*) Agustinus Kani

SAAT MENUNGGU KERETA

wangi parfummu
datang bersama
—gerimis hujan dan gema kereta.

Neng! parfummu telah menjadi soneta bagi semesta.

Katipunan St., November 2015

LAUDS 01

di pelataranmu
tak letih kami bersemadi
memandang fajar di atas cakrawala
seunggun lilin sejuta sonata.

Tuhan,
dalam terangmu kami melihat cahaya.

(Manila, 28 November 2015)

LAUDS 02

menjulang dari ketakziman yang tak bertepi
litani-litani suci memekik ngeri
setangkai semadi setinggi matahari.

Tuhan,
janjimu putih sejati
antara dingin dan kontemplasi pagi
semangat kami unggun berimbun sajak.

(Manila, Desember 2015)

HUJAN

ranum renyah rintikmu
rerumput riang runtuhlah rindu

dan rimbun
aku bersyukur dengan seribu pantun.

(Manila, 31 Desember 2015)

REMBULAN

sempurna senyummu selepas senja
sapa sejuta sonata

dan bening
aku mencintaimu dalam hening.

(Manila, 2015)

BOLEHKAH?

Bolehkah kupinjam sajak di kerlingan matamu?
Karna aku diringkuk puisi rindu.

Bolehkah kupinjam mawar di taman parasmu?
Sebab pantunku layu dikepung kemarau pilu.

Bolehkah?

(Manila, 2015)


Agustinus Kani. Dilahirkan di Kerkuak, Reo-Manggarai pada tanggal 02 Mei 1988 dan Menyelesaikan studi Filsafat di STFK Ledalero-Maumere pada tahun 2012. Seorang peminat sastra yang beberapa puisinya telah dipublikasikan di Jurnal Sastra Santarang dan Pos Kupang. Sekarang ia sedang belajar teologi di Manila, Filipina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here