Segala Detikmu, Persembahan Reinard untuk Perempuan

0
234
Reinard L. Meo memegang buku kumpulan puisi Segala Detikmu karyanya yang diterbitkan pada Oktober 2016/Foto: AIB

Segala Detikmu menjadi buku sastra pertama karya Reinard L. Meo.  Meski baginya ini seperti kecelakaan, namun pemuda asal Bajawa, Kabupaten Ngada ini mempersembahkan antologi puisi tersebut untuk melawan eksploitasi terhadap kaum perempuan.

Reinard L. Meo didampingi kekasihnya, Margaretha Febriana Rene saat disambangi Flores Muda, baru-baru ini di Kota Labuan Bajo.  Pemuda yang hobi mengoleksi topi ini hadir dengan setelan sederhana. Ia mengenakan celana pendek, kaus oblong, dan tanpa lupa melilitkan seuntai selendang di leher.

Pemuda kelahiran Mataloko, Kabupaten Ngada pada 5 Desember 1992 ini telah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Segala Detikmu. Cetakan pertama buku ini keluar pada Oktober 2016 lalu sebanyak 300 kopi. Buku-buku tersebutpun habis dibeli kerabat, sahabat, dan rekan-rekan Reinard.

Di dalam buku yang berisi 106 halaman ini, terdapat 65 judul puisi. Ia meminta seorang kenalan bernama Stephie Kleden-Beetz yang menulis kata pengantar. Selain puisi, Rei menambahkan beberapa lukisan pensil karya seorang temannya bernama Yoko untuk menambah ilustrasi isi buku.

Kepada Flores Muda, Rei mengatakan bahwa puisi-puisi yang ada di dalam buku Segala Detikmu ini adalah puisi-puisi yang ditulisnya sejak tahun 2013. Judul buku inipun diambil dari salah satu judul puisi yang ditulisnya pada 13 Januari 2013 lalu. Ia menulisnya saat sedang berada di Kuwu-Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Tampak sampul belakang buku Segala Detikmu karya Reinald L Meo/Foto:AIB

Menulis dan menerbitkan buku puisi baginya adalah sebuah kecelakaan. Rei mengaku sebelumnya dirinya tidak memiliki minat dalam dunia sastra.

“Awalnya saya tuh bukan seorang penulis sastra tetapi saya penulis karya artikel populer. Masuk di dalam dunia sastra itu hanya kebetulan dan buku yang diterbitkan itu adalah sebuah kecelakaan saja.  Minat sastra dan menulis puisi itu adalah minat yang disadari kemudian. Bahwa setelah berjalan sejauh itu dan melihat ternyata sudah banyak puisi (yang ditulis), yah sudah bikin buku puisi saja,” aku Rei.

Sebelum merangkai diksi menjadi puisi, saat masih menempuh pendidikan tingkat sekolah menengah atas, Rei lebih dulu rutin menulis cerpen. Ia juga seringkali menulis naskah drama  dan naskah teater. Naskahnya tersebutpun pernah  dipentaskan di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Katolik Ledalero, Maumere.

“Untuk saya, cerpen itu puisi yang panjang, lalu puisi itu cerpen yang pendek. Jadi sebetulnya di cerita pendek itu adalah kumpulan dari beberapa puisi dengan tema yang sama. Dalam puisi sebetulnya ada cerita,” kata dia.

Impian menerbitkan sebuah buku sesungguhnya sudah direncanakan Rei saat duduk di bangku kelas dua, sekolah menengah atas. Kala itu, keinginan tersebut terjadi saat ayah kandungnya, mendiang Moses Meo Watu menantang Rei.

“Saat itu saya libur dan pulang ke rumah lalu ngobrol dengan bapa. Kemudian bapa tantang; ‘Bisakah ke depan belajar baik-baik, bikin buku?’ Tetapi (saya) tidak pernah berpikir untuk bikin buku kumpulan puisi. Bahkan di SMA, saya belum pernah kenal ada buku puisi. Dulu saya sering membaca buku motivasi yang ditulis oleh pendeta,” beber mahasiswa STIFK Ledelero yang juga hobi fotografi ini.

Pada awal 2016 saat aktif di kampus, ia mulai mengenal banyak buku kumpulan puisi. Rei kemudian memutuskan menghimpun puisi-puisinya dalam satu buku pada akhir 2016. Bukunya pun diterbitkan oleh Penerbit Bawah Arus dari Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Reinard L. Meo bersama Margarethe Febriana Rene di Rumah Kreasi Baku Peduli Labuan Bajo, Jumat, 2 Februari 2018/Foto:AIB

Untuk Perempuan

Buku kumpulan puisi Segala Detikmu dihimpun Rei tanpa berpatok pada tema khusus. Patokannya adalah rentan waktu terciptanya sajak-sajak tersebut yakni sejak 2013 sampai 2016.

“Awalnya saya hanya ingin mengumpulkan-bahwa sudah menulis sekian banyak puisi. Pada awal mengumpulkan puisi itu, saya tidak berpikir tentang satu tema lalu puisi-puisi itu bergerak di bawah tema itu, tidak. Waktu itu saya berpikir untuk kumpulkan saja dulu lalu saya memilih judul,” jelas dia.

Rei mengatakan,tujuan dan tema dari puisi di dalam bukunya ini didominasi untuk perempuan. Alasannya, lanjut dia, karena pada masa pengumpulan puisi dan awal-awal masuk perguruan tinggi, Rei banyak bergelut dalam isu-isu feminisme dan peka terhadap kasus-kasus perdagangan orang dan kekerasan terhadap perempuan yang saat itu tengah marak di Kota Maumere, Kabupaten Sikka.

“Puisi ini lahir di dalam situasi itu. Bahwa saya mesti membela perempuan di sini! Saya mesti menonjolkan perempuan di sini!” imbuhnya.

Ia mengaku, peran beberapa orang penting terhadap karyanya bisa dilihat dari puisi-puisi yang ditulisnya. Ia menyebut di antaranya adalah ibunya, Maria Wendelina Meo dan kekasihnya, Margaretha Febriana Rene yang akrab dipanggil Eby.

Menanggapi inipun, Eby mengaku buku yang diterbit Reinard seperti kejutan baginya. Pasalnya, awalnya Eby tidak mengetahui rencana penerbitan buku kumpulan puisi Segala Detikmu. Kehadiran buku yang menjadi kejutan ini pun membuat Eby tersanjung, karena beberapa puisi di dalam buku tersebut ditujukan untuk dirinya. Namun, di sisi lain, kejutan tersebut justru disesalinya.

“Saya merasa agak-kenapa tidak sejak awal saja beritahunya, mungkinkah saya bisa membantu dalam segala hal,” kata Eby. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here