Fotografi, Hobi Aidin yang “Mendatangkan” Uang

0
567
Aidin Purdiansyah di tempat kerjanya/Foto: Lian Jelatu

Sering sekali Aidin Purdiansyah melontarkan kata ”konsisten” di linimasa media sosial atau saat berbicara pada kenalannya. Pria yang baru akan menginjak usia 30 tahun pada Agustus mendatang ini, memegang secara kuat prinsip tersebut dalam menekuni bisnis fotografi yang sedang ia jalankan. Berkat konsisten dan rasa cinta, isi dompetnya bertambah dari usaha yang telah dijalankan selama bertahun-tahun ini.

Tempat kerja Aidin Purdiansyah adalah rumah permanen berukuran minimalis yang berlokasi di wilayah Waemata, Kota Labuan Bajo. Ia menempatkan beberapa perkakas kerjanya pada ruangan lengang dengan lantai karpet bergambar seperti papan catur. Satu layar monitor lempeng berukuran besar diletakkan pada meja yang dirapatkan ke dinding. Satu unit laptop diletakkan di samping monitor. CPU laptop tersebut terhubung pada monitor. Aidin memproses hasil foto dan video dari kamera pada dua perkakas tersebut.

Saat disambangi Flores Muda pada pekan lalu, pria beranak satu ini tengah berkutat pada proyek video salah satu perusahaan besar di Labuan Bajo. Ia didampingi rekannya bernama Lian Jelatu. Proyek ini sudah digarapnya sejak akhir Februari 2018 dan telah rampung.

Usaha fotografi ini digeluti Aidin dalam beberapa tahun terakhir. Awalnya, fotografi adalah hobi yang dimulainya saat masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Lambat laun, karena hobi ini pun penghasilan sehari-haripun bertambah.

Sebagai seseorang yang belajar teknik elektro, ia lebih dulu belajar tentang multimedia dan animasi. Saat masih kuliah di Universitas Negeri Makassar, Aidin cukup aktif dalam komunitas dan lembaga kampus. Dari sana, ia mendapatkan banyak pengalaman dan wawasan.

“Saya awalnya hobi multimedia. Pada tahun 2008 saya kerja-kerja foto dan belum punya kamera. Lalu masuk ke majalah kampus dan saat itu saya mulai pegang kamera. Nah dari situ mulai terbiasa dengan fotografi,” tutur dia.

Aidin (baju hitam-tengah) bersama timnya saat mengerjakan salah satu proyek video perusahaan di Labuan Bajo/Doc. Aidin Purdiansyah

Menggeluti dunia fotografi dilakukannya secara tidak sadar. Aidin merasa lingkungan kampus saat itu yang mempengaruhinya hingga terjun ke dunia tersebut. Lambat laun, ia merasa bahwa fotografi sangat menyenangkan dan ia pun mulai menekuninya secara autodidak.

Menurutnya, fotografi sejalan dengan keterampilan membuat multimedia dan animasi yang lebih dulu ia pelajari. Ia pun sudah cukup mahir mengoperasikan aplikasi-aplikasi editor, mulai dari membuat animasi sederhana. Ia kemudian belajar mengambil foto dan video. Kemampuannyapun mulai berkembang ketika ikut dipercayakan membuat video profil universitas.

“Pekerjaan paling besar pertama saya itu membuat profil kampus. Saat itu masih bermodalkan kamera Sonny DVD. Dari situ saya mulai belajar framing. Saya sudah di semester akhir kuliah, saat ituSaya belajar semuanya secara autodidak. Ketika ada yang saya tidak tahu, saya cari di internet.”

Dari situ, ia pelan-pelan mengenal kelompok-kelompok yang punya minat yang sama. Memasuki tahun 2012, Aidin bergabung ke komunitas-komunitas fotografer Makassar, salah satunya adalah Komunitas Fotografi Indonesia (KFI).

Aidin Studio di Tengah Kota Pariwisata

Pria ini konsisten untuk belajar dan percaya bahwa segala sesuatu memang membutuhkan proses. Ia menikmati setiap fase perkembangannya karena sadar bahwa yang telah digeluti olehnya adalah sesuatu yang ia sukai. Ia bahkan betah di depan komputer selama berjam-jam hanya untuk menjalankan hobinya tersebut.

Sampai akhirnya, pria kelahiran 27 Agustus 1988 ini membangun studio foto sendiri di kota Labuan Bajo. Studionya berada di Jalan Waemata dengan nama Aidin Studio.

Sesungguhnya cita-cita membuat studio foto sendiri sudah diimpikan Aidin sejak masih di bangku kuliah. Saat masih di Makassar dan sudah akrab dengan dunia fotografi, ia pun berniat akan membangun studio foto saat pulang ke Labuan Bajo. Cita-cita itupun terwujud.

Di studio ini, ia biasa melayani jasa foto seperti foto-foto pra nikah (pra wedding) dan foto kelompok-kelompok tertentu. Studionya telah dilengkapi dengan berbagai peralatan standar untuk studio foto. Dari situ juga, Aidin seringkali mendapat proyek video.

Studio foto Aidin Purdiansyah yang bernama Aidin Studio berlokasi di Wae Mata, Kota Labuan Bajo/Foto: Aidin Purdiansyah

Pemilihan nama studio yakni Aidin Studio diambil dari namanya sendiri. Awalnya, banyak orang mencibirnya terkait pemilihan nama tersebut, namun ia berupaya untuk tidak mempedulikannya.

“Orang biasanya tidak pede (percaya diri, red) dengan namanya sendiri, kan? Biasanya bikin nama studio yang berkaitan dengan kamera. Tapi saya malah aneh saat itu, saya dengan pede-nya menggunakan nama sendiri. Banyak orang yang mencibir bahwa saya terlalu pede, banyak yang seperti itu. Tapi saya tetap konsisten,” bebernya dengan ekspresi wajah serius.

Tantangan  yang dihadapinya tidak sampai di situ. Aidin sempat kesulitan menghadapi situasi dan kondisi masyarakat di Labuan Bajo. Ia akui, di awal-awalnya berada di Labuan Bajo pada tahun 2012 lalu, ia sempat merasa bahwa usaha dan bisnis fotografi tidak menjanjikan. Belum banyak masyarakat yang mau mengeluarkan uang untuk dokumentasi dan sektor pariwisata Labuan Bajo saat itu belum berkembang seperti saat ini.

Lihat juga: Video Suara Entrepreneur Muda Aidin Purdiansyah

Ia kemudian berinisiatif membentuk komunitas fotografer Labuan Bajo dan mengajak beberapa orang yang juga memiliki minat yang sama. Hal tersebut menjadi salah satu strateginya untuk memperkenalkan dan mempromosikan fotografi kepada masyarakat.

Dari situ, ia mulai dikenal khalayak. Aidin mampu membaca peluang dan memanfaatkan  media sosial dengan baik. Apalagi, semakin banyak wisatawan domestik dan manca negara yang berdatangan dan kebutuhan masyarakatpun semakin beragam. Jasanya kemudian banyak dipakai untuk dokumentasi acara pernikahan, membuat profil perusahaan, dan dokumentasi perjalanan wisata.

Untuk satu sesi dokumentasi, Aidin mematok harga mulai Rp1,5 juta. Ia pun memiliki beberapa teman yang biasa dibayarnya untuk membantu pada proyek-proyek dokumentasi dan fotografi yang membutuhkan banyak tenaga. Dalam satu bulan, ia bisa melayani empat konsumen dengan penghasilan yang lebih dari cukup.

“Dulu saya yakin bahwa di Labuan Bajo, bisnis fotografi akan berjaya walaupun nanti dengan persaingan karena akan semakin banyak orang yang bisa memotret. Yang terpenting adalah menjaga kualitas dan tetap konsisten, juga mampu memberikan karya yang bisa diterima masyarakat,” tutupnya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here