Hoaks, Pilkada dan Kampanye Kreatif

0
284
Ilustrasi tolak Hoax/Sumber:www.harnas.co

Berdasarkan pengertian Wikipedia Bahasa Indonesia, Hoaks diartikan sebagai usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengar agar mempercayai sesuatu, padahal pencipta berita atau hoaks itu tahu bahwa apa yang disampaikan itu palsu.

Hoaks berkembang seiring munculnya era pasca kebenaran. Era Pasca kebenaran adalah sebuah kata untuk menggambarkan keadaan di mana daya tarik emosional lebih berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandngkan dengan fakta objektif. Sederhananya orang akan mendahulukan perasaan ataupun emosi dibandingkan fakta objektif yang mungkin bertentangan dengan emosi mereka. Ketika emosi lebih dominan dalam menanggapi sesuatu, kabar palsu yang dikemas dalam penalaran, dalam logika bukti argumen yang begitu meyakinkan dipercayai sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.

Menurut kaca mata psikologi, salah satu faktor yang menyebabkan berita-berita hoaks gampang dipercaya masyarakat serta begitu luas merajalela disebabkan karena seseorang memang cendrung lebih gampang percaya akan sebuah berita yang sesuai dengan opini atau sikap yang dipilihnya.

Penelitian yang dilakukan Stanford University pada 2016 silam menyimpulkan bahwa ada dua modus yang mendukung penyebaran hoaks yakni banjirnya arus informasi  serta kemampuan berpikir kritis masyarakat yang rendah.

NTT yang merupakan provinsi miskin dengan tingkat literasi yang agak rendah dari wilayah lain di Indonesia tak luput dari banjir informasi dan tentunya punya daya kritisme yang rendah. Konsekuensinya bahwa Hoaks mudah sekali masuk dan mempengaruhi keseluruhan kehidupan masyarakat NTT termasuk pilihan dalam pilkada nanti. Maka penting untuk melihat fenomena hoaks dalam pilkada di NTT dan menyadari modusnya masuk dalam kehidupan masyarakat,

Hoaks dan Pilkada NTT

Pilkada sudah di depan mata. Perhatian kita pastinya tercurah penuh dengan kiprah para calon pejabat dalam menampilkan diri lewat kampanye-kampanye politik. Kita pastinya berusaha untuk dekat dan mencoba mengenal diri mereka.

Usaha mengenal kiprah dan jejak politis  para calon adalah sebuah keharusan bagi kita. Karena hal ini terkait dengan partisipasi paling krusial kita dalam demokrasi sebelum kita benar-benar masuk bilik suara untuk menentukan pilihan kita.  Kita diharapkan mengenal para calon pemimpin yang kelak akan kita pilih dan serahkan kepercayaan untuk memimpin kita selama lima tahun ke depan.

Tugas ini berat karena kita dihadapkan dengan berseliwerannya hoaks di sekitar kita. Hoaks tidak saja kita temukan dalam media sosial, media-media online yang tak patuh etika jurnalis karena sudah di-backing oleh calon-calon pemimpin tertentu. Tapi hoaks yang paling parah sekaligus paling efektif itu datang dari para calon pemimpin dan tim sukses yang menebarkan janji-janji palsu kepada masyarakat tanpa benar-benar peduli dengan kebutuhan riil masyarakat itu sendiri. Mereka berjanji tapi sayang janji-janji itupun terkadang-untuk mereka saja terlampau sulit untuk  direalisasi. Saya kira NTT berpengalaman soal mental pejabat seperti ini.

Rocky Gerung  dalam satu kesempatan pernah mengatakan bahwa pembuat  hoaks atau berita bohong terbaik adalah penguasa. Alasannya mereka punya  alat ataupun kuasa untuk membuat hoaks itu diterima menjadi kebenaran dalam masyarakat. Hoaks diproduksi untuk mengendalikan kebenaran sesuai dengan standarnya. Di sana ada kebohongan yang disembunyikan.

Dalam konteks Pilgub atau Pilkada NTT, para calon pemimpin ini bukan saja mahir ciptakan hoaks, tetapi juga ahli mengubah hoaks jadi kebenaran yang meneguhkan citra baik mereka dalam masyarakat. Hoaks tentang janji-janji politis, entah karena kurang percaya diri bahwa janji-janji politis dipercayai masyarakat, lalu dipaksakan untuk diterima masyarakat dengan sokongan uang sebagai alat kekuasaan ataupun lewat hiburan plus nasi bungkus untuk sehari. Parahnya masyarakat kita yang mudah sekali menyerahkan harga diri mereka dengan uang serta segala tetek bengek model kampanye mainstream ala para politikus pragmatis itu. Sial!

Besar kemungkinan bahwa para calon yang berkompetisi dalam pemilu juga akan menggunakan hoaks untuk menjatuhkan lawan politik mereka. Hoaks lewat politik identitas seperti Yang Mulia Trump lakukan, atau juga hoaks lewat mimpi besar yang diproduksi oleh Hitler memperoleh sukses besar dan efektif sekali membawa dua tokoh ini berkuasa pada zamannya. Hoaks manjur apalagi dengan kondisi masyarakat kita yang sangat mengandalkan sisi emosional ketimbang rasionalitas atau budaya berpikir kritis.

Keprihatinan-keprihatinan ini terjadi dan menyerang demokrasi kita hari ini. Menangkal hoaks adalah tugas kita bersama sebagai bentuk pertanggungjawaban kita terhadap demokrasi.  Saya juga percaya bahwa para calon pemimpin daerah kita saya kira juga punya perhatian yang sama untuk tidak melestarikan hoaks sebagai budaya politik rebut jabatan publik. Usaha dan komitmen bersama perlu dikembangkan mengingat  fenomena hoaks dari hari ke hari  semakin banyak berseliweran mengisi sekaligus menguji nalar publik kita. 

Menangkal Hoaks dengan Kampanye Kreatif

Hoaks tidak dapat disangkal merupakan ancaman serius dalam demokasi. Ia melemahkan daya kritis masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan demokrasi yang lebih manusiawi dan bermartabat.

Pemerintah dan organisasi masyarakat telah aktif memerangi hoaks lewat berbagai gerakan-anti hoaks. Deklarasi pembentukan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Deklarasi Masyarakat Anti Hoaks dan kampanye-kampanye lain sudah digalakkan. Gerakan anti hoaks harus dijalankan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama, masyarakat ataupun pemimpin baik yang sedang menjabat maupun yang berkompetisi untuk merebutkan kekuasaan.

Solusi menangkal hoaks dalam pilkada tidak hanya selesai di organisasi tapi diterjemahkan lewat aksi mendesak setiap calon pemimpin untuk memikirkan model kampanye yang baru nan kreatif  jelang pilkada. Kampanye kreatif mesti bebas hoaks. Dalam kampanye kreatif  janji-janji politis diuji bukan hanya lewat temu kandidat dengan masyarakat tapi mesti diterjemahkan lewat tindakan praktis melakukan kegiatan bakti sosial, pilih sampah di wilayah kota atau ketika berkunjung di desa bersama masyarakat membangun jalan untuk memudahkan transportasi, lalu terlibat dalam usaha pelestarian lingkungan dengan menanam pohon atau berbagai jenis kegiatan sosial yang memberikan kontribusi dalam kehidupan masyarakat.    

Saya berpikir dari pada uang habis untuk mendanai kampanye politis yang sifatnya menghibur seperti undang penyanyi dangdut ibu kota yang mahal-mahal atau  buat kampanye yang mengundang orang-orang dari seluruh penjuru daerah berkumpul di satu tanah lapang yang kemudian hasilnya sampah-sampah berton-ton mengotori lingkungan atau lewat sogok-menyogok yang tidak mendidik masyarakat. Maka jauh lebih baik bahwa uang-uang kampanye disalurkan lewat berbagai karya-karya nyata yang kontributif dan bisa dikenang masyarakat.

Konsep kampanye putih mungkin bukan hal baru tapi merupakan sebuah model kampanye anti mainstream yang berusaha untuk mendidik masyarakat sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap politik yang selama ini terlalu menjauhkan pemerintah dari rakyat kebanyakan. Kampanye kreatif tidak hanya soal mengeluarkan uang entah dari saku pribadi atau sponsor, yang mesti transparan agar terhindar dari suap-menyuap, tapi menggunakan uang yang ada untuk melakukan sebuah terobosan yang bernuansa kreatif serentak menumbuhkan partisipasi masyarakat untuk bangun budaya politik bersih dan demokratis.  Model kampanye putih atau kreatif  seperti ini mengembalikan hakikat kampanye kepada fitrah asalinya sebagai gerakan, sekaligus aksi untuk melawan hoaks,  memperkenalkan diri apa adanya di hadapan masyarakat serta memperoleh simpati dan dukungan massa pemilih.

Lewat kampanye putih para calon pemimpin berkontak langsung dan terlibat bekerja bersama umat. Kapasitas moral dan cita rasa kemanusiaannya dilatih lewat perjumpaan dengan masyarakat melalui keterlibatannya dalam perjuangan bersama melakukan kegiatan-kegiatan kreatif tertentu. Ada bersama masyarakat beserta  persoalan-persoalan yang mendesak yang dialami mereka memberikan calon pemimpin energi positif tentang nilai solidaritas dalam kehidupan bersama . Dengan model kampanye seperti ini terjalin komunikasi diri yang orisinal antar masyarakat dengan para calon pemimpin dan para calon pemimpin dengan masyarakat.   

Saat ini, di tengah banyaknya pemimpin yang rela korup untuk memperoleh jabatan tertentu. Di tengah tenggelamnya pemimpin  dalam lumpur budaya konsumeristis, hedonis serta materialis yang mana korupsi jadi kompetisi dan narsistik jadi ideologi, kita butuh calon pemimpin alternatif, yang berani tampil beda. NTT Miskin, pemimpin yang kita butuh adalah pemimpin yang sadar diri ia miskin dan  dalam luka-luka serta penderitaan akan situasi negatif itu ia tampil untuk memperjuangkan nasib dirinya sekaligus masyarakat yang ia pimpin. (*)

———————-

Yulius Krisdianto Ebot
Penulis adalah Yulius  Krisdianto Ebot yang saat ini masih aktif sebagai mahasiswa Pasca Sarjana di Sekolah Tinggi FIlsafat Katolik Ledalero, Maumere.  Pemuda yang akrab disapa Erik ini saat ini menetap di Maumere untuk menyelesaikan studi. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here