Evaluasi Mateus Sakeus Dibalik Suksesnya “Talk Activism”

0
166
Mateus Sakeus saat berkunjung ke Rumah Kreasi Baku Peduli di Labuan Bajo beberapa waktu lalu./Foto: Afandi Wijaya

FLORESMUDA.COM – Perupa muda, Mateus Sakeus punya kesan untuk pameran tunggalnya yang digelar mulai 13 September sampai 16 September 2017 lalu. Setelah persiapan yang cukup panjang dan pelaksanaan pameran yang berjalan sukses, Teus, begitu ia akrab disapa, mengaku masih perlu mengubah beberapa hal.

Saat disambangi Floresmuda beberapa waktu lalu, Teus mengatakan, salah satu evaluasi dari pemeran tunggalnya adalah dirinya masih sulit menemukan karakter melukisnya sendiri. Pasalnya, saat masih mengenyam pendidikan seni rupa dan berkiprah di Yogyakarta, Teus lebih tekun melukis dengan aliran abstrak.

“Saya belum menemukan karakter melukis saya. Yang saya pamerkan ini terlalu luas. Ada berbagai gaya melukis dan belum menunjukan diri ‘saya’. Ini dianggap seperti tidak punya karakter karena saya sedang dalam masa peralihan ke Labuan Bajo. Saat di Jogja saya melukis abstrak,” ucap pemuda lulusan Institus Seni Yogyakarta ini.

Meski begitu, pameran lukisan Teus yang dilaksanakan di aula Hotel Pelangi Labuan Bajo itu mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat. Jumlah pengunjung yang datang terbilang lumayan. Rata-rata yang datang adalah dari kaum muda dan wisatawan.

“Panitia (pameran) punya banyak jaringan. Yang datang kemarin memang benar-benar pencinta seni. Kan karya seni rupa ini pasif, sehingga orang-orang yang datang memang pecinta seni rupa,” kenang Teus dengan senyum merekah.

Pada pameran melukis Teus dengan tema “Talk Activism” ia menyiapkan 15 panel untuk dipakai memajang seluruh karyanya. Ada lukisan yang diabadikan di atas kanvas, dan ada juga yang diabadikan di berbagai seni kerajinan tangan khas daerah seperti keranjang kebun atau yang disebut roto, dan topi anyaman daun pandan atau yang disebut topi rea.

Kepada Floresmuda, Teus juga membeberkan dukungan berbagai pihak di balik suksesnya pameran tunggalnya tersebut. Saat memutuskan ingin menggelar pameran, pemuda kelahiran 22 Februari 1989 ini mengirim proposal ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Proposal Teus disetujui kemudian mendapat dukungan penuh. Dari situ, Teus giat menyelesaikan karyanya yang tersisa dan mengatur pameran bertajuk “Talk Activism”.

“Tema ini menggambarkan perjuangan saya. Saya hendak menyuarakan banyak hal. Di sini saya memperjuangkan seni juga,” terang Teus saat ditanya makna dari tema pamerannya.

Semangat perjuangan Teus menumbuhkan seni rupa di Labuan Bajo dan Flores pada umumnya diharapkan bisa menular ke kalangan pemuda-pemudi di wilayah Flores maupun Indonesia. Ia juga berencana akan menggelar pameran bersama di waktu mendatang.

“Sudah ada bayangan untuk pameran selanjutnya. Rencana mau membuat Labuan Bajo Binnale dengan beberapa teman lulusan Makassar.  Target perupanya anak-anak sekolah atau seniman muda. Maunya tahun ini tapi kita akan melakukan persiapan,” beber Teus di akhir wawancara. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here