Potensi Bocah Desa Siru pada Tabasa yang Dikhawatirkan Telantar

0
227
Siti Fatonah (jilbab biru) di Taman Baca Masyarakat Tabasa, Desa Siru, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu, 4 Februari 2018/Foto: KBS

Laporan Reporter Pelajar SMAN 2 Komodo, Andika Sufandi

LEMBOR, FLORESMUDA.COM  – Di Dusun Watu Lendo, Desa Siru, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Taman Baca Tabasa Desa Siru dibangun. Perpustakaan kecil ini diadakan di dalam rumah papan sederhana yang letaknya tepat di samping Kantor Desa Siru.

Pada Minggu 4 Februari 2018 lalu, pendiri taman baca ini, Siti Fatonah mengadakan kegiatan kelas berbagi dengan agenda sharing tentang pendidikan anak, pengelolaan taman baca,  dan membahas tentang masalah kurangnya minat anak untuk bergabung dengan taman baca. Kegiatan ini diikuti oleh 20-an siswa-siswi dari himpunan komunitas muda-mudi Labuan Bajo.

Selain sebagai pendiri Taman Baca Tabasa, Siti Fatonah adalah seorang relawan dari Yayasan Dompet Dhuafa yang terletak di Bogor (Sekolah Literasi Indonesia). Ia mengabdi selama satu tahun di Desa Siru sebagai pendamping guru- guru untuk meningkatkan kualitas literasi sekolah dan juga mendampingi anak-anak di Desa Siru dalam melakukan pemberdayaan berbasis  pendidikan.

Kegiatan bertajuk Sharing Komunitas ini dibuka dengan sambutan Siti Fatonah sebagai tuan rumah, kemudian dilanjutkan sambutan dari Staf Rumah Kreasi Baku Peduli, Kris Bheda Somerpes. Keduanya membahas seputar kegiatan harian di taman baca dan masalah kurangnya minat anak- anak di Desa Siru untuk bergabung dengan Taman Baca. Sambutan ini pun dilanjutakan dengan diskusi.

Setelah semua pembahasan yang cukup serius tentang masalah Taman Baca selesai, beberapa anak yang sudah tergabung dalam Taman Baca Tabasa Desa Siru mengadakan pertunjukan seni kecil. Mereka menghibur para rombongan dari Labuan Bajo dengan menunjukan kemampuan membaca puisi karya Taufik Ismail berjudul “Kita Pemilik Sah Negeri Ini”. Selain itu juga, penampilan seni tari daerah asal Aceh dan Jawa.

Suasana pecah ketika beberapa murid sekolah dasar membawakan drama berjudul “Asal Mula Bunga Kemuning”. Para pelakon drama tersebut sangat menghayati ceritanya sehingga penonton terbawa suasana.

“Semua yang tampil adalah anak-anak yang masih duduk di bangku kelas 4 dan 6 di MIS Jabal Nur (Lembor),” ujar Siti Fatonah.

Murid-murid MI Jabal Nur tampil dalam pertunjukan drama berjudul “Asal Mula Bunga Kemuning” di Taman Baca Masyarakat Tabasa, Desa Siru, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Minggu, 4 Februari 2018/Foto: KBS

Meski sangat terharu dengan penampilan para murid,  Siti Fatonah juga tidak mampu menyembunyikan kekhawatirannya.  Ia sangat resah karena tidak ada masyarakat asli yang bergerak untuk mengurus taman baca yang sudah didirikannya tahun lalu itu. Ia mengaku mengelola taman baca tersebut sendiri dan akan kembali ke kampung halamannya di Pulau Jawa pada pertengahan Februari 2018.

“Saya sangat resah dan kecewa melihat masyarakat di sini yang tidak memanfaatkan wadah taman baca ini dengan baik. Tidak ada orang asli di sini yang bergerak bersama untuk mengelola taman baca ini. Saya bekerja sendirian, padahal saya adalah relawan yang hanya bekerja  satu tahun. Sebenarnya, anak-anak di sini memiliki  banyak potensi,” aku dia.

Ia juga menjelaskan tujuan dilaksanakannya kegiatan tersebut adalah untuk memancing anak-anak yang berada di sekitar Desa Siru agar bisa bergabung dengan taman baca. Selain itu juga untuk mengembangkan potensi bakat anak-anak yang bergabung dalam Taman Baca Tabasyah

Ia juga berharap kegiatan seperti ini rutin dilaksanakan guna memancing daya tarik anak-anak muda di Desa Siru.

“Saya berharap ke depannya bisa terjalin kerja sama dengan Rumah Kreasi (Labuan Bajo) agar terus melakukan kegiatan seperti ini ke depanya,” tambah Fatonah.

Sementara itu, beberapa anggota komunitas dari kota Labuan Bajo mengaku sangat menikmati penampilan para murid-murid MIS Jabal Nur, Lembor. Pertunjukan para pelajar tersebut membuat beberapa anggota rombongan dari Labuan Bajo terpukau.

“Potensi anak-anak di sini sangat luar biasa. Kami jadi betah di sini dan ingin berkunjung ke sana lagi,” aku salah seorang  anggota komunitas dari Rumah Kreasi Labuan Bajo, Roy Nahar. (*/red)

*Penulis adalah reporter pelajar yang mendapat pelatihan khusus dari Redaksi Flores Muda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here