(Cerpen) Cinta Tak Harus Dimiliki

0
319
Ilustrasi/Sumber: majalah-holiday.com

Aku barusan meneguk teh hangat buatan brother Niko, sahabatku. Teh manis menjadi ramuan yang coba menetralkan pening yang mengental di kepalaku sejak tadi. Sakit kepala sudah sering menemani hidupku sejak kecil. Berulangkali aku dibuatnya tak berdaya. Sudah sering aku ke dokter, ke klinik bahkan ke dukun untuk sekadar menyembuhkan ngeri di kepalaku. Tapi tetap tak berubah. Yang bisa kubuat hanya tidur sambil menahan nyeri dalam diam. Sudah banyak kali aku makan daun pepaya dan telan obat-obat sejenis tapi kadang tak ampuh. Kali ini sakit yang sama juga menyerang isi kepalaku tanpa ampun. Sudah kurasakan sejak tadi pagi. Agaknya, ini lebih mengigit. Niko sahabatku adalah seorang brother yang gigih pada semua tugas yang diberikan padanya. Apalagi ketika ada anggota komunitas yang sakit, dia tak pernah lelah mempersiapkan obat dan segala macamnya sampai membuat teh manis. Dia teman sekaligus adik yang sedang menyusuri lorong yang sama. Jalan hidup membiara.

Aku sadar kalau akhir-akhir ini memang kerja sarafku semakin tak menentu. Ada banyak hal yang mampir ke otakku. Memikirkan tugas di kampus yang terus menumpuk, memikirkan tugas-tugas di biara yang kadang muncul tiba-tiba, soal-soal di rumah dan hal-hal aneh lainnya. Macam-macam. Semuanya datang bersamaan dan menyerang kepalaku. Barangkali ini yang juga biang kenapa aku dihamtam pening yang teramat sakit. Minum air putih dan teh manis yang menjadi andalan satu-satunya ketika pening menyerang terus-terusan. Kadang aku merasa bersalah dan tidak nyaman dengan sesama anggota rumah. Sakit dan sering sakit memang bukan hal baru lagi.  Sudah sering aku berusaha membuang dan melempar rasa sakit ini, namun ia enggan pergi dari kepalaku. Aku dan dia mungkin dilahirkan untuk tinggal bersama. Semakin aku berusaha menjauh dia semakin dekat padaku. Menyebalkan!

Aku mulai bangun dari tempat tidurku dan duduk sambil memegang kepalaku. Pelan-pelan kupijat dengan tanganku sendiri. Di depanku ada sebuah lemari berukuran sedang. Itu lemari yang menyimpan sejumlah buku yang menumpuk berlapis-lapis. Mulai dari buku filsafat, teologi, politik, ekonomi, dan sastra serta yang lainnya. Yang pasti buku-buku ini sering aku pakai untuk sumber tesis dan pedoman kuliah lainnya. Ada beberapa darinya yang sudah kubaca. Yang lainnya sudah setengah dan yang belum disentuh sama sekali. Selain buku ada juga majalah dan beberapa tesis serta skripsi tulisan para pendahulu aku. Di rak yang paling tengah ada juga buku rohani yang kutaruh dengan sangat rapih. Ada juga alkitab dan beberapa buku tebal yang bertulis tafsir keempat injil dan sejumlah buku lagu lainnya.

Kuperhatikan buku-buku itu satu per satu. Dan tiba-tiba mataku tertuju pada satu buku yang terletak persis di bagian bawah dari rak itu. Itu buku yang jarang kubuka dan apalagi membacanya. Buku itu bertuliskan “Constitutions” dalam bahasa Indonesia berarti undang-undang. Dari tadi aku hanya mampu melirik-lirik buku-buku ini. Tak ada minat ‘tuk membuka  dan apalagi membaca. Saat melihat saja, rasanya mau muntah.

Tetapi entah kenapa tiba-tiba tanganku mengambil buku yang satu itu dan pelan-pelan kubolak-balik dari awal hingga akhir. Dan tepat di bagian akhir kutemukan sepucuk surat yang ditulis dengan tulisan tangan yang indah sekali. Pink itu warna kertasnya. Ada sedikit dekorasi di sekeliling tulisan itu dan di bagian akhir ada selembar foto berukuran kecil tiga kali empat. Ada senyum manis di cerah wajahnya. Namun ada sedikit pedih yang ia sembunyikan dari indah senyumnya itu. Senyum pedih. Perpisahan antara aku dan dirinya Ya, dia perempuan yang pernah mengambil hatiku lima tahun silam.

Pening yang tadinya melonjak-lonjak pelan-pelan mulai reda. Berhenti sejenak. Aku seperti baru saja meminum obat ampuh. Tanganku mulai menggenggam erat kertas itu, lalu jari telunjukku tiba-tiba mengelus-elus gambar wajahnya itu. Seluruh pikiran dan mataku fokus menatap gambar dan isi yang tertulis dalam kertas itu. Kali ini sedikit demi sedikit ku beranikan diri untuk membaca tulisannya itu. Isi tulisannya berbunyi demikian:

Untukmu yang jauh di sana, entah apa yang harus kutuliskan dalam secarik kertas ini. Barangkali goresan tinta indah sekalipun, tak ada nada yang bisa mewakili semua rasa di hatiku. Ada banyak hal yang ingin kusampaikan. Ada banyak hal yang mungkin belum kamu ketahui dari diriku. Betapa banyak tersimpan segala kekuranganku, bahkan lebihnya perasaan cinta, rasa sayang yang kukemas dalam hatiku untukmu. Terima kasih sayang, untuk curahan kasih dan sayangmu, cinta yang tulus, perhatian yang total yang telah memberikan sejumlah warna dalam hidupku. Akung selamat ulang tahun. I Miss You. Panjang umur sehat selalu dan kudoakan selalu yang terbaik untuk mu.

Kali ini aku kembali tersenyum sipu dalam hening. Dia sepertinya hadir di depanku. Seolah-olah kami saling beradu pandang. Seperti saat pertama kali kami bertemu di Gereja itu. Namun tidak demikian. Di depanku hanya satu lemari buku yang sedikit kumal. Belum sampai di situ, aku mulai membaca halaman berikutnya. Kembali dia bilang begini;

Marsel yang baik, selalu tetap tersenyum di mana dan kapanpun, sebab ada manis di senyummu. Tetaplah bertahan di jalan panggilanmu yang sekarang. Cobaan akan selalu ada dan mungkin akan sangat berat bagimu ke depan. Kamu harus bisa!!! Kamu pasti bisa bertahan dengan semua badai itu. Sayang, sepertinya ke depan komunikasi kita tidak akan terjadi seperti sebelumnya. Sebab jalan kita sudah berbeda. Jalan kita sudah bercabang. Aku ke kiri, kamu ke kanan. Dan ini yang terbaik untuk kamu dan juga untuk diriku. Aku harap kamu mengerti. Seperti yang pernah kamu katakan saat itu bahwa cinta itu milik semua orang dan CINTA TAK HARUS DIMILIKI, dan barangkali ini pantas buat kita berdua. Tetaplah bersyukur karena kita sudah diberikan untuk bertemu, dan mengenal lebih jauh tentang aku dan tentang dirimu. Tetaplah tersenyum, sayang, dalam menjalani tugas panggilanmu. Doaku menyertai selalu. With Love.”

Aku masih duduk sambil memegang kertas tulisan itu. Walau barusan selesai dibaca namun kuulang lagi dari awal. Ada semacam rindu yang menumpuk tiba-tiba. Rindu pada pemilik surat itu. Rindu pada sebuah hati yang sempat menyatu beberapa tahun silam. Tetapi memang rindu ini hanyalah sebuah ruang ketidakmungkinan sebab pisah sudah mampir sejak dulu. Rindu ini tak lain dari sepoi angin yang buru-buru lenyap. Sebab sudah ada simpang di jalan kita. Kamu ke Barat, aku ke Timur. Ini hanya masa lalu yang pernah mampir mengisi. Masa lalu hanya patut dirindukan bukan untuk dipeluk dan apalagi dimiliki. Jalan terbaik satu-satunya adalah mengenang sambil menarik makna dibaliknya. Kira-kira demikian. 

Aku kembali memandang fotonya. Tentang foto orang selalu memiliki pemahaman yang berbeda, tergantung dari sisi apa ia menghayatinya. Foto adalah bukti bahwa ada hal yang pernah terjadi dahulu. Foto bisa mengabadikan waktu yang telah berlalu. Sangat boleh jadi dalam selembar foto terkandung semacam kekuatan yang tak terkatakan. Kekuatan kasih dan cinta serta sebuah harapan. Dan sebuah foto hanya berarti apabila dihayati.

Aku hanya duduk dan diam halam hening. Dan hatiku menjadi tak tenang. Ada semacam perintah kecil yang menguruiku tiba-tiba. Perintah untuk membalas tulisannya itu. Lalu beberapa saat kemudian aku mulai mencoba membalas tulisan itu dalam kata-kata ini;

Senja melukiskan kata di atas lembaran mega, semoga kau membaca kupunya cinta dan rindu untukmu yang pernah mencuri hatiku. Terima kasih untuk hadir yang tiba-tiba di sesal dan pening hidupku. Aku harus katakan maaf sebelumnya, sebab aku memang tak pandai merangkai kata-kata indah seperti dirimu. Aku pun tak tahu entah apa yang harus kutuliskan pada lembar putih ini. Namun yang pasti bahwa kita memang pernah ukir sebuah kisah bersama. Saat itu, rasa kita seakan tak mau dibagi kemana-mana.

Bahkan aku pernah bilang hanya ada satu alasan untuk meninggalkan kamu yakni ketika umurku tersisa satu detik lagi. Aku mencintaimu bukan karena kamu sempurna sebagai ciptaan tapi karena keberadaanmu yang membuatku merasa sempurna sebagai pribadi. Namun setelah kita bergulat dengan rasa itu, waktu demi waktu dan pada satu titik kita menjadi sadar bahwa memang jalan kita berbeda. Seperti matahari setelah menyinari bumi, ada saatnya ia lelah dan pergi. Begitu pun kisah kita.

Kita pisah bukan karena kita berhenti untuk saling mencintai tapi kita berusaha untuk tak saling menyakiti satu hari nanti.  Dan sebetulnya kita dipertemukan untuk berpisah. Selamanya. Benar, jika saat itu aku bilang kalau cinta tak harus dimiliki. Tetapi kali ini aku mau bilang lagi begini: cinta sebenarnya harus dimiliki. Bukan oleh diriku dan juga dirimu. Tetapi oleh, dengan, dan untuk dia yang mengawali hidup kita masing-masing. Cinta pada Tuhan harus dimiliki. Tuhan harus menjadi cinta pertama dan terakhir kita sampai kekal. Saat ini aku dan dirimu sedang menelusuri jalan masing-masing. Single. Namun single bukanlah status. Dia, sebuah kata yang menggambarkan seseorang yang cukup kuat untuk hidup dan menikmatinya tanpa tergantung pada orang lain. Hidup dalam kesendirian. Terima kasih untuk segala kasih yang pernah kamu tunjukkan saat itu. Semua tak akan pernah datang lagi tetapi tetangmu pasti akan kukenang selamanya. Aku mendoakanmu sampai hayat menjemput. 

Aku baru saja selesai menulis surat balasan untuk dia yang pernah mengisi hidupku. Ada rasa lega bercampur rindu yang dalam. Dan semuanya telah kutuangkan dalam tulisan kecil itu. Kali ini brother Niko datang lagi sambil menyodorkan sepapan obat Paracetamol.

Brother, jangan lupa minum obatnya yah!” katanya pelan.

Oke, makasih, bro,” jawabku.

Belum sampai satu menit ia pergi cepat-cepat. Walau belum sempat kuminum obat itu, pening di kepalaku sudah  buru-buru menghilang. Bahkan dari tadi. Dirinya sungguh menjadi obat bagiku sekejap. Melepaskan orang yang sungguh dicintai memang menyakitkan namun tak semua yang dicintai harus dimiliki. Hidup ini memang sebuah pilihan. Apapun yang membuatmu sedih dan tak bebas tinggalkan. Dan apa yang membuat tersenyum dan bahagia, pertahankan!(*)

———

Marsel Koka

*Penulis adalah Frater Marsel Koka, RCJ dari Rio-Riung Barat, Kabupaten Ngada. Saat ini penulis tinggal di Biara Rogasionis, Maumere-Flores.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here