Menulis Membuatmu Dikenang

1
264
Ilustrasi/Sumber: viva.co.id

Menulis adalah kegiatan yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Semua orang bisa menulis. Menulis tidak hanya tentang ilmu pengetahuan yang rumit, tetapi juga pengalaman hidup sehari-hari dan dikemas dengan cara yang menarik. Namun untuk menghasikan tulisan yang enak dibaca dan ditunggu-tunggu para pembaca, tidak semua orang dapat melakukannya. Untuk itu, aku mau berbagi tips menulis buat teman-teman.

Pertama, tidak ada yang gratis di dunia ini. Untuk mengembangkan potensi diri kita butuh kemauan, usaha, dan ketekunan. Inilah kunci utama dalam kesuksesan. Sebab kemauan tanpa usaha akan tetap tinggal kerinduan. Pun kemauan tanpa ketekunan akan sia-sia saja. Singkat kata ketiganya harus dipadukan dan selalu berjalan seimbang. Jika ada kemauan dalam diri, mesti diikuti dengan usaha dan setiap usaha harus dijalankan dengan ketekunan.

Kedua, kesabaran. Mungkin kesabaran dimasukan dalam poin ketekunan. Namun bagiku, kesabaran perlu ditempatkan pada bagian tersendiri. Kesabaran itu menyangkut hati. Tak sedikit orang yang kurang sabar. Setelah mereka menyelesaikan sebuah tulisan, mereka langsung mengirim tulisannya ke majalah dan ingin tulisannya diterbitkan. Pada hal tulisannya belum melewati tahap editing yang baik. Pada tahap ini, kesabaran diperlukan. Kita mesti mengedit tulisan kita dan membacanya berulang-ulang sebelum memutuskan untuk dikirim ke majalah tertentu.

Ini pengalaman dan tips yang sering saya lakukan. Sebuah artikel yang saya tulis selalu melewati proses editing yang ketat. Bukan hanya sekali sampai tiga kali, tetapi berkali-kali. Aku melakukan ini karena pengalaman. Banyak kali aku mengirim tulisan di majalah tetapi tidak kunjung diterbitkan. Aku lantas bertanya, Ada apa ya dengan tulisanku? Ternyata aku menemukan sendiri, tulisan yang kukirim itu belum diedit dengan baik.

Misalnya kesalahan penulisan, kalimatnya masih rancu, idenya belum jelas, korelasi antara judul dengan isinya kadang belum tepat, juga banyak yang lainnya. Dan yang lebih sering aku alami tentang hal ini, tulisan yang aku buat kemarin, rasa bahasa dan nuansa keindahannya berbeda dengan hari ini saat aku mengeditnya kembali. Sangat mudah ditemukan kesalahan atau kekeliruan yang mungkin terjadi. Karena itu perlu waktu yang lama dalam pengeditan sebelum dikirim ke majalah. Dan itu butuh kesabaran.

Ketiga, menulis sambil mengedit. Kebanyakan orang membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan satu artikel. Bahkan tidak kunjung selesai hingga berbulan-bulan. Kebanyakan hal itu terjadi karena persoalan ini, menulis sambil mengedit. Banyak orang menyetujui bahwa kecenderungan ini sering kali muncul saat menulis. Setelah menulis satu paragraf, langsung diubah. Alhasil, tulisan tak kunjung selesai.

Tips yang ditawarkan ialah menulis apa yang telah kamu siapkan atau konsepkan tanpa mengubahnya. Ini penting karena kita selalu ingin tulisan kita sempurna dan menarik banyak orang. Pada hal kita seorang pemula dalam menulis.

Penulis sekaliber Mohamad Gunawan pun mengakui bahwa ia melatih menulis setiap hari. Bahkan sebelum menjadi pemimpin redaksi Majalah Tempo, ia sudah menjadi penulis terkenal dengan jumlah buku yang banyak. Ia menganjurkan, para penulis agar tekun dan giat menulis.

Baginya, tak ada kata selesai untuk berlatih. Selagi kita masih bernafas, kita adalah manusia pembelajar. Bahkan sepanjang hidup, kita adalah pembelajar sejati. Karena itu, tulislah apa saja yang ingin kamu tulis dan mulai dengan hal sederhana yang kamu tahu. Saat menulis, biarkan imajinasimu bekerja tanpa dipaksa untuk mengedit apa yang sedang kamu tulis. Baru setelah selesai menulis, kamu harus mengeditnya. Misalnya melengkapi kata-kata yang masih kurang, membetulkan hurufnya, menamba ide-ide baru yang mungkin perlu, dan menambahkan apa yang masih kurang dalam tulisanmu.

Ketiga, mengumpulkan bahan. Cucum Suminar, penulis Kompasiana mengatakan, “Menulis itu seperti memasak. Untuk menghasilkan masakan yang lezat dan disukai orang lain kita perlu mengumpulkan bahan-bahan terlebih dahulu. Bahan-bahan yang kita peroleh kemudian diramu sedemikian rupa sehingga menghasilkan masakan yang lezat dan enak disantap.”

Menulis pun demikian. Kita mesti mengumpulkan sebanyak mungkin bahan yang perlu untuk membuat sebuah tulisan. Sebuah tulisan yang menarik selalu berasal dari bahan yang baik dan berkualitas. Mengumpulkan bahan dalam menulis bisa kita lakukan dengan membaca sumber rujukan, mendengar berita-berita, atau pun kita bertanya pada orang lain. Dengan demikian tulisan kita akurat dan bisa dijadikan rujukkan.

Keenam, membaca banyak buku. Seorang dosen pernah mengatakan, “Saya pusing kalau sehari tidak membaca buku.” Baginya buku ibarat makanan. Ia membaca buku setiap hari.  Membaca buku setiap hari masuk dalam kamus hidupnya. Dan ia menulis banyak buku. Dengan demikian, menulis tanpa banyak membaca buku adalah mustahil. Seorang penulis adalah seorang pembaca sejati. Ia rajin membaca buku atau berita-berita di media sosial pun pandai membaca tanda-tanda zaman.

Dengan semakin sering membaca, kita akan terbantu untuk menemukan ide utama dari setiap tulisan yang kita baca. Menemukan ide utama penting agar kita mengetahui maksud si penulis. Kejelihan kita menemukan ide utama akhirnya membantu kita merancang ide pokok setiap tulisan kita.

Ketujuh, inspirasi. Kadang kita sulit menemukan inspirasi dalam menulis. Bahkan kita tidak konsisten menulis saat kita seolah kehilangan inpirasi. Inpirasi ternyata perlu diusahakan. Inspirasi lahir dari keseringan membaca dan menulis. Dengan tekun membaca dan konsisten menulis, inpirasi pasti akan seperti mata air yang selalu mengalir. Yang terpenting juga, tidak menunggu terinspirasi dulu baru menulis, tetapi menulislah maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

Kedelapan, menulis membuatmu dikenang. Setelah melewati tahap-tahap yang penting dalam menulis, kita perlu mengetahui, mengapa kita harus menulis. Menulis membuatmu dikenang. Kamu mungkin mengenal penulis hebat seperti Khalil Gibran, Thomas Aquinas, Agustinus, Yohahes Paulus II, Paulo Coelho, dan banyak penulis lain. Walau mereka telah tiada, orang selalu mengenang mereka lewat tulisan-tulisan mereka. Mereka selalu hidup walau raganya telah tiada, dicintai walau mereka telah lama pergi. Tulisan mereka telah mengubah sejarah, menginspirasi jutaan orang di dunia.

Karena itu mulailah menulis. Mulailah dengan menulis hal-hal sederhana yang kamu ketahui dan yang ada di sekitarmu. Apa pun profesi kamu saat ini, jangan berhenti untuk menulis. Karena dengan tulisan kita di kenanng sebab tulisan itu sifatnya kekal. (*)

 

Benediktus Jonas

*Penulis bernama lengkap Benediktus Jonas dan akrab dipanggil Beni. Sangat aktif menulis di media baik itu media cetak maupun online. Alumnus Seminari Menengah St Yohanes Paulus II, Labuan Bajo, tahun 2014 ini sekarang sedang menjalankan Studi di STFT Widya Sasana Malang.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here