Profesor filsafat, Konrad Kebung: Ilmu Alam Tidak Jauh Lebih Penting Dari Ilmu Sosial

0
490

Floresmuda.com-Zaman dulu tidak ada pembagian bidang studi seperti sekarang, ilmu sosial, ilmu bahasa, dan ilmu alam. Semua pembagian itu jauh kemudian.  Demikian kata kondrad Kebung, dalam suatu kesempatan seminar mata kuliah filsafat ilmu pengetahuan di STFK Ledalero.

Pentingnya sebuah Ilmu Keguruan

Kita juga perlu melihat bagaimana ilmu keguruan itu baru mulai di bentuk, paling kurang untuk situasi misi, khususnya Indonesia, yang akrab dikenal sebagai negara miskin dan berkembang. Dan justru sebagai negara berkembang , kita pun mau maju selevel dg negara yang lain. Kelihatan bahwa kemajuan dari segi ilmu ekonomi dipandang sebagai hal yang penting. Karena itu, pimpinan kita melihat ada kekurangan dalam berbagai hal, ekonomi kita lemah, sumber daya manusia kita juga lemah. Karena itu, kita perlu siapkan tenaga studi spesial atau orang yang dikhususkan untuk studi bagian  tertentu dengan maksud supaya  mereka di kemudian hari bisa menjadi penyiap tenaga kerja baru. Dan kita pun diharapkan jadi lebih maju.

Karenanya, jangan heran kalau banyak dibuka sekolah sekolah keguruan dimana-mana, ada sekolah tehnik, dan lain sebagainya. Hal itu dimaksudkan supaya kita melangkah pelan  pelan mendampingi negara lainnya agar lebih maju dari segi ekonomi dan lainnya.  Dan sekolah keguruan pun dianggap sebagai sekolah yang cocok untuk bisa memajukan kita dari segi ekonomis.

Manakah yang lebih penting, IPA atau IPS?

Banyak Pandangan yang keliru yang dipahami oleh orang-orang kita khususnya bagi orang tua dan para pendidik bahwa IPA itu dianggap sebagai paling penting dan menampung orang yang mampu dari segi intelektual. Mengapa?

Mesti disadari juga bahwa guru kita adalah  orang orang yang lemah dalam bidang itu, semacam IPA dan bidang lainnya. Karena itu anggap IPA sebagai ilmu yang paling susah dan paling berat. Hal ini pun ditularkan pada orang tua. Tidak heran, ketika anak mereka berminat masuk ilmu IPA, anak mereka pun dianggap paling hebat. Dengan demikian orang tua mereka pun melambung naik.

Padahal semua ilmu itu punya objek sendiri. Dan tidak ada yang jauh lebih hebat. Mungkin dari segi peluang kerja itu mungkin. Tetapi Ilmu sosial, studi bahasa, studi kemanusian, dan ilmu lainnya juga sebenarnya punya peluang semua, seperti bekerja sebagai guru, ahli bahasa, wartawan, dan lain sebagainya, luas sekali.

Jadi, dari segi esensi ilmu pengetahuan itu  sebenarnya tidak ada yang lebih hebat dan unggul.

Apa persoalan kita?

Persoalannya sekarang adalah kamu diminta memilih. Tetapi kamukan memilih berdasarkan minat dan kemampuan kamu. Tapi hal yang jauh lebih penting adalah apakah orang yang belajar IPA atau IPS itu betul-betul menuju manusia  yang baik, manusia yang produktif atau tidak.  Hal ini jauh lebih penting untuk diperhatikan.

Kalau dalam filsafat harus lihat juga hal tersebut.  Apakah orang yang studi fisika, matematika, kimia menjadi lebih manusiawi atau tidak dari pda orang yang belajar ilmu  sosial? Andaikan dia bisa ambil bagian jadi manusia hanya dari esensi ilmu itu sendiri itu bisa mungkin bahwa ia jauh lebih hebat. Metode kerjanya beda, obyeknya beda tapi kita semua menuju satu tujuan yakni jadi manusia yang lebih baik, bermanfaat dan produktif.

Ini lebih penting buat kita bahwa ada orang yang pilih jurusan IPA terserah  kalau  ia punya minat untuk masuk fakultas kedoktern; farmasi bisa dimungkinkan punya peluang.

Dalam perguruan tinggi, ada bidang tertentu yang sebenarnya punya dasar pada studi-studi yang telah dilaui (yang lain). Karena itu, penting bahwa kalau kita datang dari bidang studi sosial saya juga sudah bisa lihat kemungkinan bahwa bidang studi yang saya ikuti kira kira di jurusan apa.

Jadi, kita mesti pelan-pelan hilangkan stereotip-stereotip seperti itu yang anggap satu ilmu jauh lebih penting dari ilmu lain. Dan kita pun diminta untuk tidak mrmpengaruhi orang lain bahwa anak harus studi IPA atau IPS.

Sejumlah orang tua yang sebenarnya anak mereka kurang berminat dengan IPA tapi karena orang tua yang desak anak dan gurunya untuk masukan anak dalam IPa. Disadari juga bahwa ada banyak anak yang nakal  di samping karena mereka tidak punya minat juga karena mereka terpaksa masuk dan terpaksa tinggal tapi toh bisa masuk ke studi lebih tinggi.

Dengan itu kita lihat bahwa sekolah kejuruan itu penting, jurusan itu penting tapi kita tidak boleh lihat yang satunya lebih tinggi atau penting dari yang lain, khusus kalau kita lihat esensi, materi disiplin ilmunya.

Jadi semua displin ilmu punya keunikan dan kehebatan atau spesifikasi khusus tapi bukan bahwa ilmu lain itu rendah. Mungkin butuh ruang untuk ilmu bersangkutan dan bukan untuk ilmu dalam bidang yang lain.

Lalu, esensi semua ilmu itu sendiri sebenarnya sama. Dan, orang yang pilih itu tetap aktual dan dia bisa sukses.

Bahwa  kita cipatakan orang yang ahli dalam bidangnya tapi sangat terbelakang di bidang lain. Itu tentunya rusak. Padahal kita mau bangun manusia secara utuh atau seimbang supaya kalau toh dia ahli dalam bidangnya paling tidak dia paham dan bisa juga terima keahlian orang lain dari bidang yang lain. (Jivansi Helmut/FM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here