SEMANA SANTA DAN PERUBAHAN PARADIGMA, Opini Yandris Tolan

0
709
Indonesia Travel

Sejarah Singkat

Kadang kita mesti membedakan antara sejarah dan waktu. Sejarah memang bagian dari waktu dan mengkonkretkan waktu. Tanpa sejarah, waktu hanyalah abstrak belaka. Kendati demikian, sejarah tetap lain dari waktu. Sejarah kadang-kadang hanyalah peristiwa, sementara waktu tak bisa mewujud dalam peristiwa belaka. Sejarah sebagai peristiwa bisa mengubah diri seseorang, namun begitu sejarah itu lewat, orang itu tetap menjadi dirinya yang semula, seakan tak pernah berubah. Ini disebabkan karena manusia terikat pada kekuatan waktu, yang memang mempunyai struktur dan hukum, yang menentukan hidupnya di luar sejarah. Watak seseorang, misalnya, tak bisa diubah begitu saja oleh perubahan sejarah yang sekejap mata. Artinya, waktulah yang menentukan nasibnya yang tak bisa digugat oleh sejarah.

Semana Santa adalah juga warisan sebuah sejarah, sejarah yang telah mengkonkretkan waktu hidup umat Lamaholot. Latar belakang sejarah Semana Santa merupakan tradisi lanjutan dari sejarah bangsa Portugis. Dikisahkan bahwa tradisi awal yang melingkupi kesakralan religius kota Larantuka adalah Paguyuban Rosario Suci Confreria Renha Rosario. Paguyuban ini biasanya berpusat pada salah satu kapela Maria.

Sejak tahun 1859, terdapat tujuh gereja dan duabelas kapela yang mewarnai kesakralan budaya asli kota Larantuka (Karel Steenbrink, 2006). Selama minimnya kehadiran para pastor, paguyuban ini merupakan lembaga religius terpenting di Kerajaan Larantuka. Para anggotanya dipilih dari kaum elit dan raja sendiri menjadi ketuanya. Para pejabat lain yang dipilih tiga tahun sekali bertanggungjawab atas tugasnya. Misalnya, Procurador bertugas menjaga bangunan keagamaan yang dibutuhkan untuk publik agama, Maestri pemimpin musik liturgi dan doa publik,  sekretaris dan juru buku,  penjaga benda-benda suci yang tersimpan di kapela Maria,  pergi ke kampung-kampung untuk mengumumkan perayaan agama, dan  menata tempat kebaktian dan menyerahkan tongkat ketua kepada raja pada awal upacara.

Perayaan religius terpenting yang ada di kota Larantuka adalah hari Natal, Jumat Agung, dan Pesta Rosario pada bulan oktober. Semana Santa masuk dalam lingkaran perayaan Jumat Agung. Masa Puasa atau Pra-Paskah adalah kurun waktu suci di seluruh kerajaan Larantuka. Dilarang ada perang atau pembunuhan. Di samping itu, orang-orang kafir yang berada di pegunungan diwajibkan datang ke wilayah pantai dan membangun kemah menjelang prosesi.

Perayaan yang paling meriah adalah perarakan pada hari Jumat Agung yang bermula pada hari kamis sore. Ritus yang dibuat adalah membawa Salib yang dibungkus kain hitam yang berada di bagian depan sebagai pembuka jalan diikuti genderang yang juga dibungkus kain hitam. Para anggota Confreria mengenakan opa atau mantol panjang berwarnah putih diapiti enam orang pembawa lilin. Para anggota Confreria membawa lambang-lambang penderitaan dalam iman Kristiani seperti tombak, tongkat, bunga karang, mahkota duri, palu, paku, tali, ayam jago Santo Petrus, sebatang buluh, tiang, serta salib. Kelompok ini juga dikelilingi pembawa lilin yang dibungkus dengan kain hitam. Kerumunan orang banyak kemudian menyusulnya sambil membawa lilin bernyala.

Setelah itu, di bawah sebuah tudungan payung kebesaran, tampil sebuah keranda yang dibungkus kain hitam dan di atasnya disemayamkan patung Yesus dalam iman Kristiani. Keranda ini dikelilingi orang-orang yang membawa lentera dan didahului oleh seorang anak laki-laki yang berpakaian necis dengan sebuah gulungan kertas di tangannya. Ketika arakan itu tiba di sebuah armida, semua orang kemudian berlutut. Anak laki-laki itu naik ke atas sebuah bangku lalu menyanyikan dengan suara lembut O Vos Omnes Qui Transitis Per Viam yang berarti kamu sekalian yang berlalu lalang. Kemudian ia membuka gulungan tadi, memperlihatkan lukisan separuh badan dari wajah Tuhan Yesus.

Perarakan ini berakhir pada sebuah arca khusus Bunda Maria yang seluruhnya dibungkus kain hitam pekat, kecuali pada wajah dan kedua belah tangannya. Wajah dan kedua belah tangannya bisa dijuruskan ke berbagai arah.

Upacara berlangsung di luar gereja mulai pada pukul 10.00 malam dan berlangsung hingga pukul 03.00 dini hari. Demikian sejarah umum dari prosesi Semana Santa.

Perubahan Paradigma

Perubahan paradigma menjadi latar belakang aktual yang sedang menjiwai tradisi Semana Santa. Perubahan terjadi bukan semata-mata karena tuntutan zaman, tetapi lebih daripada itu adalah sikap laku, pola hidup, dan orientasi masyarakat yang enggan mengakrabi budaya asli yang dihidupi dari waktu ke waktu tanpa adanya intensi spiritual. Nilai-nilai asli keagamaan, misalnya, disulap demi sebuah budaya tandingan yang marak dan syarat kemeriahan.

Semana Santa sebagai sebuah budaya “religius” tentu mengandung beragam nilai khas dan sakral yang bagi banyak umat di kota Larantuka dinilai sebagai Mardomu atau nasar agung. Kemerosotan nilai budaya asli menjadi polemik publik saat ini. Bahkan generasi muda yang mendiami bumi Lamaholot sudah jarang mengenal apa itu ritus Tuan Meninu, Tuan Ana, dan Tuan Ma. Lalu orang bertanya, adakah sesuatu yang salah dari Semana Santa? Hemat saya, Semana Santa bukanlah persoalannya. Yang menjadi sebabnya adalah perubahan paradigma yang lambat-laun mengadopsi ritus Semana Santa sebagai sebuah wisata rohani yang mengedepankan kemeriahan tanpa adanya prospek rohani. Oleh karena itu, kepentingan dan popularitas selalu mendominasi proses dari ritus ini. Penulis menilai jika ritus ini terus direduksi kesakralannya, maka akan muncul sikap skeptis dan tidak lagi percaya pada ritus tahunan ini. Perlu dipahami sungguh bahwa Semana Santa bukan sebuah pertunjukan komedi yang menuntut banyak tawa-ria, melainkan menuntut keterlibatan iman umat dalam memaknai kisah penderitaan Kristus dalam iman Katolik.

Menjadi sebuah peristiwa kontroversial belakangan ini bahwa prosesi Semana Santa menelan korban. Kenyataan naas ini terjadi pada tanggal 18 April 2014 ketika berlangsungnya prosesi laut. Ini suatu realitas yang meninggalkan pengalaman traumatis. Di benak umat Larantuka, tragedi ini adalah pertama kali dalam sejarah Semana Santa yang dihidupi kurang lebih lima abad. Beragam opini saat itu memenuhi rubrik-rubrik media menyoroti peristiwa tersebut. Bahkan di kalangan umat Lamaholot sendiri muncul sikap saling mencurigai. Sikap curiga mulai menyoroti manajemen Semana Santa yang kurang profesional. Kendati demikian, banyak umat tidak mampu mengembalikan fakta.

Penulis menganjurkan agar semua umat yang terlibat dalam prosesi iman tersebut tetap menjunjung nilai sakral dari Semana Santa. Semua orang dipanggil untuk mulai sadar dan menghargai nilai-nilai budaya asli di kota Larantuka. Agar dari waktu ke waktu pengalaman iman semua orang lebih mudah melebur dalam sejarah asli Semana Santa.

Peristiwa naas dua tahun silam hendaknya menjadi petuah dalam menjiwai dan menggerakan jejak langkah banyak umat dalam memaknai prosesi Semana Santa. Oleh karena itu, masing-masing orang dipanggil untuk mengakrabi serta menjunjung tinggi nilai-nilai sakral Semana Santa yang sudah lama membumi di kota Larantuka.

*) Yandris Tolan, Orang Lamaholot alumni Seminari San Dominggo Hokeng, sekarang berdomisili di kota Kefamenanu-Kabupaten Timor Tengah Utara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here