Sorban Surga Untuk Ayah

0
162
Ilustrasi/Sumber: http://www.konfrontasi.com

“Allahuakbar… Allahuakbar!”

Lantunan adzan subuh mulai dikumandangkan. Diyah dan adiknya terbangun dan langsung mengambil air wudu untuk mendirikan salat subuh berjamaah.  Salat subuh berjamaah langsung mereka dirikan usai mengambil air wudu, setelah itu Diyah mulai mempersiap-
kan seragam sekolahnya dan adiknya. Mereka pun mandi dengan air hangat yang telah disiapkan.

Sepiring nasi hangat telah disiapkan ibunya beserta beberapa lauk-pauk seperti telur ceplok, dan sayur sop hangat. Usai melahap sarapan mereka pun bersiap-siap untuk berangkat kesekolah.

Dari luar rumah terlihat ayahnya sedang memanaskan mesin sepeda motor dan mulai mengikat 3 toples berisikan kue di sepeda motor tersebut menggunakan seutas tali agar lebih kuat .

“Ayah, apakah sebaiknya hari ini kami tak sekolah dulu?” tanya Diyah sambil mengikat tali sepatunya.

“Loh, kok gitu? Memangnya kenapa sampai tak mau sekolah hari ini?” tanya ayahnya balik sembari mengelap bekas-bekas embun di sepeda motor miliknya.

“Hmm, aku ingin membantu ayah berjualan,” jawab Diyah singkat.

“Huff! Sayang, tugas kamu sekarang adalah fokus belajar, belajar, dan belajar. Kamu tak perlu memikirkan ayah dan ibu agar ketika kamu sukses nanti, kami tak perlu lagi bekerja seperti ini, ok?” ujar ayahnya.

“Baiklah ayah.”

Diyah dan adiknya hendak berangkat, akan tetapi mata Diyah tak sengaja tertuju pada sorban milik ayahnya yang sering dipakai untuk salat. Sayangnya sorban itu sudah kumal dan mulai sobek. Bahkan warnanya pun sudah hampir pudar. Tepat saat itu ia pun berniat untuk membelikan ayahnya sorban baru.

“Tetapi dari mana aku dapatkan uangnya? Yah, aku akan menyisihkan uang jajanku dan ditabung atau ketika aku sukses nanti,” renungnya dalam hati sambil melangkah dan berpamitan.

“Hati-hati yah, nak! Belajar yang rajin dan buat ayah bangga padamu!” nasehat ayahnya ketika ia menyalaminya.

Tetesan air mata keluar dari kedua mata ayah dan ibunya ketika ia dan adiknya hendak ke sekolah. Diyah pun berusaha agar dirinya tidak terlihat sedih di hadapan ibu dan ayahnya. Ketika ia mendengar tancapan gas sepeda motor ayahnya, ia pun ingin berteriak tapi hati kecilnya mengatakan jangan. Hati kecilnya mengatakan kalau ia harus mengikuti kehendak ayahnya dan mungkin itu akan menjadi yang terbaik bagi dirinya suatu saat nanti.

Diyah pun berlari dan menarik tangan adiknya, memegangnya erat, dan berhenti tiba-tiba. Seketika itu ia berteriak, “SUCCSESS, I AM COMING. WE WILL BE SUCCESS!”

Pukul 07.00, Diyah sampai di sekolah. Sebelum itu ia mengantar adiknya terlebih dahulu. Kegiatan sekolah untuk kelas dua, Madrasah Aliyah, hari ini seperti biasa dimulai dengan kultum dan memasuki kelas. Untuk sekolah Madrasah Aliyah rutinitas pagi tersebut sudah wajib.

Remaja berusia 16 tahun itu memang dikenal ramah dan baik oleh teman-teman kelasnya. Ia cukup aktif dan cerdas . Tak heran jika ia dijuluki “Bintang Kelas” di ruangannya.

Siang menjelang, bunyi lonceng terdengar dan menuntunnya untuk segera pulang. vDiyah menggendong tas abu-abu bergaris horizontal miliknya dan bergegas pulang. Ia menarik tangan sahabatnya dan bergandeng tangan bersama ketika pulang. Namanya Lida, ia sahabat karib Diyah. Saat Diyah terpuruk, Lida yang menyemangatinya, memotivasinya, dan terus membantu Diyah dalam keadaan genting.

“Ya sudah Lida, aku duluan yah!” ujarnya pada Lida saat berpisah.

Setelah itu ia menjemput adiknya dan bergegas pulang karena perut mulai keroncongan. Tiba di rumah, Diyah dan adiknya menghela napas satu persatu dan memasuki rumah tanpa mengeluarkan sepatu karena begitu laparnya.

Begitu hendak makan Diyah teringat bahwa ayahnya belum pulang. Sandal nya pun tidak terlihat. Diyah pun memutuskan untuk menunggu ayahnya itu hingga dua jam berlalu, tiba-tiba dari kejauhan terlihat lelaki tua berkulit hitam yakni ayahnya, tengah berlari dengan memegang tiga toples kosong dan sebungkus plastik berisikan sepatu. Ia berteriak, “Nak…nak.., lihat apa yang ayah bawa?” katanya sambil mengusap keringatnya.

Dengan suara putus-putus ayahnya berbicara. Napasnya terengah-engah namun tak ia hiraukan karena yang terpenting baginya adalah sepatu yang telah lama Diyah impikan, hari ini dan seterusnya akan ia pakai.

“Ayah tau dari mana kalau aku menyukai sepatu ini?” Tanya Diyah sambil melihat-lihat sepatu itu.

“Ayah mendapatimu saat tengah melirik sepatu di Toko Cantik di dekat pasar waktu itu,” katanya sambil merebahkan badannya di sofa
“Tapi sepatu lamaku masih bagus. Untuk apa membuang-buang uang?” tanyanya.

“Tak apa nak..kalau kamu tak mau pake saat ini,kamu bisa pakai nanti saat telah kuliah,” katanya dgn penuh harap .

“Yah sudah, akan kupakai saat aku lulus SMA,” ujarnya dan berlalu ke kamarnya.

***

Satu tahun berlalu kini, tiba saatnya pengumuman hasil kelulusan kelas XII. Diyah hampir tak bisa bernafas menunggu hasil pengumuman itu. Tapi ia ingat ayahnya pernah bilang bahwa proses tak akan menghianati hasil.

“Kalau kamu sudah berusaha dengan sekuat tenaga pasti hasilnya juga akan bagus,” kata ayah suatu waktu.

Kepala sekolah berdiri dan bersiap untuk mengumumkan juara umum serta yang berhak mendapat beasiswa tahun ini. Jantung Diyah berdebar lebih cepat dari biasanya. Deg…deg…deg.

“Juara umum untuk tahun ini adalah DIYAH ADININGGRAT!” teriak kepala sekolah.

Hah? Diyah tak bisa berbicara, matanya berkaca-kaca menandakan bahwa selain kesedihan ada kebahagiaan di balik air matanya. Secercah harapan ia kumpulkan tak sia-sia. Ia akan mendapat beasiswa dan dengan beasiswa tersebut ia bisa masuk kuliah.

***

Diyah hampir tak tega meninggalkan ayah, ibu, dan adiknya di rumah. Sementara ia harus ke luar kota mengejar impiannya. Tetapi dengan tekad dan dorongan yang kuat dari ayahnya, ia bangkit untuk meraih impian itu.

Dengan berbekal tas yang diisi dengan buku-buku pengetahuan , Diyah berangkat. Sebelum itu ayahnya berpesan, “Jangan pernah menelpon kesini, ingat itu!”

Ia tertegun mendengar ucapan ayahnya lalu mengusap air matanya dan bergegas pergi .
“Dah ..adikk..dahh ibu..Dah ayah!”

Selama empat tahun Diyah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Setelah selesai, ia menjadi seorang insinyur muda dan handal. Ia berniat untuk pulang dengan membawa sorban yang pernah ia janjikan pada ayahnya dulu

Tok..tok..tok

“Ayah, ayah, aku pulang, yah!”

Tak ada yang menyahut. Diyah kemudian mengetuk pintu lagi.

“Ayah, ayah. Ibu! Aku Diyah. Anakmu pulang, yah.” Lagi-lagi tak ada sahutan sama sekali.

Tepat satu menit berlalu, gagang pintu bergerak, terlihat seperti ada yang tengah membukanya dari dalam. Sat terbuka, ibunya muncul dengan ekspresi terkejut.

“Diyah? Kamu sudah pulang nak? Masyaallah sekarang kamu sudah sukses nak,” kata ibunya dengan girang.

“Iya bu. Ini berkat doa ibu sama ayah. Ayah dimana, bu?”

” Ayo masuk dulu nak!”

Wanita tua itu mengajak Diyah untuk masuk terlebih dahulu dan membuatkan minuman, namun Diyah menolaknya. Ia tak sabar bertemu ayahnya.

“Ayah dimana bu?” tanyanya penuh harap.

Tanpa mengeluarkan kata-kata, ibunya langsung menarik tangannya dan mengantarnya ke belakang rumah tempat ayahnya dikuburkan.

“Itu ayahmu nak.”

“Ibu pasti berbohong. Ini tak mungkin!”
Diyah mencabik-cabik kuburan ayahnya dan menangis. Air matanya berderai tak terbendung, hingga tak sengaja ia menemukan selembar kertas dari tanah yang ia cabik. Di situ tertera jelas dari ayahnya. Ia menulis;

Putri ku sayang, mungkin kau marah pada ayah. Ayah memang tidak patut dibanggakan. Ayah hanyalah seorang penjual kue keliling. Ayah memakai pakaian kumal, sobek, bahkan tak pantas untuk digunakan. Tapi, ayah bangga padamu nak!

Ayah tau niatmu untuk membelikan ayah sorban. Bahkan ayah sengaja bersikap kasar padamu. Itu semua karna ayah tau kau akan datang dengan kesuksesan suatu saat nanti walaupun setelah ayah meninggal.

Anakku, cukuplah doamu yang akan menjadi sorban surga untuk ayah.
Terimakasih telah jadi putriku. Ayah sayang padamu, nak.

Diyah menangis meronta-ronta mengingat semua kenangan bersama ayahnya. Tetapi ibunya menguatkannya bahwa ia masih punya tugas seperti yang telah dipesan ayahnya. (end)

 

*Penulis bernama Nurhidayati. Pelajar SMA di MA Jabal Nur Lembor ini kelahiran Konggang, 19 Juli 2001

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here