Paulus Penjual Seruling di Festival

0
377
Penjual seruling, Paul meniup serulingnya di Lapangan Kampung Ujung Labuan Bajo, 6 Maret 2018/Foto: Ney Dinan

Suara itu mendayu-dayu. Kadang melengking begitu tinggi seakan terbang jauh, kadang juga lembut merayu seperti berbisik di tengah bisingnya para pengujung Festival Komodo 2018 di Lapangan Kampung Ujung, Labuan Bajo, Rabu, 6 Maret 2018 lalu.  Suara yang sangat kontras dengan bunyi musik modern yang tengah dimainkan di panggung. Saya menebak lagu yang sedang dimainkan merupakan salah satu lagu andalan untuk meninabobokan balita di perkampungan pada zaman dulu. Ingatan itu kembali  begitu saja dan menyesakkan dada. Saya Rindu!

Pemain seruling itu bukan salah seorang peserta festival yang sedang pentas, melainkkan seorang penjual seruling yang sedang berjualan. Dia mampir ke stan Rumah Tenun Baku Peduli saat hari menjelang petang. Salah seorang teman yang pandai bermain musik membeli 2 serulingnya.

Pria tersebut bernama lengkap Paulus Pangka. Sejak lima tahun lalu menjual seruling keliling. Di Labuan Bajo dia memulai sejak Sail Komodo tahun 2013 lalu. Bapak kelahiran Lawi, Kuwus, 68 tahun yang lalu ini menggambarkan bagaimana usahanya membuat seruling dan alat musik bambu lainnya dan menjualnya keliling.

“Saya jual keliling dari sekolah ke sekolah. Biasanya sekolah saja yang butuh. SMPN 1 Langke Rembong yang pertama kali memesan dan beli seruling saya. Satu seruling seharga Rp15.000. Sayang sekali dari tahun ke tahun semakin berkurang minat orang bermain musik ini,” kata dia.

Di Labuan Bajo, selain menjual seruling bapak Paul juga menjual sapu ijuk. Satu buah sapu dijual Rp30.000. “

Saya jual ke hotel-hotel dan toko-toko,” ucapnya sambil menghitung sisa seruling yang belum terjual. ”Saya  biasanya  menghabiskan waktu satu minggu berjualan di Labuan Bajo. Kalau semua sudah terjual baru  kembali ke kampung untuk bertani.”

“Saya juga menerima pesanan alat musik tradisional dari bambu. 1 set 2.000.000,” ujarnya tersenyum

Ia juga menerima pesanan alat musik tradisional yang terbuat dari bambu. Biasanya, untuk satu set alat musik tersebut dijualnya dengan harga Rp 2juta. Alat musik tiup tersebut terdiri dari 50 buah sunding tongkeng yang menjadi ciri khas suling Manggarai (30 buah suling Sopran, 20 buah terbagi menjadi suling alto, tenor, dan bas), 2 buah piccolo bambu. Piccolo bernada lebih tinggi 1 oktaf dari suling biasa. Selain itu ada 2 buah bombardom  (1 buah bambu besar dan satu buah bambu kecil untuk meniupkan udara ke bambu besar). Bombardom biasanya mengiringi alat musik lainnya seperti suling dan piccolo. Selain  alat musik tiup, Bapak  Paul juga membuat alat musik perkusif dari bambu, seperti pepak.

Di akhir cerita, Bapak Paul memainkan beberapa lagu dengan serulingnya. Beberapa di antara kami ikut mencoba walaupun hanya bisa memainkan nada dasar.

“Jaman sekarang sulit menemukan orang yang pandai bermain seruling. Kami dulu biar tidak sekolah kami bisa main,”  ucapnya yang membuat kami hanya senyum-senyum antara malu dan pura-pura tidak mendengar.

Seorang teman lalu bertanya, “Apakah ada yang beli di tempat Festival ini?” Bapa Romanus menjawab, “Tidak ada. Sudah semakin sedikit orang yang suka bermain seruling, jadi saya tidak heran tidak ada yang membeli,“ jawabnya lirih.

Saya cukup sedih setelah mendengar betapa mengerikan menjual di kota Labuan Bajo dengan udara yang sangat panas. Kami lalu mengakhiri cerita dengan berfoto bersama dan nekat minum kopi  hitam asli  dengan uap panas mengepul dari gelas plastik yang hampir meleleh.

Jika tertarik membeli alat musik traditional dan bertemu langsung bapak Paul silakan kontak redaksi Flores Muda atau berkunjung ke Rumah Tenun Baku Peduli. Anda akan dibantu untuk bernegosiasi langsung dengan  Bapak Paul. (*)

*Penulis adalah Ney Dinan. Sorang perempuan yang cinta tenunan asli, bersahabat karib dengan kopi, dan senang belajar fotografi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here