Jelajah Eloknya Tenun Sumba (3)

0
369
Pewarna biru pada tenunan Sumba yang diperoleh dari rendaman nila./Foto: Henny Dinan

Saya bangun terlambat pagi ini. Semalam saya terlambat tidur. Aroma ikan Cara yang menyengat sungguh membuat haru, mengingatkan saya pada situasi rumah. Pagi ini kami sarapan menu ikan Cara dan sayur rumput laut. Ikan Cara ini merupakan oleh-oleh yang dibawa Rambu Putri dari Pota, Kabupaten Manggarai Timur. Kami hanya makan berdua karena suaminya sudah berangkat kerja. Rambu Putri tinggal di rumah modern yang memiliki bentuk yang berbeda dengan rumah lain. Rumah ini berdinding tembok dan beratap seng. Mereka tinggal bertiga dengan satu anak perempuan yang berumur sekitar 17 tahun. Anak perempuan tersebut bernama Yo. Kemudian saya tahu bahwa Yo adalah kerabat jauh Rambu Putri yang mengikutinya setelah menikah.

Selesai sarapan kami menuju ke rumah utama keluarga ini. Di rumah tersebut saya berkenalan dengan bapa mertua dari Rambu Putri yang biasa dipanggil Ama Miri. Di sekitar itu, ada mama Hana dan mama Anggu yang sedang menenun. Dari pengakuan Ama Miri, ia sudah lama menjadi mitra kerja museum tekstil di Jakarta. Beliau memberi saya 5 buku tentang Sumba. Sayangnya buku-buku tersebut hanya boleh dipinjam selama saya berada di sini.

Ama Miri dulunya bekerja sebagai PNS. Dari cerita salah satu anaknya, saya mengetahui bahwa pada awal-awal, Ama Miri melakukan promosi tenun di Kampung Raja. Beliau pernah diundang ke Jepang dan menjadi narasumber di berbagai pertemuan dan pameran tenun Sumba di Jakarta. Sampai saat ini beliau masih aktif dalam mendorong produksi tenun dengan pewarna alami di Kampung Raja.

Selang beberapa menit setelah berkenalan, saya dan Rambu Putri menuju ke rumah Raja. Rumah ini adalah rumah panggung dengan ukuran yang lebih besar. Model seperti rumah lain tetapi atapnya menggunakan seng. Rumah-rumah adat di sini hampir semuanya memiliki bentuk yang sama yakni rumah panggung dengan atap bagian tengah yang tinggi. Beberapa orang menyebutnya rumah menara.

Foto: Henny Dinan

Di dekat rumah tersebut ada pohon berukuran sangat besar dan ditempeli tengkorak-tengkorak hewan. Dari sebuah buku yang dipinjamkan Ama Miri saya mendapat informasi bahwa di masa lalu saat pemerintahan kerajaan masih kuat, tengkorak kepala musuh yang kalah dalam peperangan disimpan di pohon tengkorak tersebut. Dulu pohon tersebut dinamakan andungu. Namun pohon yang ada di rumah raja tentu bukan pohon andungu karena yang digantung bukan tengkorak manusia dan perang suku sudah lama hilang. Di sekitar pohon itu ada juga ukiran batu-batu berbentuk binatang yang dipajang. Ada juga meja batu berbentuk penyu. Terdapat 2 meja batu datar yang disimpan di atas batu alam yang diukir menyerupai babi.

Kami memasuki rumah raja melalui pintu bagian timur yang berada di samping. Mama raja sendiri yang menyambut kami. Saya langsung disuguhi pinang setelah dipersilakan duduk. Sebagai keluarga dekat, Rambu Putri dengan leluasa memperkenalkan saya pada Mama raja (sebutan untuk istri raja). Mama raja ini merupakan istri dari anak raja terakhir yang berkuasa di Prailiu. Supraja terakhir mangkat pada tahun 1978 bernama Tamu Umbu Ngaba Hungu Rihi Eti dan memiliki anak yang diangkat sebagai Raja kecil bernama Tamu Umbu Kamumbu Ngiku yang mangkat pada tahun 1963.

Mama raja sendiri memiliki nama asli Tamu Rambu Kareri Putri. Beliau adalah anak mantu dari raja kecil. Walaupun sistem kerajaan tidak lagi berlaku, namun keluarga-keluarga bangsawan tetaplah sangat dihormati. Mama raja tetaplah dipandang sebagai pemimpin di kampung dan disebut sebagai mama bagi semua penghuni kampung. Jika ada pengunjung, suatu kewajiban untuk meminta ijin dan mengisi buku tamu.

Kami bercerita sambil menikmati ko

pi hitam. Uap kopi mengepul bercampur aroma teh dari gelas lain dan membentuk aroma baru yang menenangkan.

“Sistem kerajaan sudah lama tidak berlaku. Namun orang-orang masih mengenal dengan baik yang mana golongan bangsawan, yang mana rakyat biasa. Pada acara-acara pesta adat atau ada keluarga bangsawan yang diundang, biasanya orang-orang di dapur membedakan perabot makan. Jadi tidak sama dengan undangan yang lain. Tapi kalau kita diundang kita langsung ke dapur untuk kasih tau tidak perlu beda-beda perabot makan. Sama saja. Orang di kampung ada yang tidak tahu pemerintah ini bupati atau siapa. Jadi dong hanya tahu raja,” mama raja mulai bercerita.

“Saya diundang mengikuti kegiatan AMAN (asosiasi masyarakat adat) di Medan pada bulan maret 2017. Mereka sangat tertarik untuk datang. Saya bilang ke mereka; ‘di Sumba sana tidak ada keraton seperti di Jogja.’ Dong tertawa. ‘Kalau tidak percaya nanti datang saja,” lanjut mama raja sambil tertawa.

“Banyak orang yang datang ke sini kah Mama?” saya mengajukan pertanyaan sambil makan buah pinang yang kerasnya membuat gigi ngilu.

“Setiap hari ada yang datang. Ada yang beli tenun, ada yang datang lihat-lihat saja. Ada juga yang datang bikin film. Mira lesmana pernah datang syuting juga, lupa judul filmnya. Kadang ada juga yang datang penelitian. Peneliti pertama adalah seorang antropolog Jepang yang datang sekitar tahun 1992. Sesudah itu ada 2 mahasiswa UI (Universitas Indonesia, red) tahun 1993.” Pembicaraan kami sempat terhenti ketika ada satu rombongan pengunjung lewat.

Seorang ibu penenun di Sumba memamerkan salah satu hasil tenunnya./Foto: Henny Dinan

“Mama menenun juga?” tanya saya kemudian.

“Iya, saya menenun. Sebenarnya saya datang dari wilayah yang tidak ada bikin kain tenun tapi ketika menikah baru saya belajar menenun dari ibu-ibu di kampung ini.”

“Apakah ada ritual khusus kalau mama menenun atau yang bergelar bangsawan?” Tanya saya.

“Tidak. Kecuali pengunaan motif. Kalau zaman bapa raja (bapa mantu) ada beberapa motif yang tidak bisa ditenun oleh golongan rakyat biasa, seperti Patola Ratu dan patola Kamba. motif itu tanda kehormatan raja atau bangsawan. orang-orang tertentu saja yang boleh menenun,” terang dia.

“Apakah aturan itu masih berlaku sampai sekarang, mama?” tanya saya lagi.

“Sudah tidak lagi. Sekarang zaman sudah berubah. Semua orang sudah bisa menenun motif apa saja tergantung keterampilannya. Kalau zaman dulu golongan biasa akan dikenankan hukuman kalau ada yang menenun motif-motif tadi.”

“Hukumannya seperti apa kira-kira?”

“Mama dengar bisa saja kainnya diambil dan dibuang ke muka yang tenun. macam-macam.”

Gelas-gelas kopi sudah kosong dan Mama raja bangun untuk membuang kunyahan sirih pinang. Mama raja menunjukan kepada saya foto-foto keluarga yang tertempel di dinding dan ada lukisan kayu titipan mas Jawa yang katanya sudah hilang kontak.

Setelah lama bercerita dengan mama Raja. Salah seorang menantunya mengajak saya untuk melihat-lihat sekitar rumah. Ada kuburan megalitik yang terbuat dari batu-batu alam yang besar berada di tengah kampung. kurang lebih ada yang berukuran lebar 2 setengah meter dan panjang 3 sampai 4 meter. Pada kuburan tersebut, terdapat 4 atau 6 kaki yang menopang . Penopang ini juga terbuat dari batu alam.

Di atas kuburan tersebut, ada patung-patung yang dibuat dari ukiran batu alam berbentuk binatang-binatang. Di sekitar itu ada juga kuburan-kuburan orang Kristen yang berbentuk seperti kuburan di tempat lain. Besar kecil kuburan juga tergantung pada status sosial.

Hampir di setiap rumah di Kampung Raja ada penenunnya . Mereka sejak kecil sudah dilatih untuk mengulung benang dan saat berumur 15 tahun barulah mereka mulai menenun. Setiap kali ada tamu yang berkunjung mereka akan mengeluarkan kain-kain tenun dan dipajang di bale-bale rumah.

Kami mengunjungi satu penenun yang sudah tua yang dipanggil opung (nenek) berumur sekitar 60-an tetapi masih aktif menenun. Opung juga mengeluarkan kain beserta gelang-gelang cantik yang terbuat dari benang-benang sisa tenunan. Kain-kain tenunnya menggunakan motif-motif kuda dan ayam dan terlihat sangat cantik.

Setelah berkeliling kampung, kami kembali ke rumah utama Rambu Putri. Di sana ada mama Hana dan mama Anggu. Mereka menjelaskan dengan sangat baik nama-nama alat dan proses menenun kain Sumba. Dari penjelasan mereka saya merekam tahapan. Pertama adalah proses pembuatan benang dari kapas. Kapas yang sudah dipetik kemudian dipisahkan dari bijinya lalu dimasukan ke dalam ruas kayu kecil yang dipelintir sehingga bergerak satu arah. Ruas kayu tersebut dilekatkan di atas tempurung kelapa, diputar mengunakan tangan kiri dan tangan kanan memegang sekaligus memasukkan benang. Ketika sudah menjadi helai baru disimpan ke dalam peipak dan mulai proses membuat bola benang yang disebut Kabukul.

Motif Patola Ratu, tenun Sumba./Foto:Henny Dinan

Proses kedua adalah Pamening. Tahapan ini adalah proses menyusun atau menata benang pada bingkai kayu yang disebut Wanggi sehingga memungkinkan untuk diikat berdasarkan gambar yang diinginkan. Tahapan berikutnya menggambar atau design motif. Menggambar sendiri baru muncul 1 dekade terakhir. Dulu proses ikat tidak mengunakan gambar namun berdasarkan hitungan dan keahlian imajinasi yang mengikat.

Saat ini juga masih ada satu dua penenun tua yang membuat ikatan tanpa menggambar terlebih dahulu. Ketika sudah selesai digambar, benang-benang tersebut akan diikat mengunakan tali gewang (kalita) atau sekarang ini ada juga yang menggunakan tali plastik.

Selanjutnya proses pewarnaan. Yang terlebih dahulu dilakukan adalah menyiapkan bahan-bahan pewarna yang paling terkenal; akar kombu (Mengkudu) untuk warna merah dan daun Nila untuk warna biru. Bahan-bahan tersebut direndam dan endapan dari air rendaman tersebut yang akan digunakan sebagai bahan pewarna. Ada juga campuran kapur sirih dan kemiri untuk memperkuat warna. Ketika bahan pewarna sudah siap, benang-benang yang sudah diikat dicelupkan bekali-kali sampai warnanya kuat. Ini juga tergantung warna-warna motif yang diinginkan. Proses ini memakan waktu cukup lama karena sebagian bahan pewarna harus dicari di hutan yang jauh.

Ketika selesai diwarnai, benang-benang tadi dijemur lagi sampai kering. Biasanya benang dijemur setelah dipasang kembali ke dalam Wanggi dan disusun rapi lagi berdasarkan gambar. Proses jemur tergantung cuaca. Jika sudah kering baru siap ditenun.

Yang menarik dari penenun di Kampung Raja adalah semua penenun mengunakan pewarna alami dan ada aturan bersama untuk tidak menjual kain-kain yang mengunakan warna tekstil. Mereka dengan setia menggunakan pewarna alami sekalipun sangat susah mendapatkan bahan pewarna biru di musim kering seperti saat ini. Kadang mereka membeli kain Hinggi yang murah dan menggunakan pewarna tekstil untuk upacara kematian sebagai kain pembungkus mayat.

Selain penjelasan-penjelasan lisan dan sesekali menunjukan alat-alat yang ada, Ama Miri berdiskusi dengan Mama Hana dan mama Anggu dan meminta mereka mempraktekkan semua proses-proses yang mereka jelaskan sebelumnya. Mendengar ide tersebut saya bersorak tiada henti dalam hati.

“Ina… tidak apa-apa kah meluangkan waktu untuk bikin itu semua?” tanya saya dengan perasaan tidak enak.

“Tidak apa-apa…kami biasa juga bikin kalau ada yang datang,” jawab mama Hana sambil mengunyah sirih pinang.

‘Wah…terima kasih banyak Ina,” saya ucapkan kalimat ini berkali-kali.

Saya merasa beruntung sekaligus terharu dengan keterbukaan dan kerelaan mereka. Saya memutuskan untuk membuat video-video untuk merekam semua proses tersebut. Mama Hana memulai dengan membuat benang dari kapas sampai proses membuat bola benang. kemudian mama Anggu dan Yo dibantu suami mama Anggu membuat Pamening. Proses pamening sendiri sama persis seperti Pidik atau maneng di Manggarai. Yang membedakannya adalah alat yang digunakan.

Saat mereka selesai pamening, Mama Hana menunjukan kepada saya contoh benang-benang yang sudah digambar dan dia membuat ikatan dengan tali gewang. Sebagai orang baru yang sangat asing dengan tenun ikat, saya bertanya banyak hal. Namun karena banyaknya nama-nama alat dan proses dalam bahasa daerah Sumba Kambera, sulit untuk mengeja dan mengingatnya. Sumba Kambera satu-satunya bahasa daerah yang digunakan di Sumba Timur.

Sambil melihat dan merekam proses saya ngobrol dan bertanya beberapa hal kepada Ama Miri;

“Ama, apakah ada laki-laki yang menenun di sini?” tanya saya kemudian menceritakan bahwa di wilayah Cibal, Kabupaten Manggarai terdapat satu-dua laki-laki yang menenun.

“Dulu laki-laki tidak bisa (baca:diijinkan) ikat, tidak bisa (diijinkan) tenun. Sekarang kan mau cepat-cepat jual dan dapat uang, laki-laki bisa ikat, bisa tenun,” jawab Ama Miri.

“Apakah ada larangan atau aturan tertentu selama proses menenun?” saya kembali bertanya.

“Kalau sedang proses pewarnaan laki-laki juga tidak boleh lewat. Tapi itu dulu. Sekarang tidak,” lanjut Ama Miri.

“Oh jadi ada aturan yah, Ama? Selain itu ada aturan lain?” tanya saya lebih lanjut.

“Kalau perempuan sedang datang bulan juga tidak diijinkan lewat. Juga yang sedang berbadan dua. Itu berlaku saat proses pewarnaan saja.”

Saya menyimak sambil menganggukkan kepala.

Daya baterai kamera saya lemah. Saya meminta mama Hana dan mama Anggu agar melanjutkan proses pewarnaan di hari selanjutnya. Pada saat yang sama juga dua bus ukuran besar yang ditumpangi pengunjung datang. Mama Hana dan mama Anggu keluar dari pendopo rumah dan membawa kain tenunnya untuk dipajang di salah satu rumah tempat para pengunjung berkumpul. Dari bahasanya mereka pasti berasal dari Korea. Saya sangat familiar dengan gaya bicara mereka. Maklum saya pernah demam drama Korea selama berbulan-bulan dan beruntung sudah sembuh saat mengenal kopi Contura.

Saya menikmati dengan sungguh situasi kampung ini. Budayanya benar-benar konsisten walaupun berada di tengah kota. Saya dan Ama Miri melanjutkan obrolan tentang masa muda dan cerita-cerita beliau. Sesekali kali tergelak-gelak. saya lebih banyak mendengar dan merespon seadanya. Di satu sisi, saya baru mengalami lagi moment bercerita dengan orang tua yang sangat kaya pengalaman dan pengetahuan. Kakek saya juga mirip-mirip seperti Ama Miri. Ketika beliau bercerita, sebaiknya kita diam merekam dan jangan sesekali memotong. Menurut saya, orang tua rata-rata sangat gemar bercerita. Ama Miri juga bercerita bagaimana perjuangannya mengirim semua anaknya ke sekolah formal dan dia bersyukur sekali mereka semuanya menyelesaikan pendidikan dan sudah bekerja.

Kami masih asyik bercerita ketika Yo membawakan kami teh. Saya sudah lupa berapa banyak gelas kopi dan teh yang saya minum hari ini. Ama Miri beranjak dari tempat duduknya dan menunjuk ke salah satu potret dalam bingkai kaca yang tertempel di dinding.

”Ini foto istri saya. Dia meninggal tahun 2005. Sejak dia meninggal banyak yang bertanya kenapa saya tidak menikah lagi? Saya menjawab tidak. Orang itu hanya mati satu kali, hidup juga satu kali. Bagaimana, dia cantik kan?”

“Cantik sekali, Ama,” saya menjawab dengan penuh hormat. Dalam hati rasa kagum saya berlipat ganda terhadap bapa ini.

Ama Miri juga turut menjual kain-kain penenun di Kampung Raja ketika ada pameran di Jakarta atau tempat jauh. Ada yang pernah dijual sampai Rp15 juta, katanya.

“Milik adik itu,” katanya sambil menunjuk seorang bapak yang sedang menggambar di atas benang-benang. “Saya tidak ambil untung kalau menjual kain milik dia. Dia ini jago gambar. Jadi dia cukup gambar benang untuk saya. itu balasan,” lanjut Ama miri sambil sesekali menyeruput teh panas.

Saya kemudian bercerita saat saya ke pasar ada banyak penjual kain tenun di sana. Lalu ada sebutan kelas-kelas kain itu dan cukup membingungkan bagi orang yang tidak bisa membedakan tenunan asli dengan yang mengunakan bahan tekstil.

“Tenunan asli berbau tajam karena proses pewarnaan mengunakan pewarna alami yang sangat tajam baunya. Kombu dan Nila itu bau sekali kalau sudah direndam, sedangkan yang tekstil tidak beraroma sama sekali seperti baju-baju katun,” Ama Miri mulai menjelaskan.

Kemudian saya bercerita bahwa ada informasi dari media sosial tentang industri tekstil yang memproduksi tenunan yang juga memproduksi motif-motif Sumba dan bagi yang tidak tahu akan sulit membedakan apakah itu tenunan asli atau bukan. Ama Miri mengambil satu lembar Hinggi dan menunjukan kepada saya pinggir-pinggirnya.

“Kalau kain buatan mesin, bagian pinggir sini tidak akan rapi seperti ini. Kalau tenun tangan, benang pakannya akan ditarik, sehingga akan rapi. Kalau buatan mesin tidak,” Katanya sambil menunjuk pinggir kain.

“Bagaimana dengan ukurannya Ama?” tanya saya lagi.

“Kain tenun asli, kalau mau lebar harus sambung 2 lira (lembar) kain dan akan ada jahitan di tengah. Kalau tenun tekstil tidak.”

Saya hendak bangun dan pulang istrahat ketika Ama Miri mulai bercerita tentang betapa pentingnya fungsi tenunan di Sumba.

“Ada tiga fungsi. Pertama untuk pakai, yang ke dua untuk membungkus mayat, dan yang ke tiga untuk jual dan hadiah-hadiah. Kalau ada kawin-mawin, dari pihak laki-laki menyiapkan kuda, juga dengan mamuli. Dari pihak perempuan, dia balas dengan kain sarung dan kain hinggi.”

Hari sudah sore, ada bias cahaya senja di sela-sela atap ilalang yang menjuntai. Saya pamit dengan Ama Miri dan berterima atas informasi yang dibagikannya kepada saya. Dari kejauhan saya melihat pengunjung beranjak pulang. Mama-mama penenun pun mengepak jualannya dan kembali pulang ke rumah masing-masing dengan memikul tenunan di atas kepala mengunakan Bola Malulu (keranjang anyaman pandan hutan). Mama-mama Penenun yang sudah berumur kebanyakan memiliki tato bermotif tenun. Nantilah besok lusa kita bertanya dan bercerita adakah makna dibalik tato-tato tersebut.

Laporan: Henny Dinan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here