rian floremudaDiskusi tentang “Politik Kewargaan Orang Muda” berlangsung di Rumah Kreasi Baku Peduli pada Rabu, 27 April 2016. Pembicaranya adalah Ryan Juru, asisten peneliti Dep. Politik dan Pemerintah UGM Yogyakarta.

Ketika mengawali diskusi ini, Edward Angimoy selaku moderator menceritakan sebuah illustrasi. Katanya, suatu kali semua binatang dipanggil menghadiri sebuah pertemuan. Dengan angkuhnya tuan rumah berkata, “Kalian di sini tak ada yang bisa memanjat pohon”. Mendengar itu, monyet protes. Katanya, “saya bisa”. “Cerita selesai” kata Edward, meninggalkan rasa penasaran bagi peserta diskusi pada sore itu.

Cerita itu kemudian secara terang dijelaskan Ryan Juru. Menurutnya, politik seringkali dikuasai oleh satu cara pandang. Cara pandang demikian seringkali menegasikan segala bentuk pandangan-pandangan alternatif di tengah masyarakat. Ia menyebut kebenaran tunggal demikian sebagai “oracle”.

Cara pandang yang tunggal itu tidak hanya diartikan sebagai milik subjek tertentu. Sebaliknya, bisa juga menyangkut suatu ide tunggal yang berkembang dan menguasai diskursus pembangunan dan politik di suatu teritori politik tertentu.

Hal itu seringkali mempengaruhi model pembangunan. Sebab, semua mesin intustisi, birokrasi, dan sumber daya pembangunan di daerah berjalan atas dasar cara pandang tersebut. Artinya, institusi atau birokrasi hanyalah instrumen yang berjalan atas dasar suatu pemikiran tertentu. Tak lain adalah oracle tadi.

Pembangunan di Labuan Bajo sebagai kota pariwisata, ia jadikan contoh. Katanya, pembangunan di Labuan Bajo sangat bergantung pada investasi. Seolah-olah tidak ada kemajuan jika tidak ada investor. Ini menjadi cara tunggal melihat pembangunan.

Di bidang pariwisata, misalnya, sangat dikedepankan pertumbuhan ekonomi. Variabel yang diperhatikan di antaranya soal jumlah investasi dan soal penerimaan dari sektor pariwisata. Sementara persoalan distribusi kesejahteraan di tengah masyarakat tidak pernah tersentuh secara signifikan.

Lantas, seberapa penting cara pandang alternatif di tengah monopoli gagasan dalam pembangunan tersebut?

Keterbatasan Kapitalisme

Ryan mengatakan bahwa suatu cara pandang selalu punya keterbatasan-keterbatasan. Kapitalisme yang menguasai wacana pembangunan di Indonesia, sudah berada di titik kritis. Pertumbuhan ekonomi yang menjadi adagium utama dalam kapitalisme ternyata tidak menjawab semua persoalan di tengah masyarakat. Protes dan keluhan terjadi dimana-mana.

Di tengah-tengah persoalan demikian, mesti ada cara pandang alternatif yang bisa mengakomodasi persoalan masyarakat. Untuk konteks Manggarai Barat, distribusi keadilan di tengah pesatnya pembangunan pariwisata mesti diberikan perhatian.

Dalam konteks itu, ketika menyelesaikan tesis S2 ia melakukan penelitian terhadap gerakan Lembaga gerakan Sun Spirit for Justice and Peace di Labuan Bajo. Sejauh pengamatannya, lembaga ini bergerak hampir di semua lini pembangunan. Mulai dari pertanian, gerakan-gerakan bersama orang muda dan masyarakat, hingga terlibat dalam dirkursus politik bersama institusi-institusi pemerintah.

Menurutnya, gerakan lembaga ini menawarkan cara pandang alternatif di tengah krisis kapitalisme. Sebagai contoh, di bidang pertanian. Ketika pertanian selalu mendengungkan soal produktivitas padi, Gerakan Sun Spirit menawarkan budidaya dan konservasi benih lokal. Sebutir padi di kalangan petani di Lembor sudah mencerminkan keterjajahan oleh seorang penjual benih, kontraktor saluran irigasi, pedagang pupuk, rentenir dan lain sebagainya. Tak heran di Lembor sebagai lumbung padi di NTT, masih berlangganan beras miskin, entah sampai kapan.

Sementara itu, tawaran alternatif melalui budidaya benih lokal adalah menawarkan suatu cara pandang baru. Pengembangan benih/pangan lokal tidak membutuhkan banyak air, organik, ongkos relatif murah, dan menjadi pangan alternatif. Karakter yang hampir semuanya berlawanan dengan pengembangan padi.

Menurut Ryan, gerakan-gerakan alternatif itu mesti menyasar ke berbagai bidang kehidupan. Tidak boleh tunggal dan tertutup pada suatu bidang saja. Gerakan yang sporadis itulah yang disebut multitude, dimana-mana bergerak untuk keluar dari kungkungan monopoli kapitalisme.

Mengapa demikian? Menurutnya, monopoli cara pandang kapitalisme sudah mendasari semua segi pembangunan. Dengan kata lain, semua institusi politik, ekonomi, sosial, dan budaya secara tidak sadar melayani kepentingan monopoli pandangan kapitalisme. Karena itu, gerakan “perlawanan” mesti diarahkan dari berbagai sudut pula.

Lantas bagaimanakah gerakan alternatif itu ditawarkan di tengah krisis kapitalisme?

Multitude Menuju Hegemoni

Menurut Ryan, terbentuknya kelompok gerakan yang sporadis (multitude) saja sebenarnya tidak cukup. Dalam membendung kapitalisme, perlu juga dibangun suatu hegemoni dari multitude tersebut. Hegemoni di sini tak lain adalah konsolidasi gerakan-gerakan alternatif yang tersebar itu menjadi suatu kekuatan.

Di Manggarai Barat, diskursus pembangunan sudah menampakkan berbagai kelompok gerakan. Antara lain, gerakan sun spirit, komunitas Bolo Lobo, Gemasi, Mabar Watch, Gemas P2, dan lain sebagainya. Pertanyaa Ryan, “apakah semua kelompok itu sudah membentuk suatu hegemoni?”

Ini merupakan pertanyaan mendasar dan reflektif bagi gerakan di Manggarai Barat. Suatu hegemoni mengandaikan ada payung bersama yang menyatukan kekuatan berbagai kelompok berbeda itu agar secara bersama-sama mendesakkan alternatif dalam diskursus pembangunan.

Hegemoni mensyaratkan suatu basis nilai dan pemikiran yang mampu mengikat semua kelompok itu. Jika tidak, gerakan-gerakan hanya terserak begitu saja dan hanya menimbulkan riuh dinamika. Lantas apa pentingnya suatu basis nilai atau pemikiran?
Menurut Ryan, yang dilawan dalam kapitalisme adalah pemikirannya. Bukan subjek-subjek yang menduduki posisi strategis dalam institusi politik atau birokrasi. Katanya, “kita mengoreksi pemikiran, bukan menjelekkan figur tertentu”. Pasalnya, suatu birokrasi sebenarnya digerakkan oleh suatu pemikiran tertentu.

Karena itu, sedikit mengoreksi gerakan di Labuan Bajo, ia menilai bahwa sebagian besar gerakan masih fokus pada karakter tokoh-tokoh politik saja. Belum sampai mengkritisi kebijakan atau pemikiran yang melandasinya.

Akibatnya, perubahan dipandang hanya jika terjadi pergantian kepemimpinan birokrasi. Tidak mungkin lagi berharap bahwa pemimpin yang ada mampu memperbaiki keadaan. Kekuasaan masih dipandang dimiliki figur tertentu saja. Sementara di pihak yang dikritik, perasaan tersudutkan seringkali membuat persoalan tidak terselesaikan, malah menimbulkan berbagai gesekan.

Bagi Ryan, tuntutan demikian memang tidaklah mudah. Masih menjadi tantangan berat bagaimana diskursus politik mengarah kepada diskusi pemikiran. Ini membutuhkan usaha dan refleksi terus-menerus.

Di tengah-tengah model pembangunan yang tidak berkeadilan itu, peran orang muda sungguh sangat diperlukan. Orang muda mampu menawarkan alternatif dan menunjukan limitasi-limitasi dari model pembangunan yang memonopoli. Bahkan orang muda mampu membentuk sebuah hegemoni. Kenyataan itu sudah terbukti dalam sejarah bangsa Indonesia. Meskipun hal itu tidak selalu berlaku mutlak. (Gregorius Afioma, peneliti pada Sunspirit)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here