Jelajah Eloknya Tenun Sumba (2)

0
471
Salah seorang penjual kain tenun di Pasar Inpres, Waingapu memamerkan salah satu tenunan asal Sumba/Foto: Henny Dinan

Setelah istirahat siang kira-kira pukul 15.00 WITA, saya bangun dan memutuskan untuk melihat situasi kampung. Dari rumah ke rumah saya melihat banyak ibu-ibu sedang menenun dan di sampingnya ada bapak-bapak yang menggambar motif (tahapan ketiga dalam proses persiapan untuk menenun). Di tempat lain ada yang sedng mengikat motif yang sudah digambar menggunakan pandan hutan. Di setiap rumah, kaïn tenue beranekaragam dan benut dipajang. Turis datang hampir setiap hari ke sini.

Menenun merupakan pekerjaan utama di Kampung Raja. Karena hari ini hari pertama, saya belum menanyakan apapun dan belum memotret di rumah-rumah lain yang saya kunjungi, kecuali rumah Rambu Putri tempat saya menginap.

Saya melanjutkan perjalanan menuju ke pasar kemudian berdiri menunggu pengojek di jalan umum. Ada jalan khusus menuju kampung raja. Seperti perkampungan adat lainnya, di pintu masuk kampung ini terdapat gerbang masuk dengan dua batu tua penuh ukiran. Saya menunggu pengojek lumayan lama sambil mengamati kendaraan yang melintas. Ada becak, ada bus-bus model lama yang panjang yang dulunya sempat ramai di Pulau Flores di era tahun 2000 ke bawah.

Seorang anak kecil berumuran sekitar 10 atau 11 tahun membantu menahan pengojek untuk saya. Akhirnya saya naik ojek dan meminta pengojek mengantar saya ke Toko Global Tekno.

“Orang baru ya di sini?” tanya si pengojek sambil melambaikan tangan ke teman-temannya di pangkalan tepat depan lapangan pacuan kuda.
“Iya. tadi baru sampai,” jawab saya.
“Orang mana?” Tanya dia lagi.
“Orang Flores.”
“Oh, orang Flores. Saya juga pernah ke Flores dii Borong apa Bareng namanya. Dulu diajak deng kawan dari Bajawa. Dong teman kerja. Sama-sama tukang,” ujar si pengojek.
“oh begitu,” ucap saya singkat.

Kami sampai di toko Global Tekno. Pengojek tersebut berniat menunggu dan mau mengantar saya saat pulang. Global Tekno merupakan toko elektronik yang sangat lengkap. Di sini dijual laptop-laptop, kamera-kamera beraneka merk-dari yang termurah sampai yang paling mahal sehingga jika ingin membelinya harus berpuasa selama berminggu-munggu. Ada juga telepon genggam dengan berbagai merek. Selain itu, terdapat aksesoris kamera, laptop, dan telepon genggam.

Saya langsung menuju tempat pajangan laptop yang sangat dekat dengan kasir berdarah keturunan Tionghoa. Dibantu oleh pelayan toko perempuan, saya diberikan brosur yang isinya adalah berbagai jenis laptop dengan rincian kapasitas dan harga per unit. Saya memutuskan untuk mengambil notebook merek Acer 11, 6 inchi dengan procesor 5365. Saya sempat ditawari yang bermerek Asus dengan harga yang sama.

Saya mendengar penjelasan panjang lebar dan disertai bisik-bisik pelayan toko laki-laki yang kelihatan menghafal semua produk-produk di sini. Notebook yang saya beli punya dolmen garanti dengan masa garansi selama satu tahun. Setelah membeli, saya keluar dari toko dan mendapati om Benya, nama si pengojek yang mengantar saya tadi, masih menunggu di luar.

“Kita kemana?” tanya dia.
“Ke pasar saja om. Saya mau lihat-lihat kain tenun.”

Kami lalu melanjutkan perjalanan. Om Benya ternyata berasal dari Sabu. Ia sudah lama tinggal di Waingapu dan kadang bekerja menjadi tukang ojek. Kadang-kadang ia juga menjadi tukang bangunan.

Kain tenun Sabu/Foto:Henny Dinan

Mungkin karena orang Sabu, setiba di pasar Om Benya langsung membawa saya ke penjual tenunan Sabu. Tenunan Sabunya cantik-cantik. Motifnya macam-macam. Ada yang berbentuk bunga besar, burung merpati, dan ada juga motif lain yang berwarna keemasan. Kain-kain tenun ini kebanyakan berwarna dasar hitam dengan corak motif di bagian tertentu. Warna motifnya didominasi oleh warna putih, cokelat, kuning yang agak pudar dan ada sebagian kecil berwarna merah. Selain itu, ada juga yang berwarna dasar hijau dan hitam.

Bapak yang menjual kain tersebut juga sempat ke Manggarai.

“Kalian sebut ‘babi’ tanpa ada penekanan di huruf ‘b’,” katanya dengan memasang ekspresi geli di wajahnya
Saya senyum-senyum sendiri ketika bertanya; “Salahnya dimana Bapak?”
“Ah, tidak. Lucu saja sebut ‘babi’,” kata dia.

Bapak ini menjual khusus kain Sabu. Harganya berkisar dari Rp200 ribu sampai Rp400 ribu. Sayangnya, ia tidak menjual kain kecil.

Saya dan om Benya melanjutkan perjalanan ke pasar Inpres. Di sana, tepat di pintu masuk terdapat banyak sekali penjual kain tenun. Penjual di sini kebanyakan laki-laki. Tidak semua kain memiliki sebutan yang sama. Ada kain Kanbera, Pahikung, dan Kaliuda. Penamaan tersebut merujuk pada wilayah tempat produksi , desain, dan teknik pembuatan.

Kain Kanbera konon disebut sebagai kain nomor satu karena dibuat menggunakan benang dan pewarna alami. Harga yang dijual di pasar berkisar Rp1,7 juta sampai Rp2 juta. Setelah itu, di urutan ke dua adalah kain tenun yang pembuatannya mengunakan dua bahan pewarna yakni pewarna alami dan pewarna tekstil. Harganya berkisar Rp700 ribu per lembar.

Tenunan urutan ke-tiga, harganya berkisar Rp400 ribu per lembar. Pembuatannya mengunakan benang dan pewarna tekstil dengan proses pengerjaan yang kurang rapi. Kain-kain tersebut biasaya dipakai untuk penghormaatan kepada orang yang meninggal. Penduduk setempat biasa menggunakannya untuk membungkus mayat.

Selain itu juga ada beragam kain sarung khusus untuk perempuan. Yang paling terkenal disebut Lau Pahikung dengan harga paling rendah Rp900 ribu. Kainnya cantik dan menurut saya pribadi, kain sarung tersebut adalah kain terbaik yang pernah saya lihat. Sedangkan kain untuk laki-laki disebut Hinggi. Ada Hinggi kombu yakni sarung yang dicelup dan berwarna merah mengunakan akar kombu atau mengkudu, dan ada juga Hinggi Kawuru yang proses pewarnaan mengunakan daun Nila sehingga menghasilkan warna biru.

Masih banyak lagi sebutan dan pengelompokan kain “Hinggi dan Lau”. Itu tergantung motif dan teknik pembuatan juga wilayah tempat produksi.

Kain tenun Sumba asli/Foto:Henny Dinan

Kain-kain Sumba asli memang sangat mahal jika dibandingkan dengan kain-kain daerah lain di Provinsi NTT. Tetapi, kalau kita mengikuti baik proses pembuatannya, memang dibutuhkan waktu yang lama dan bertahap. Mulai dari proses penyiapan benang sampai siap ditenun.

Selain itu, teknik dan desainnya juga rumit. Namun setelah menjadi kain utuh, hasilnya luar biasa cantik. Saya sendiri terkagum-kagum saat melihat. Sayangnya, saya hanya bisa mengabadikannya lewat foto dan belum bisa memilikinya. Tak apalah!

Tenun Sumba kaya akan warna dan motif. Desainnya juga tegas. Tidak salah kalau tenunan Sumba disebut sebagai salah satu kekayaan warisan dunia.

Oh iya, kembali ke cerita di Pasar, beberá-a penjual kain tenun ini juga menjual kainnya lewat akun Facebook. Saya pernah mengintip ke sana. Harganya sama persis dengan harga antara carga di media sosial dan yang mereka jual langsung di pasar.

Setelah puas melihat tenunan, saya diajak om Benya untuk melihat pelabuhan tua yang berjarak 3 kilometer dari Pasar Inpres.

”Pelabuhan ini khusus untuk kapal-kapal barang. Kalau pelabuhan satunya lagi yakn pelabuhan baru dipakai untuk muat orang,” jelas Om Benya.

Pemandangannya keren dengan hamparan pantai yang luas. Saat kami datang, air laut sedang surut sehingga bisa melihat hamparan pasir yang luas dengan potongan kecil rumput laut yang berwarna hijau di bibir pantai. Di arah barat, ada bentangan padang bukit yang panjang sehingga laut seperti berada di tengah-tengah. Bukit teilhat seperti menjadi benteng. Pokoknya keren!

Pemandangan yang terlihat dari pelabuhan tua Waingapu, Sumba Timur/Foto: Henny Dinan

Kapal-kapal barang berukuran besar ada sekitar 4 sampai 5 unit berada di situ. Terdapat 2 Kapal yang sedang menurunkan barang berupa besi dan bahan bangunan. Di sekitar itu juga terdapat kapal-kapal kayu kecil milik nelayan.

Di bantaran pelabuhan, anak-anak kecil terlihat  bermain bola. Sedangkan di pinggir-pinggir pelabuhan terdapat warung-warung tempat orang menjual makanan.

Saat matahari terbenam, ia tenggelam dibalik bukit. Tidak terlihat ditelan lautan seperti yang digambarkan dalam puisi-puisi. Sore itu saya menghabiskan segelas cappuccino di kafe dekat pelabuhan Tua dengan beberapa teman baru dan teman lama yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama menghilang.

Segelas cappuccino menutup cerita hari pertama dan saya baru teringat bahwa lensa kamera saya tertinggal di pesawat.

Salam buat kalian yang menikmati kopi Hitam dirumah!

(Sumba pukul 12.30 WITA, di tengah Kampung Raja ditemani sahutan salak anjing dan musik dangdut dari tetangga sebelah)

Laporan: Henny Dinan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here