Perempuan Muda Kembangkan Usaha Percetakan

0
1122
Debora Setyaningrum Siswanto/Foto: Henny Dinan

Sejak April 2016, Debora Setyaningrum Siswanto (23) lebih banyak menghabiskan waktu pada rumah toko yang disewanya di Kota Labuan Bajo. Rumah toko tersebut pelan-pelan diisi dengan berbagai mesin percetakan. Tertatih-tatih, perempuan yang akrab disapa Debby ini, “menyulap” seunit print kecil menjadi deretan mesin cetak.

Debby menyambut dengan senyum ceria pada Senin sore, 26 Februari 2018. Saat itu, ia mengenakan baju biru berkerah, celana pendek berwarna putih, dengan rambut lurus sebahunya yang digerai. Perempuan kelahiran 7 April 1994 ini menyambut Flores Muda dengan wajah yang tampak lelah namun tetap “berhias” senyum.

Setiap hari, Debby mengoperasikan percetakannya mulai pukul 08.00 sampai 17.00 Wita.  Percetakannya ini bertempat pada rumah toko yang disewanya di Jalan Wae Mata, Kota Labuan Bajo. Saat ini, ia tidak bekerja sendiri, ia memiliki dua karyawan lain yang membantunya menjalankan usaha tersebut.

Tidak mudah bagi Debby untuk sampai ke titik yang sekarang dicapainya. Ia membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk bisa mengembangkan usaha percetakan yang ia namai Seven Projects itu. Debby pun mengaku, ia memulai usaha tersebut dengan bermodalkan uang yang diberikan oleh ayahnya.

Debora Setyaningrum Siswanto (23) di tempat usaha percetakannya/Foto: Henny Dinan

“Modal awal saya hanya Rp25 juta dari orang tua. Uang itu untuk beli komputer 4 unit yang dipakai untuk warnet (warung internet),” beber dia sambil tersenyum.

Percetakan Seven Project dibukanya sejak 1 April 2016. Saat itu, ia lebih banyak tekun mengelola warung internet. Seiring dengan itupun, ia menyediakan satu unit alat print kecil yang dipinjamnya dari kerabat.  Print ini dipakainya selama tiga bulan sampai akhirnya tabungannya cukup untuk membeli print baru.

Saat itu, dengan peralatan yang belum memadai, Debby terlanjur memajang spanduk promosi terkait usaha percetakannya di depan rumah toko. Ini sempat menyusahkan dirinya karena beberapa calon konsumen mendatangi rumah tokonya untuk mencetak spanduk dan poster.  Padahal peralatan untuk mencetak itu belum dia miliki.

“Dulu itu saya terlanjur pasang spanduk menerima semuanya tapi dari sayanya belum mampu terima semua karena peralatan belum memadai. Awalnya kan hanya warnet dan print kecil satu unit-yang bisanya hanya di perkantoran dan pribadi, belum layak untuk percetakan. Itu berlangsung selama beberapa bulan,” cerita dia.

Pendapatan dari warung internet dan layanan print kecil untuk kertas ukuran A4 ia tabung. Tidak lama kemudian, ia membeli mesin print untuk kertas ukuran A3, selanjutnya membeli peralatan foto kopi, dan mesin laminating. Seiring berjalannya waktu, Debby lalu pelan-pelan mengisi rumah toko dan melengkapi  peralatan cetak.

Debby bahkan mengaku, saat memulai usaha percetakan tersebut ia masih kurang percaya diri. Ia menyadari kemampuannya yang belum lihai mendesain lewat komputer. Dengan gigih dan tangguh, Debby kemudian berlatih dan akhirnya sudah cukup mampu melakukan hal tersebut.

Memasuki tahun 2018, Debby lalu berani menyiapkan uang sampai Rp150 juta untuk membeli beberapa mesin cetak yang besar. Ia ingin bisa memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan yakni percetakan untuk spanduk, undangan, poster, stempel, pin, dan gantungan kunci.

Debby menjalankan usahanya sendiri dan dibantu dua karyawan/Foto: Henny Dinan

Peluang Besar

Bukan tanpa alasan Debby memilih usaha percetakan. Perempuan dengan latar belakang strata satu pendidikan ilmu komputer jurusan Sistem Informasi ini berhasil merebut peluang pasar di Kota Labuan Bajo. Apalagi, sebagai ibu kota kabupaten, Labuan Bajo sudah termasuk wilayah yang padat dengan beragam aktivitas baik itu di bidang pendidikan maupun pengelolaan informasi.

Anjuran teman dekatnya pun, Ardi Thenu yang menjadi kekuatannya untuk menjalankan usaha tersebut. Sejak awal, temannya tersebut sudah memberikan dukungan dan dorongan kepadanya. Sampai sekarang pun, Debby banyak dibantu oleh Ardi Thenu.

“Awalnya saya tidak punya rencana membuka tempat percetakan. Saya hanya mau membuat kafe, seperti tempat  nongkrong.  Tapi teman saya, Ardi kasih saran; gimana kalau buka percetakan karena dilihat di Labuan Bajo tempat percetakan masih sedikit. Puji Tuhan ini berkembang dan diberkati, jadi saya lanjutkan,” kisahnya.

Dengan tambahan dukungan lokasi usaha yang strategis, pendapatan dan keuntungan yang ia perolehpun terus meningkat. Ia bahkan yakin, modal pembelian alat bisa kembali dalam hitungan bulan. Tak tanggung-tanggung, saat ini  dalam sebulan Debby bisa memperoleh keuntungan bersih sampai puluhan juta Rupiah.

“Karena sekarang lagi ramai, jadi pendapatanpun sesuai. Apalagi pada masa ada event-event tertentu seperti ulang tahun kabupaten dan jelang pemilu. Cuma namanya usaha, pasti ada waktunya sepi dan ada waktunya ramai,” ucapnya bersambung tawa.

Tingginya permintaan pasar pun menimbulkan kesulitan baru baginya. Meski sudah membeli banyak, Ia sering kehabisan bahan untuk percetakan. Sejauh ini, Debby menyuplay bahan baku seperti kertas dan bahan spanduk dari Bali dan Surabaya. Untuk ke Labuan Bajo, Debby merogoh saku lebih dalam untuk membiayai ongkos kirim bahan-bahan tersebut . Namun, hal tersebut tidak membuatnya gentar.

Ke depannya, ia berharap usahanya ini bisa terus berkembang. Menurutnya, masih banyak peralatan yang perlu ia penuhi agar usaha percetakannya pun lengkap. Selain itu, ia juga berharap suatu hari mampu memiliki lahan dan gedung sendiri untuk menjalankan usaha yang sedang dilakukannya ini.

“Pokoknya saya sudah mikir lah ke depan apa yang mau saya beli dan apa yang mau ditunjang untuk perusahaan. Mesin apa lagi? Kalau menurut saya di sini belum lengkap. Masih ada yang perlu disediakan lagi,”  pungkas Debby sembari tersenyum.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here