Kencan dengan Drum

0
559
Rio Sutardi sedang bermain drum di hotel Jayakarta, Labuan Bajo dalam salah satu pementasannya. (Foto:Mantover)

OLEH : RIO SUTARDI

Saya bersyukur pada akhirnya saya bisa bermain drum.  Karena tidak semua orang bisa bermain drum mengingat tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi. Drum adalah penjaga kestabilan ketukan sebuah musik.

Awal saya mengenal drum saat duduk di kelas 3 SD. Pada waktu itu, keluarga kami mempersiapkan sebuah pesta perak pernikahan kakek saya dan ayah saya membelikan seperangkat alat musik termasuk drum.

Saat melihat orang bermain drum,  saya benar-benar terpesona. Bagaimana bisa seseorang menggerakan kaki dan tangan pada saat bersamaan apalagi menghasilkan bunyi yang harmonis.  Kemudian timbul tekad dalam batin saya, suatu saat saya harus bisa bermain drum.

Setahun kemudian, alat-alat musik yang sama dipakai untuk memeriahkan acara komuni pertama saya. Kekaguman saya terjadi ketika om saya bermain drum. Saya ingin sekali bermain drum.

Pada malam harinya, saya mulai berlatih. Entah kenapa, saya mudah saja menyesuaikan diri dan bisa mempelajarinya dengan cepat. Sejak itu saya terus berlatih dan menabuh drum di studio musik di rumah kami.

Rio Sutardi tampil dalam acara Festival Komodo 2017. (foto:Rio Prakoso)

Usai tamat Sekolah Dasar, saya bersyukur karena melanjutkan sekolah di Seminari Kisol. Di sana, saya terus mengasah kemampuan bermain drum. Di berbagai kegiatan dan pentas, saya mulai dipercayakan. Saat konser angkatan kami, misalnya, saya memainkan drum. Saat itulah tantangan semakin besar karena berhadapan dengan pemusik yang terlatih dan berpengalaman. Suatu kali kami terlibat dalam acara pemetasan di kota Ruteng. Saya terus berlatih bermain drum lantaran acara itu cukup bergengsi.

Sedari itu, saya percaya bahwa kemampuan akan terus terasah jika terbiasa berada dalam suatu pemetasan atau panggung.  Saya selalu terpacu bagaimana menarik minat dan perhatian penonton.

Di Labuan Bajo, saya akhirnya banyak menempa pengalaman bermain drum karena sering ikut pementasan.  Saya pernah bergabung dengan teman-teman komunitas Bolo Lobo untuk bermain drum. Bahkan kami pernah bermain di paradise, salah satu tempat hiburan ternama di kota Labuan Bajo. Namun saat itu saya kadang bermain gitar bass. Di sana saya benar-benar belajar untuk terus berkembang.

Sementara itu, beberapa kegiatan yang diselenggarakan turut membentuk dan mempertajam kemampuan saya bermain musik terutama drum. Saya dan teman-teman tampil pada acara Labuan Bajo Art Festival 2016.  Itu pengalaman saya tampil di panggung yang lebih besar. Setelahnya, pengalaman jauh lebih banyak.

Sampai akhirnya kami membentuk band. Namanya BaNera yang diambil dari bahasa Manggarai. Artinya, pembawa terang. Anggotanya antara lain, Rio Sutardi sebagai drummer, Ricky Saida dan Vich Putra dan Kevin Asmin sebagai gitaris, sementara Lili, Bani dan Riiano sebagai vokalis.

Sebagai ajang pertama kami adalah selama Festival Komodo (4 february-4 Maret). Sepanjang acara tersebut, kami bisa tampil sebanyak empat kali. Bagi saya, ini pengalaman yang tak terlupakan karena saya baru merasakan upah dari bermain musik.

Agar terus mengasah diri, saya coba terlibat dalam berbagai komunitas yang berinisiatif membentuk kegiatan. Salah satunya, lauching komunitas di Labuan Bajo pada awal tahun ini. Saya salah satu panitianya dan bersama teman-teman kami juga tampil pada acara tersebut. Saya merasa sangat berbangga.

Hanya karena keseringan tampil, kelompok band kami mulai dikenal banyak orang. Kami pun mulai menerima permintaan manggung di hotel Jayakarta.  Ada yang unik saat itu. Pemain bass kami tak bisa ikut. Terpaksa saya meminta kesediaan adik dari bapak saya. Untungnya dia bersedia. Namun pada hari-H dia berhalangan. Kami mencari sana-sini, tapi akhirnya ada juga orang yang bisa membantu kami.

Malam itu adalah malam pertama kali saya tampil di hotel berbintang. Saya sangat beruntung sekali bisa tampil di hadapan beragam latar belakang penikmat musik saat itu.

Dari berbagai pengalaman itu, saya merasa bahwa saya sedang dalam perjalanan menuju kesuksesan dalam bermusik. Saya berharap saya tetap tekun dan terus mengasah kemampuan saya. Saya berharap lebih banyak teman dan komunitas yang terlibat dalam perjalanan saya di dunia musik.

Penulis adalah siswa di SMAK St. Ignatius Loyola, Labuan Bajo.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here