Yosep Leribun, Lulusan Filsafat yang Memilih Bertani

0
1684
Yosep Leribun/Foto: Ence Floriano

Menjadi salah seorang dari sepuluh finalis Petani Muda tahun 2016 adalah motivasi seorang Yosep Leribun untuk terus menekuni dunia pertanian. Meski belum berkesempatan menyandang juara, pria kelahiran Wae Moto, 23 Juni 1988 ini sudah berhasil masuk dalam kategori finalis 10 Petani Muda tahun 2016. Pencapaian ini diperolehnya lewat proses seleksi ketat terhadap 514 petani muda se-Indonesia.

Untuk memasuki babak kehidupan di tingkat tersebut, pria yang akrab disapa Jo ini memulai karir di bidang pertanian dan peternakan dengan beternak ayam pedaging pada 2014 silam. Sebelumnya, setelah lulus dengan gelar Sarjana Sastra dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, ia sempat berkarir di Jakarta sebagai jurnalis pada salah satu media online nasional selama dua tahun. Saat memutuskan pulang kampung ke Labuan Bajo, Jo menemukan peluang besar di bidang peternakan dan pertanian lalu mencoba memulai usaha.

“Saya coba-coba awalnya dari ayam pedaging. Saya buka di tiga titik. Pada tiga titik itu, dalam waktu kurang lebih enam bulan berjalan cepat dan berkembang. Permintaannya tidak pernah menurun,” Jo memulai ceritanya dengan antusias.

Peluang yang Jo lihat dari sektor tersebut adalah karena kebutuhan konsumsi masyarakat dan sebagai salah satu faktor penunjang pariwisata. Hasil pengamatannya, perkembangan dunia pertanian dan peternakan di Kabupaten Manggarai Barat masih lambat. Belum banyak masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat yang mengelola pertanian dan peternakan untuk usaha. Hal ini disebabkan karena kemampuan masyarakat dalam pengelolaan masih minim dan lahan serta modal usaha tidak mencukupi. Pemicu lainnya yakni, karena pandangan masyarakat yang masih menganggap bahwa menjadi petani atau peternak adalah profesi kalangan bawah.

“Walaupun orang menganggap bahwa pertanian itu lebih rendah, tetapi saya melihat peluangnya. Dalam artian, peluangnya banyak. Sebenarnya sektor pariwisata adalah salah satu lokomotif yang memicu berkembangnya sektor pertanian,” ucap dia.

Ia menilai, untuk saat ini masih ada jurang pemisah antara pertanian dan pariwisata. Mestinya, sektor pertanian di Manggarai Barat berkembang seiring dengan meningkatnya sektor pariwisata. Kenyataannya, lanjut Jo, masih banyak yang kurang, di antaranya; persediaan daging segar yang terpaksa didatangkan dari luar daerah, sayur-mayur dari provinsi tetangga, dan masih ada peredaran daging beku di Kota Labuan Bajo.

Perjalanan karir Jo di bidang pertanian dimulai dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong yang dimilikinya untuk membuat kandang ayam. Dengan gigih, ia kemudian membangun mitra kerja ke beberapa titik di Kabupaten Manggarai Barat. Setelah berjalan satu tahun, dari tiga titik, ia kemudian menambah mitra di delapan titik lagi.

Yosep Leribun membangun Kampung Ternak di Dusun Tanah Dereng, Desa Compang Longgo, Kabupaten Manggarai Barat/Doc: Kampung Ternak Manggarai Barat

Seiring dengan itu, melihat perkembangan peternakan ayam pedaging, sekira pertengahan tahun 2014, pria beranak satu ini kemudian mencoba membuka peternakan babi yang juga bermitra dengan beberapa peternak. Pada awal beternak babi, Jo membuat lima kandang di Dusun Waemoto, kampung halaman orang tuanya.  Dari situ, ia terinspirasi untuk membuka sentra peternakan yang ia beri nama Kampung Ternak. Kampung Ternak ini akan diisi dengan menernak ayam dan babi.

“Kalau ternak ayam, saat-saat awal saja yang perawatannya sulit, jadi saya besarkan di sini. Setelah itu saya distribusikan yang siap panen. Kita targetkan, umur satu bulan sudah siap jual. Daripada saya harus training terus ke setiap peternak, mending saya buka sentranya di sini, pembesarannya di sini, baru saat penjualannya diteruskan ke kandang-kandang mitra,” terang Jo.

Untuk di Kota Labuan Bajo, Jo biasa menjual satu ekor ayam pedaging dari kandangnya dengan harga Rp50 ribu.  Sedangkan jika dijual di daerah pedalaman, ia memasang harga berkisar  Rp55 ribu sampai Rp60 ribu. Untuk saat ini sudah ada 20 sampai 25 kandang mitranya di kawasan Kabupaten Manggarai Barat yang secara rutin membeli ayam pedaging padanya.

Kini, untuk usaha peternakan ayam pedagingnya, Jo selalu kebanjiran pembeli. Ia bahkan sampai kewalahan melayani permintaan pelanggan.

“Peternakan ayam saya ini sudah lumayan dikenal dan biasanya kami kewalahan. Kadang banyak yang kita tolak karena kemampuan kandang yang hanya mampu menghasilkan paling banyak 1500 ekor per bulan,” beber dia.

Lawan Tantangan dengan Semangat

Tidak mudah bagi Jo menjalankan usaha pertanian dengan latar pendidikan yang tidak sesuai. Jo bertani mengandalkan referensi yang ditemukannya melalui media sosial dan berguru ke beberapa orang yang berpengalaman.

“Saya kan autodidak karena saya bukan (lulusan) dari peternakan. Tapi banyak cara untuk mengatasi itu. Sektor apapun termasuk pertanian, gunakan teknologi yang ada. Kita pasti akan mendapatkan jalan keluarnya dan saya merasakan itu,” ujarnya semangat.

Bermodalkan nekat dan semangat, Jo belajar bertani dan beternak melalui video-video dan jurnal bertema peternakan dan pertanian yang beredar di dunia maya. Ini juga dipakai olehnya saat memberikan training kepada peternak pemula. Selain itu, ia juga mencoba masuk ke dalam kelompok-kelompok peternak yang ada dan belajar sedikit demi sedikit dari mereka.

Selain itu, pada awal perjalanan karirnya ini, ia sempat kesulitan mencari peternak ataupun pedagang yang ingin bermitra dengannya. Tahap demi tahap, Jo membangun hubungan, menjalin komunikasi, dan bekerjasama dengan beberapa peternak dan pedagang.

Peternakan ayam kampung yang dikelola Yosep Leribun di Kampung Ternak miliknya/Doc: Kampung Ternak Manggarai Barat

Pria yang pernah menempuh pendidikan di Seminari Pius XII Kisol ini juga nyaris menyerah karena beberapa situasi selama usaha peternakan dan pertaniannya berjalan. Suatu waktu, saat mendistribusikan 400 ekor ayam pedaging ke kandang mitra, 200 ekor ayamnya mati dalam perjalanan.

Tidak sampai di situ, pada awal tahun 2017, puluhan ekor babi di kandang peternakan miliknya terserang virus dan mati. Jo sempat hampir menyerah dan mengalami stres.

“Saat itu ada 10 indukan dan beberapa ekor anak babi yang mati karena virus. Baru sekarang merangkak lagi. Setelah satu tahun baru saya bisa panen lagi,” kisahnya.

Semangat Jo perlahan kembali tumbuh berkat dukungan orang-orang terdekatnya. Ia kemudian kembali mengembangkan peternakannya sambil belajar lebih banyak. Dari situ dia lebih banyak belajsar untuk mengenal lebih jauh tentang dunia peternakan dan pertanian.

“Setelah ada masalah, baru kita melihat lebih detail lagi. Ternyata ada masalah-masalah yang mungkin kita anggap sepele tetapi itu fatal,” ungkapnya.

Mulai Membangun Sentra Pertanian

Setelah cukup sukses dengan peternakan, Jo lalu berpikir untuk mengisi lahan kosongnya yang tersisa. Ia kemudian menanam beberapa tumbuhan jangka pendek seperti terong dan lombok. Seiring dengan itu, Jo mempekerjakan tujuh karyawan untuk membantunya mengelola peternakan dan pertanian.

“Dari awal saya sebutkan ini sebagai peternakan terintegrasi. Dalam artian bahwa bagusnya peternakan itu harus dipadukan dengan pertanian,” kata dia.

Konsep pertanian dan peternakan terintegrasi yang dimaksud Jo adalah membangun simbiosis mutualisme antara peternakan dan pertanian. Ia memanfaatkan pupuk kompos dari kotoran ternak untuk menyuburkan tanaman pertaniannya. Kemudian, untuk pakan ternak bisa diolah dari sumber pertanian miliknya.

“Saya pakai konsep organik. Saya tidak memakai pestisida pada tanaman saya. Semua pupuknya hasil fermentasi dari kotoran ternak yang dicampur dengan sekam bakar. Campuran itu lalu difermentasi menggunakan EM4. Hasilnya lumayan,” imbuh Jo.

Melihat hasil pertanian dan peternakannya yang berkembang dengan baik, Jo berencana akan membangun sentra pertanian yang lebih besar pada tahun 2018 di Dusun Tanah Dereng, Kabupaten Manggarai Barat. Ia menyiapkan  lahan setengah hektare yang dilengkapi dengan irigasi yang memadai.

Pada satu lahan tersebut, Jo akan membagi kawasan peternakan dengan pertanian. Untuk kawasan pertanian, ia berencana akan menanam sayur-sayuran, terong, tomat dan cabe.

“Untuk sementara kita coba ikuti musim dulu. Ke depannya kita targetkan coba rekayasa musim supaya nanti semua jenis tanaman bisa ditanam kapan saja. Baik itu tanaman musim hujan maupun musim kemarau.”

Salah satu area lahan milik Yosep Leribun yang akan dijadikan sentra pertanian/Foto:AIB

Saat ini, selain menyebarkan brosur dan secara lisan, Jo memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan usahanya. Ia membentuk grup di jejaring sosial Facebook dan Whatsapp. Jo juga memanfaatkan grup tersebut untuk merangkul semua petani dan peternak yang ada di Manggarai Barat.

“Grup ini juga dimanfaatkan untuk mengetahui dimana keberadaan mereka dan ternyata jumlahnya lumayan. Di dalam grup itu, selain peternak, ada juga penjual mesin pertanian dan pembuat pakan dari luar daerah,” beber Jo.

Meski sudah cukup sukses dengan usaha peternakan dan pertanian, Jo merasa belum sampai ke puncak kesuksesannya. Ia masih butuh waktu dan strategi yang lebih jauh dalam mengelola usaha tersebut. Belum lagi, Jo masih butuh waktu untuk membuat pergerakan usahanya berjalan stabil.

“Suatu usaha baru dikatakan bagus kalau sudah ada siklusnya. Seperti mesin yang berjalan sendiri. Usaha saya belum, karena sektor pertaniannya belum sempurna dan baru mulai,” ujarnya.

Jo berharap, pengalamannya mampu menjadi acuan anak muda lain untuk mencoba usaha di bidang pertanian. Menurutnya, dengan berkembangnya teknologi saat ini, bisa dimanfaatkan untuk memperlancar usaha termasuk di bidang pertanian.

“Jargonnya, mengubah cara berpikir dengan menilai bahwa bertani itu kekinian. Selama ini kita berpikir bahwa bertani adalah hal yang kotor, tidak menjanjikan, dan tidak punya masa depan. itu yang mau kita balikkan bahwa dengan teknologi yang ada, ilmu yang kita peroleh, dan pengalaman bisa membuat sektor pertanian lebih maju dan bisa dijadikan profesi yang menghidupi,” pungkas Jo. (*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here