Hoax dan Kesehatan Berpikir

0
327
Ilustrasi lawan hoax

Jika ditelusuri, hoax adalah fenomenav jagat maya paling afdol belakangan ini. Kata hoax mendadak booming dan bikin geger. Tulisan-tulisan berisi hoax atau yang mentematisasikan bahaya hoax berseliweran. Seturut rilis penulis, topik hoax sudah merambah berbagai bidang. Paling ramai, pro-kontra hoax di ranah politik. Sebagai contoh, pernah beberapa waktu lalu, ada perdebatan sengit tentang sebuah artikel Kompas berjudul “Hoax dan Demokrasi” yang ditulis Rocky Gerung, dosen filsafat politik Universitas Indonesia.

Tentang ramainya tulisan seputar hoax, jika ditanya mengapa, sekurang-kurangnya dua alasan berikut bisa dihidangkan. Pertama, banyak pihak terkecoh, lantas percaya begitu saja pada artikel-artikel yang ternyata isinya hoax. Entah terlampau polos atau tolol, pokoknya beda-beda tipis, sebelas-duabelasan. Mereka absen berpikir dan enggan bersikap kritis-rasional. Sehingga, gimana gak ramai? Wong orang-orang ini jadi sasaran empuk, mangsa besar pasaran hoax.

Kedua, tidak sedikit juga kalangan pembaca yang mengatasnamakan kebenaran menentang tulisanyang disinyalir hoax itu. Berbondong-bondong, mereka menanggapinya dengan seribu satu jurus argumentasi.

Biasanya,respons jenis ini dituangkan dalam bentuk artikel tandingan yang kece badai. Pada gilirannya, artikel tolak hoax jadi trending-topic, viral di media sosial.

Saya sendiri bukan sekutu dari kubu tolak hoax. Juga tidak terlalu berharap tulisan ini ikut-ikutan booming. Hanya ingin menunjukan bahwa berbela rasa saja tidak cukup. Kita harus berbela pikir misalnya dengan menulis artikel seperti ini. Saya amat prihatin dan perhatian sama situasi tunggang-langgang begini. Bayangkan sob, saking laku di pasaran,hoax bikin pemerintah gelisah, galau dan merana. Sampai-sampai ada ultimatum tentang darurat hoax. Muncul sederet himbauan agar hoax dibersihkan karena tidak baik bagi kesehatan hidup berbangsa dan bernegara.

Tetapi, kembali ke refleksi utama, betulkah hoax berbahaya?Penulis tidak ingin bertanya kepada pak presiden dan kapolri. Biarlah, pertanyaan ini jadi titik tolak telaah filosofis sederhana mengenai hoax dan kesehatanberpikir.

Dekonstruksi

Perdebatan seputar hoax sebenarnya merupakan perdebatan tentang kebenaran, validitas sebuah teks. Apakah sebuah artikel yang disebarkan di media sosial misalnya, benar sesuai fakta? Ataukah hanya sebuah omong kosong belaka? Tentang status kebenaran teksini, Jacques Derrida, seorang filsuf Prancis di abad 20, mengajukan pandangan menarik. Baginya, kebenaran selalu terkait dengan proses dekonstruksi.

Dalam dekonstruksi kebenaran bukanlah sesuatu yang mutlak dan tetap, melainkan berubah-ubah mengikuti perubahan kenyataan itu sendiri. Jadi, kalau beberapa abad silam manusia pernah meyakini kebenaran tentang matahari mengelilingi bumi, maka setelah Copernicus angkat bicara,orang–orang tahu itu bohong, hanya sebuah hoax besar tentang alam semesta. Kebenaran telah berubah karena faktanya bumi mengorbit matahari.

Dekonstruksi hendak mengritik tradisi logosentrisme yakni sebuah upaya memahami dunia sebagai teks yang disusun dari simbol dan kata. Logosentrisme menekankan kepastian keberadaan dari simbol dan bahasa yang kita gunakan di dalam berpikir. Dekonstruksi menolak itu. Sebuah teks tidak pernah bisa mewakili kenyataan yang ada secara utuh. Sebab bahasa dan simbol dalam sebuah teks yang menjadi alat untuk memahami kenyataan selalu berubah dan tidak pasti. Maka, pemahaman kita akan kenyataan pun selalu berubah dan tidak pasti.

Susah ya pahami ini? Sederhananya gini sob, jika ada yang nulis artikel, jangan cepat yakin kalau isinya pasti benar. Cobalah buat dekonstruksi, telusuri kesesuaiannya dengan fakta atau kenyataan. Ikuti langkah-langkah filsafat dekonstruksi yakni membuat pembedaan dan penundaan dalam memahami teks.

Membedakan berarti mengaktifkan ketidakstabilan di dalam teks yang menghasilkan pemahaman yang berbeda atas kata ataupun kalimat yang sama. Satu simbol atau satu kata bisa dibaca dengan beragam cara yang berbeda, bahkan saling bertentangan.

Penundaan berarti gerak dekonstruksi yang menunda kepastian makna yang ada. Orang berhenti merumuskan apa yang sesungguhnya tak bisa dirumuskan, yakni kebenaran mutlak tentang teks itu sendiri. Simpan saja dulu kebenarannya sampai bisa dibuktikan. Jangan buru-buru, sob.

Status Kebenaran

Menurut metode dekonstruksi kebenaran hanya semacam jejak. Manusia tak mampu memahami kebenaran mutlak pada dirinya sendiri. Yang bisa ia capai hanya merupakan jejak-jejak kebenaran. Ia hanya bisa mendekati kebenaran, tanpa pernah bisa memilikinya dengan utuh dan penuh.

Dalam arti ini, setiap jejak kebenaran selalu bersifat tidak pasti dan terbuka. Ia dinamis seturut perubahan waktu dan peristiwa. Ia selalu terbuka untuk pertanyaan dan sanggahan, sampai muncul kemungkinan lain yang dianggap lebih baik.

Dekonstruksi adalah proses yang terus menerus, tanpa henti dari dalam diri teks itu sendiri. Kebenaran pun lalu dilihat sebagai tafsiran. Ia menafsirkan ulang dirinya sendiri terus menerus, tanpa henti.

Latih Kesehatan Berpikir

Membanjirnya artikel-artikel berisi hoax terutama di media sosial menjadi kesempatan baik untuk kembali mengasah sikap kritis. Setiap pembaca mau tidak mau harus selalu waspada. Derasnya arus hoax menuntut ketelitian dan kecermatan dalam menafsirkan makna. Bahwa sebuah teks tidak pernah bisa mewakili kenyataan yang ada seutuh-utuhnya.

Setiap artikel yang menawarkan berbagai informasi dan pengetahuan harus dibaca dan ditafsir secara berbeda dan berulang. Kemudian kepastian maknanya ditundasampaiditemukankesesuaiandenganfaktaataukenyataan. Kesesuaianinilah yang disebutstatus kebenaran.Jikasemua orang mengambillangkahinimakaniscaya hoax takbakaljadisoal.

Selain itu, perlahan-lahan kewaspadaan ini menghantarkan setiap orang pada sikap kritis. Hoax menjadi semacam kesempatan latihan berpikir. Stop praktek malas berpikir dan sikap comot informasi dan pengetahuan di sana-sini seenaknya saja, tidak teliti.

Kok serius amat? Jangan percaya seratus persen deh sama tulisan ini. Bisa saja saya sedang membohongi anda. Rasain loe, sob! Makanya, tugas anda sebagai pembaca, buat dekonstruksi sederhana. Coba cek status kebenarannya. Yuk, silakan ditafsir dulu.

Maaf ya, saya mau lanjutkan tugas sebagai pengarang untuk tulis artikel lain. Kayaknya asyik nih. Semakin banyak hoax, orang-orang terpaksa harus kritis. Saya kira visi-misi terselubung para penulis danpenyebar hoax yakni menyelamatkan bangsa dan negara tercinta ini dari wabah malas pikir. Cogito ergo sum, saya berpikir maka saya ada. Ada apanya? Hoax saja ditelan bulat-bulat. Makanya mikir, sob. Mikir!!!

 

 

Marto Rian Lesit

Ket Penulis: Marto Rian Lesit adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere-Flores, NTT. Pegiat seni yang berharap suatu saat bisa ngopi bareng komodo. Pria bernama lengkap Yasintus Marto Rian Lesit in sedang menempuh pendidikan filsafat  STFK Ledalero. Beberapa aktivitas yang saya jalani selain kesibukan kuliah dan skripsi adalah membaca dan menulis. Biasanya, saya menulis puisi, cerpen, esai dan opini di media-media lokal dan online serta jurnal sastra. Selain itu, saya juga bergiat di komunitas KAHE (Sastra Nian Tana), pengasuh salah satu rubrik sastra di jurnalnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here