Logo sementara BeKas./Foto: BeKas

Tentang BeKas: Seminari Sastrawi

Komunitas (BEKAS) BEngkel KAta Sanpio adalah sebuah wadah bagi para seminaris SMA Seminari Pius XII Kisol di bawah naungan Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Calon Imam Seminari Pius XII Kisol, untuk bergelut dalam dan dengan dunia sastra. Komunitas sastra ini dibentuk pada 8 Februari 2016 dengan penggagas awal Fr. Oriol Dampuk. Kelompok sastra ini sudah mulai aktif dalam dunia sastra senjak medio Oktober 2015, tetapi baru resmi berdiri pada tanggal 8 Februari 2016. Anggota awalnya berjumlah 28 orang dan diketuai oleh Mensi Arwan.

Komunitas BEKAS dibentuk dengan harapan, mampu menjaring seminaris yang memiliki minat sekaligus bakat menulis, khususnya dalam bidang sastra yang selama ini dilupakan. Dengan berkegiatan sastra, kepekaan para seminaris yang tergabung dalam kelompok BEKAS diasah agar tetap terampil menafsir situasi-situasi di sekitarnya, lantas membahasakannya melalui seni sastra.

BEKAS berkutat pada aneka kegiatan sastra dan tulis-menulis, seperti pementasan teater, membaca dan bermusikalisasi puisi, dan publikasi karya-karya anggota pada mading khusus kelompok BEKAS. Karya-karya anggota kelompok juga dikirim ke beberapa media online (floressastra.com) dan media cetak (Flores Pos).

Selain kegiatan internal, sejauh ini, kerjasama dilakukan dengan beberapa kelompok sastra lain seperti Komunitas Sastra Hujan di Ruteng. Pegiat-pegiat sastra di level lokal juga sering ‘mampir’ sekadar berbagi proses kreatif, pengalaman pementasan, dan corak hidup berkomunitas.

Pada periode 2017/2018 kini, BEKAS diketuai oleh Stefan Alfiano, siswa kelas XI Program Sosial. Ada pun wakilnya, Avin Nagang, siswa kelas X Program IPA. Jumlah anggota BEKAS pada periode ini sudah mencapai 60 orang, didampingi oleh Fr. Lolik Apung. Motto komunitas ini adalah “Bersukacita Memuliakan Cahaya Kata”.

Kelompok ini berkeinginan untuk meninggalkan jejak di sini (baca: Seminari Pius XII Kisol). Jejak itu adalah jejak kata yang tertampung dalam karya-karya sastra seperti cerpen, puisi, monolog, teater, dan lain sebagainya. Kata harus tetap hidup di lembah persemaian ini, dan para seminaris kian menjadi insan muda yang sadar sastra, harapan Gereja dan bangsa. (Stefan Alfiano-BEKAS/Reinard L. Meo)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here