Gun Fals, Ubah Kapur Jadi Pensil

0
517

Floremuda.com–Sudah lama tidak menggambar, Gun terpesona ketika melihat sebuah lukisan sketsa di sebuah Mall di Makasar pada tahun 2007.

“Ternyata bisa melukis wajah sedetail ini hanya pakai pensil” katanya membatin.

Saat itu, ia baru saja beberapa pekan bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni di STKIP YPUP Makassar. Menginjak semester tujuh di Kampus, ia kembali mengasah kemampuannya di bidang menggambar dan bergabung dengan UKM tersebut.

Namun hari itu, ia merasakan inspirasi yang baru.

“Saya harus bisa menggambar dengan pensil” begitu ia bertekad.

***

Menceritakan pengalamannya dalam menggambar, Gun Fals mengekpresikan kekesalannya.  Ia merasa sedikit terlambat mengasah kemampuannya tersebut.

“Sejak kecil sebelum masuk SD, saya sudah pandai sekali menggambar. Andaikata saya menekuninya sejak itu” ujar pria kelahiran Desember 1986 ini.

Gun Fals menggambar wajah John Lenon
Gun Fals menggambar wajah John Lenon

Diceritakannya, ketika duduk di bangku Sekolah Dasar di Dalo, kecamatan Ruteng, kabupaten Manggarai, ia menghabiskan waktunya dalam kamar untuk menggambar.

Ia mengoleksi banyak buku hanya untuk melihat gambar di dalamnya. “Buku-buku tersebut saya ambil dari perpustakaan sekolah”. Ia beruntung karena ayahnya sendiri yang menangani urusan perpustakan.

“Dulu saya sayang sekali buku. Daripada tidak dibaca, saya angkut ke rumah, dan melihat satu per satu gambarnya”.

Kebiasaan unik lain yang sering ia lakukan juga adalah mencuri kapur. Ia suka menggambar dengan kapur. Ketika pintu sekolah ditutup ia masuk lewat jendela. Sudah rahasia umum di sekolah, jika kehilangan kapur, Gun yang disalahkan.

“Di rumah, saya mencoret sana-sini. Hanya menggambar.”

Dalam kebiasaan menggambarnya, ia mula-mula menekuni satu gambar. Misalnya, gambar seorang tentara, ia ikuti dari buku.

“saya melatih gambar tentara sampai saya lincah baru beralih ke gambar lain”

Namun masa kecil Gun ditandai pindah-pindah sekolah. Saat ia kecil, ia menyaksikan “perang tanding” antara Dalo dan Ngkor. Ia terpaksa mengungsi bahkan pindah-pindah sekolah. Ada yang hanya berlangsung selama seminggu saja.

***

Ketika memasuki Sekolah Menengah Pertama Santu Klaus, Kuwu (1999-2000), kebiasaan melukis Gun mulai berkurang. Banyak aturan tinggal di asrama yang membuat ia canggung dan lebih berhati-hati dari sebelumnya. Apalagi, saat itu ia mulai fokus belajar karena takut dikeluarkan.

“Yang mendesak dilakukan saat itu adalah belajar. Kalau tidak, bisa dikeluarkan” akunya.

Meski demikian, ia tetap mengasah kemampuannya itu. Kemudian ia berpindah sekolah dan bergaul dengan banyak orang dan semakin dilupakan.

Memasuki masa SMA, ia sudah melupakan sama sekali kebiasaannya itu. Ia lebih banyak bergaul dengan teman-teman bahkan menghabiskan sebagian besar waktunya bersama teman-teman.

Karena kebiasaannya itu, ia berpindah-pindah sekolah. “Hampir pasti semasa SMA, saya sudah tidak pernah menggambar lagi” alumnus SMAK Fransiskus Xaverius Ruteng ini.

***

Meskipun hampir menjelang semester terakhir, ia senang  bisa bergabung dengan UKM Seni di kampus pada tahun 2007. Saat itu, semua mahasiswa wajib memilih UKM.

Bergabung dengan kelompok tersebut, ia mulai mengasah kemampuan melukisnya lagi. Teman-temannya saat itu terkejut dengan kemampuan lukisnya.

Gun sangat mengagumi Iwan Fals. Nama belakangnya pun ia kenakan "Fals". Ini salah satu lukisan favoritenya
Gun sangat mengagumi Iwan Fals. Nama belakangnya pun ia kenakan “Fals”. Ini salah satu lukisan favoritenya

“Mereka lalu mulai mempercayai saya dan diberikan ruang untuk bereksplore” kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

Pengalamannya di mall membuat ia kerajingan menggambar dengan pensil. Tiap hari ia mulai menerima pesananan sketsa dari teman-temannya.

Selanjutnya, karena menyukai iklim seni di UKM seni, ia menambah setahun lagi waktu kuliahnya.

“Saya sengaja tambah waktu kuliah biar lebih lama bergaul dengan seni,” akunya.

****

Gun menerima pesanan sketsa. Ini adalah salah satu contohnya.
Gun menerima pesanan sketsa. Ini adalah salah satu contohnya.

 

Ketika kembali ke Manggarai usai kuliah, Gun semula menjadi guru SMP di kampungnya. Dua tahun menjadi guru, ia merasa kewalahan. Akhirnya ia mengundurkan diri dari guru.

“walaupun bertentangan dengan orangtua, tapi saat itu saya lebih memilih fokus kepada seni”

Alasan dia memilih fokus pada seni karena di Manggarai sendiri sangat jarang orang yang menaruh fokus pada seni rupa. Sejauh yang ia perhatikan, seni rupa hanya menjadi pekerjaan sambilan.

“Sekaligus ini membayar masa lalu saya yang kurang fokus pada seni” ujarnya.

Karena itu ia bermimpi mempunyai studio seni rupa dimana ia bisa memajangkan karya-karyanya dan menekuni kesenian lain seperti pembuatan tato dan kerajinan tangan. (GA)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here