Antologi Puisi Khi Denny Maret 2018

0
409
Khi Denny

Derita Kini

Kesepian hatiku saat ini

mau membunuh jiwaku yang sempat hilang.

Semua kekuatan telah kucoba

mengelabukan kepiluan hati,

mampukah kau paham hatiku kini

Cinta yang sabar,

Kau datang selalu menghampiri di setiap detik sejarahku

Sentuhlah dan ceritalah di hadapanku bunga segan melayu.

Tak kuat lagi ‘tuk kagum derita

Berdiri menantimu detik demi detik

Rindu dirimu ‘tuk merawatku

Indahnya dengan dikau dan bakungmu

Sekuntum suara sembuhkan deritaku

Detik yang Kini

Di tebing detik ini,
Masikah kau mengadu?
Kau tahu kau yang pernah ada di detik itu.
Atau kau bisa duga,
Masih berdiri tegak di detik tersisa.
Aku tidak sekali
pun kau tidak ‘kan.
Kita buta dengan cermin detik itu.
Jika alam bilang kau susah,
Susahlah!
Pun jarak berpeluh rindu,
Bermainlah dengan rindu!
Dan mentari tegas bahagia,
Berbahagialah dengan melompat-lompat!
Jangan berani berlakon ironis. Celaka!
Iya. Celaka susah setengah mati!
Kau tahu luka dalam dada.
Beratnya luka,  tak tertimbangi.

 

Percikan Utopia

Saat waktu satukan asa

Kupelukmu dengan cinta sangat bunga,

Selalu kuberseru pada dinding-dinding kulitmu,

Kurindumu setiap detik

Bermazmur pada gua-gua telinga dengan sekuntum kata khasku

Sampai kau terkunci kataku.

Bernyanyi ria hatiku kini,

Teringat terus polos suaramu

Menusuk tulang-belulang

Merambat dengan aliran darah ini

Iya, kurindu sangat selalu kau pelangi pagi.

Meski jarak pisahkan ruang masa ini

Kan bersatu erat dalam kidung doa.

Dan jujurku pada mentari-bulan yang sedang bermadu,

Nafas tersisa ini ditakdirkan untuk bulan senja.

Berdekap Nasib

Nasib yang tenggelam bertiarap

Pada relung tubuh tak beratap

Takkan pernah lenyap

Kendati busung lapar kian terserap

Oleh zaman yang terperangkap

Tak terbilang jumlah  harap

Serta isak mata menatap

Tapi tak kunjung menguap

Sedang setan menyantap

tubuh-tubuh yang tertangkap.

Kapan kenyang para pelahap?

Tunggu bunga maut menangkap.

 

Tukiklah Dedaunan

 Di tebing detik ini,

Masih kau bertebar tinta ironi

Dengan lapang hati beria egoisme

Senang sekali berteduh di atas taman cyberspace.

Meng-tuan-kan dia.

Tiada lagi pagi mekar tuk dikagumi siang,

Dan senja hanya mengharap dengan keluh tak lelah,

pada rerumputan yang kaku.

Dedaunan layu belia, saat embun hendak menjemput.

Di pagi kau telanjang di maya

Polesnya dengan pakaian kemunafikan

Promosi tuk obral kesucian tubuh be-roh

Mestinya kau sadar,

Pada bibir-bibir awan bertebaran,

Kau terucap produk gagal modern.

Khi Denny adalah nama pena dari Deni Melkisedek. Alumni Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II-Labuan Bajo. Ia pernah menulis puisi di Pos Kupang, Flores Pos dan Flores Pos.Co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here