*) Boe Berkelana

Di banyak negara, isu tentang keberagaman berkembang dengan corak dan kekhasannya masing-masing. Begitu pula dengan pembangunan dan perubahan-perubahan sosial yang menyertainya. Tentu saja menyoal keberagaman bukan saja menyoal  hidup berdampingan dan saling bertoleransi antara yang satu dan yang lain atau sekedar merayakan perbedaan, namun lebih dari itu ia meniscayakan kita untuk kembali berpikir secara kritis dan melibatkan diri dalam konteks ketidakadilan sosial yang ditimbulkannya. Perbedaan seringkali menandakan ketidaksamaan yang bukan saja muncul dalam konteks lokal dan nasional namun juga dalam konteks global.

Dalam nada dasar itulah kemudian the University of Humanistic Studies (Utrecht, Belanda), lembaga internasional Hivos yang berbasis di Belanda, Azim Premji University (Bangalore, India), Pusat Studi Agama dan Demokrasi-Paramadina (Jakarta, Indonesia), CRCS- Universitas Gajah Mada (Yogyakarta, Indonesia) dan the Institute for Reconciliation and Social Justice of University of the Free State (Bloemfontein, Afrika Selatan) menginisiasi sebuah kuliah singkat tahunanberupa summer school dengan fokus  kajian pada keberagaman dan pembangunan (pluralism and development).

Program ini kemudian mempertemukan para praktisi organisasi non pemerintah (NGO), para aktivis, dan mahasiswa program magister dan doktoral dari beberapa negara untuk secara bersama terlibat dalam sebuah ‘comparative dialogue’ tentang keberagaman, pembangunan, dan perubahan sosial berdasarkan teori dan praktiknya di setiap negara.

Untuk tahun 2016 ini, summer school yang pertama kali diadakan pada tahun 2004 ini dilaksanakan di kota Bangalore, India. Mengambil tema ‘Pluralism, Development and Social Change’, summer school tahun ini diikuti oleh dua puluh orang peserta dari empat negara (India, Belanda, Afrika Selatan dan Indonesia) dan lembaga Hivos internasional.

Selama kurang lebih tiga pekan kegiatan, para peserta selain mendapatkan kuliah umum seputar teori-teori dan diskusi tentang keberagaman, pembangunan, dan perubahan sosial, juga diberikan beberapa tugas presentasi individu dan kelompok.

13599886_1230251980319996_7834329671294641181_n

Peserta dari Indonesia sendiri adalah perwakilan dari PUSAD Paramadina Jakarta, Komunitas anak muda ‘Pamflet’ Jakarta, Universitas Kristen Maranatha-Bandung, dan Komunitas orang muda Labuan Bajo-NTT.

Para pembicara sekaligus para mentor adalah Dr Caroline Suransky (University of Humanistic Studies, Belanda) yang juga bertindak sebagai international coordinator program ini, Prof Sitharamam Kakarala (India), Prof Henk Manschot (Belanda), Mr JC van der Merwe (Afrika Selatan), Dr Zainal Abidin Bagir (Indonesia) Mr Ihsan Ali Fauzi (Indonesia) dan beberapa orang pembicara tamu.

Pada pertemuan pembukaan di hari pertama pada Kamis (07/07) lalu, international coordinator program, Caroline Suransky, berharap di akhir program ini, seluruh peserta diharapkan memiliki kemampuan untuk menganalisis konsep-konsep kunci tentang keberagaman, pembangunan, dan perubahan sosial beserta pengaruh-pengaruh normatifnya, menganalisis norma-norma hak asasi manusia, dan menganalisis isu-isu kunci dalam perkembangan masyarakat dan perubahan demokrasi dengan perhatian khusus pada keberagaman dan ruang-ruang gerakan sosial yang baru.

Selain itu, peserta juga diharapkan bisa mendiskusikan praktek-praktek konkret  keberagaman di level global, dan bisa terlibat dalam dialog internasional bersama praktisi-praktisi pembangunan, aktivis, akademisi, dan peneliti untuk memperbaharui pengetahuan dan memperkaya perspektif.

Summer school yang digelar di kota bagian selatan India yang dijuluki sebagai ‘The Silicon Valley of Asia’ ini akan berlangsung hingga tanggal 25 Juli 2016. Di sinilah kami berjumpa, di sini pulalah kami berbagi pengalaman dan pengetahuan. (editor kbs)


Boe Berkelana, Salah satu peserta Summer School on Pluralism, Development, and Social Change yang mewakili Orang Muda Labuan Bajo Manggarai Barat Nusa Tenggar Timur Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here