang gadis yang cantik lagi seksi. Tak heran kehadiranku dimana saja selalu memancing banyak tatapan yang memaksa mereka lama untuk berkedip.

Terkadang dalam diam aku bilang, “Dasar tidak pernah melihat gadis cantik!” Aku kadang sedikit sombong dan memuji diriku. Karena jelita wajahku, pelan-pelan aku mulai familiar dan tenar di banyak kalangan. Saat kakiku menginjak enam belas tahun, aku pun jatuh cinta pada pandangan pertama.

Aku jatuh dalam pelukan seorang pria tampan yang kemudian menjadi suamiku. Namun hubungan kami justru tak direstui oleh orangtuaku. Mereka merasa bahwa aku tidak pantas dinikahi oleh pria yang kemudian menjadi suamiku itu. Waktu demi waktu berlalu, kami dikaruniai seorang putri manja nan cantik seperti diriku. Namun perjalanan hidup kami terasa semakin berat dan suamiku memilih pergi dari hidupku dan anakku.

Aku lalu dipaksa menjadi single parent untuk putriku. Mulai saat itu, aku hidup dalam galau yang dalam. Suram dan sulit menjari teman yang setia menemani hari-hariku. Pedih memang terasa pedih jalan hidup kami. Mulai saat itu aku tidak tau bagaimana meneguk hidup bahagia. Cintaku mulai bingung melangkah dan menemukan hidupnya. Yang aku tahu hanyalah kesadaran bahwa aku dan pria itu sudah berbeda. Aku memang tak pernah betul-betul memiliki dia. Ia sebenarnya tidak bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Sebab cinta itu milik aku dan dirinya bukan orang tuaku. Tapi begitulah hidupku.

Entah apa yang mendorongku waktu itu, tanpa berpikir panjang, aku mulai menelusuri sebuah jalan yang paling sempit, terjal bahkan fatal. Aku memilih pergi dari rumah dan hidup semauku. Aku tahu keputusanku untuk pergi meninggalkan anak dan orangtuaku adalah keputusan yang paling tidak benar namun hanya dengan cara itu aku bisa melupakan segala dan semua yang membebani hidupku. Aku paham kalau kepergianku saat itu menjadi pilu bagi putri semata wayangku. Namun bagiku hanya itu kemungkinan terbaik.  Meninggalkan dia sendirian menjadi cara terbaik agar dia tidak perlu tahu tentang derita hidupku. Sebab semakin dia jauh dari hidupku semakin dia jarang melihat air mata pedih jatuh meleleh di pipiku. Semakin aku jauh, semakin banyak pula kesempatan baginya untuk tidak melihatku sedih dan marah-marah. Itu cara pikirku saat itu walau memang sangat tidak masuk akal bagi kebanyakan orang.

Suram hidupku semakin dalam. Berada jauh dari rumah semakin membuatku tak terkontrol. Bahkan sepi, pilu, dan resah yang semakin menyiksa batinku.

Di tempat tinggal yang baruku, aku kemudian berkenalan dengan seorang pria yang katanya ingin mencintaiku sampai akhir hayat memisahkan kami. Namun setelah ia mendapatkan segalanya dariku, atau tepatnya setelah cinta kami menghasilkan buah ia mengkianatiku tanpa ampun. Aku dipaksa untuk memetik dan membuang buah cinta kami. Sebagai seorang perempuan yang tak berdaya aku pun menurutinya. Petik dan buang. Sadis sekali. Sejak saat itu aku menjadi sadar bahwa janjinya itu hanya omong kosong belaka. Dia biarkan aku remuk dan pecah berkeping-keping lalu jatuh sampai ke dasar samudera.

Saat itu aku semakin sadar bahwa tak ada yang baik lagi yang bisa datang dari hidupku. Hariku sudah malam bahkan larut. Pintu maaaf serta sinar kebaikan sudah redup oleh kabut keegoanku. Dan pada akhirnya aku terjebak dalam pekerjaan malam. Ya, dunia malam itu rutinitas terakhirku. Saat hari sudah mulai senja dan perlahan-lahan menjadi malam aku bangkit dan mengarungi malam dalam dentuman musik yang amat, lalu tenggelam dalam kenikmatan alkohol serta obat-obatan yang membuatku kadang tak sadar diri. Semuanya menjadi pekat.

Setiap malam seperti itu. Sejak saat itu aku tinggal dalam dunia yang berbeda. Dunia yang gelap gulita. Aku semakin menyendiri dan tak berani berelasi dengan sahabat-sahabatku di luar sana apalagi tampil di tempat umum. Duniaku hanya sebuah kamar berukuran kecil dengan tempat tidur seadanya lalu ditambah dengan lampu kerlap-kerlip dan kadang remang-remang. Begitu saja. Tak heran jika orang akan dengan mudah mencibirku kalau mereka mendapatkan aku keluar dari tampatku. Situasi piluku ini tak diketahui oleh orangtuaku dan apalagi anakku. Pilu ini kadang meleleh lewat air mata di tempat tidurku. Aku hanya berharap supaya anakku tak akan pernah tahu tentang siapa diriku serta semua yang pernah ada di masa laluku.

Tapi rasanya sulit. Sebab aku tahu bahwa yang busuk pasti akan tercium. Orang bilang walaupun kebohongan itu berlari secepat kilat tetapi satu waktu ia akan dikalahkan oleh kebenaran. Namun yang tentang hidupku biar cukup aku dan Dia yang tahu, jangan anak dan orangtuaku.

Itu semua bayangan yang menggerogoti seluruh pikiran sejak ditinggal oleh pria berambut panjang itu. Saat itu aku sudah tak tidur sampai pagi menjemputku. Sepanjang malam sejak kepergian pria itu, aku dibiarkan sendirian tanpa ditemani oleh siapa-siapa. Hanya aku dan malam bisu.

Malam itu sedikit kejam sebab aku dipaksa untuk membolak-balik lagi masa laluku. Sebuah masa lalu yang pelan-pelan coba kusembunyikan walaupun baunya masih terasa. Sejak aku terbangun, mimpi itu masih terus menusuk ingatanku. Dia seakan-akan memaksaku untuk mencari tahu artinya.

Sejak bangun, dalam otak hanya Magdalena dan pria itu. Aku memang sempat berpikir untuk tidak menghiraukannya tetapi aku tiba-tiba memberanikan diri untuk keluar rumah dan meminta tetanggaku menafsir mimpiku itu. Kira-kira hari belum terlalu siang. Usianya masih mau beranjak dewasa. Saat itulah aku pelan-pelan menceritakan dan menanyakan semuanya tentang arti mimpi itu kepada tetanggaku.

“Bu, Magdalena itu siapa?” Tanyaku pelan.

“Oh, Magdalena? Kalau di dalam Kitab Suci, dia itu perempuan pelacur yang diampuni Yesus.”

Aku gemetar menahan pedih dalam diam.

“Bu, Yesus itu siapa?” lanjutku

“Bagi orang Katolik, Yesus itu Tuhan dan Penyelamat yang mati di salib untuk menebus dosa manusia termasuk saya dan kamu.”

Saat itu, aku cepat-cepat masuk ke kamar dan mulai berteriak serta menangis sejadi-jadinya. “Yesus, Maafkan aku!!! Yesus, tolonglah aku orang hina dan berdosa ini!” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutku.

Sejak saat itu aku berusaha mendekati mereka yang berjubah. Melalui mereka aku mulai mengerti maksud dan tujuan mimpi itu, juga pria berkumis itu. Dia memang pria yang paling tahu tentang siapa aku dan juga masa laluku. Dia ingin aku berbalik arah dan menanggalkan semua yang pernah ada lalu mencintainya mulai dari malam itu sampai selama-lamanya. Aku baru sadar akan tatapan serta tiga kali panggilan-Nya pada malam itu. Dia memanggilku untuk pulang padanya. Dia ingin aku sadar bahwa masa lalu yang buram dan suram itu tak akan pernah sebanding dengan pengorbanan-Nya di puncak Golgotha.

Hari demi hari aku mulai akrab dengan Alkitab, sebuah buku yang begitu asing di masa laluku. Namun aku coba mengakrabinya bahkan tidur dalam pelukannya. Di dalam buku itu aku mulai menemukan betapa dahsyat kasih dan kerahiman Allah bagi manusia. Kasih Allah itu tanpa jeda dan tak kenal lelah. Dia bukan tipe Allah yang marah, dendam dan apalagi haus darah. Dia adalah Tuhan yang Rahim dan panjang sabar serta besar kasih-Nya.

Hari demi hari, tak henti-hentinya aku membaca kisah Magdalena, perempuan malang itu. Kadang aku menangis menahan sedih sebab kisah Magdalena adalah kisah diriku yang pedih. Kisah diriku yang boleh dibilang mengerikan. Memang suram dan gelap.

Beberapa bulan kemudian tepat di sebuah pagi, saat fajar mulai bercahaya dengan manja lagi cerah, di ujung bukit aku memutuskan untuk berjumpa dengan seorang imam. Ia yang kemudian mengabulkan permintaanku untuk menjadi seorang Katolik.

Saat sebelum hari Paskah hampir tiba, aku membulatkan semua niatku. Niat untuk menjadi manusia baru. Dan aku tahu pria yang menemuiku dalam mimpi akan segera wafat untuk membayar semua dosa manusia termasuk dosaku yang malang ini.

Berhari-hari selama pekan suci, aku menangis sejadi-jadinya. Satu sisi aku menahan sedih namun di sisi lain, aku menangis menjemput sukacita yang besar sebab aku yang tak berdaya ini dimaafkan tanpa syarat. Dia, Yesus yang aku jumpai dalam mimpi malam itu dengan tangan terbuka menerima aku dengan cinta-Nya yang luar biasa. Itulah cinta salib Tuhan.

Tepat malam Sabtu Kudus di hadapan Gereja aku berjanji untuk mencintai Yesus selamanya. Aku dibaptis menjadi seorang Katolik. Mulai saat itu aku semakin yakin bahwa tidak ada orang kudus yang tidak punya masa lalu dan tidak ada orang berdosa yang tidak punya masa depan. Dalam Yesus selalu ada jalan. Itulah Salib dan Paskah Tuhan.  Dan sebagai ungkapan cintaku pada-Nya, aku ingin menitip sederet kata-kata ini:

Yesus, mencintai-Mu adalah bahagiaku yang tiada bertepi,

Memilikimu adalah kerinduanku yang terwujud,

Kehilangan-Mu adalah hadirkan sedih yang tak diharapkan ada, 

Dikau adalah adalah awal dan akhirku,

Dikau adalah cinta yang tak pernah padam

Dikau hadir saat aku semakin tak berdaya

Dikau hadir saat aku merindu-Mu di mana dan kapan saja

Dikau cinta sejatiku, selamanya.(*)

 

Marsel Koka

*Penulis adalah Frater Marsel Koka, RCJ dari Rio-Riung Barat, Kabupaten Ngada. Saat ini penulis tinggal di Biara Rogasionis, Maumere-Flores.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here