Tangan Gun Fals di Meja Barista Baku Peduli Center

0
454
Gun Fals berpose di depan karya lukisnya pada meja barista Baku Peduli Center, Selasa, 19 September 2017

Ada warna baru di rumah Baku Peduli Center yang berlokasi di salah satu sisi jalan Dusun Watu Langkas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Warna baru ini, kembali disemarakkan oleh seniman muda yang akrab disapa Gun Fals.

Setelah sebelumnya memajang beberapa lukisannya di dinding-dinding Rumah Kreasi Baku Peduli di Jalan Frans Lega Cowang Dereng-Labuan Bajo, dan beberapa yang lain di Baku Peduli Center di Watu Langkas, pria dengan nama lengkap Anjelus Guntur ini kembali menyapukan idenya pada salah satu meja di ruang depan Baku Peduli Center. Aksinya ini dilakukan pada Selasa, 19 September 2017.

Pada pantauan Floresmuda.com, Gun memulai aksi melukisnya dengan mengamplas salah satu sisi meja triplek itu. Rencananya, media lukis Gun ini kelak akan dipakai sebagai meja barista di Rumah Baku Peduli Center. Ia menggunakan cat dasar putih yang terang. Setelah itu, mulai menyapukan kuas kecil dengan campuran warna dasar dari merah, biru, kuning, hijau, dan hitam.

Gun menirukan gambar yang ada di telepon genggamnya. Ia memulai lukisannya dengan membuat sketsa ringan hingga terbentuk wujud utama. Mulai dari menggambar sesosok manusia yang tengah khusyuk menyeruput kopi, kemudian menggambar tumpukan buku dengan secangkir kopi di atasnya.

Berawal dari sketsa tanpa makna, kuas Gun kemudian meliar pada permukaan triplek putih. Ia tampak lihai menggerakkan kuas pada permukaan triplek dengan aneka warna yang berhasil diciptakannya sendiri. Dari satu sisi ke sisi lain, dengan warna beranekarupa hingga menciptakan wujud yang abstrak dan apik.

“Begini saja melukis ini,” kelakarnya pada beberapa rekan yang memperhatikannya melukis.

Lukisannya belum rampung saat ia meladeni beberapa pertanyaan Floresmuda.com. Gun bercerita bahwa ia sudah tertarik pada dunia melukis sejak sebelum masuk sekolah dasar. Dulunya, ia lebih banyak menggambar menggunakan kapur tulis di dinding dan lantai rumah.

“Dulu saya kalau menangis, pasti karena tidak ada kapur,” bebernya sambil tersenyum.

Singkatnya, perupa asal Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat ini belum begitu serius menekuni hobinya tersebut sampai akhirnya ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Saat memutuskan kuliah, ia sempat berhenti melukis.

“Waktu kuliah saya berhenti melukis karena saya pikir tidak ada gunanya,” ucap dia

Gun mengenyam pendidikan di Makassar dan mengambil jurusan Bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Yayasan Pendidikan Ujung Pandang atau disingkat STKIP YPUP. Saat masuk semester tujuh, pria kelahiran 10 Desember 1986 ini mengaku baru menyadari bahwa di perguruan tinggi terdapat cabang ilmu seni rupa.

“Saat itu saya bingung. Mau kuliah ulang ambil seni rupa atau bagaimana. Akhirnya putuskan autodidak.”

Setelah menyelesaikan obrolannya dengan Floresmuda.com, pria yang juga terampil menggambar tato ini melanjutkan lukisannya dengan khusyuk. Saat merasa cukup mewarnai sisi-sisi gambar utama, ia mulai mempertegas dua objek utama lukisannya. Gun mencampurkan cat berwarna putih dan hitam lalu mulai mewarnai. Lukisannya selesai sekira pukul 21.00 WITA. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here