WAKTU, DENYUT KESADARAN KOSMOS, Monolog Dalam Renungan

0
1256

*) Kris da Somerpes

Manusia tidak lagi berdenyut bersama denyut kosmos, melainkan mencungul melampaui masyarakat dan roda tradisi. Manusia terlempar ke luar dari ruang sosio mistis. Terhadap waktu sirkuler yang menempatan menusia dalam ritme-ritme yang repititif, proses kesadaran melerai lingkaran ini dan merentangkanya menjadi waktu yang linear.

Waktu kemudian dirapatkan untuk sebuah maksud yang sedang dan bahkan nanti dikejar oleh manusia. waktu dipagarkan dengan paksa dalam kalender-kalender, penuh dengan jadwal dan rencana. Semuanya adalah rekayasa yang katanya akan ditepati, tapi buktinya kebanyakan luncas. Bukankah ini merupakan pengkhianatan atas waktu?

Suatu Waktu

Setiap malam tahun baru selalu aku pergikan kegaduhan, kebisingan, kegembiraan semu dan canda tawa ke kebiasaan yang bernama “Gebyiar malam penuh bintang”, “Pesta kembang api” atau sederetan ritus megah dan meriah lainnya yang berkaitan dengan pergantian tahun. Kepada kebiasaan-kebiasaan seperti itu kutitipkan rasa basi berbau tengik lewat country-nya Alan Jackson, slow rock-nya Air Supply, dan raegge-nya Alfa Blondy, juga lewat aroma asap daging panggang dari sela-sela bisik dan senyum yang tampak cengar-cengir.

Mengapa setiap malam tahun baru aku menjadi sangat benci dengan kebersamaan serupa itu? Mengapa aku menjadi sangat muak dengan hingar bingar yang meluluhlantakkan hening malam yang indah? Aku menjadi semakin ngeri ketika menatap barisan gigi tertawa, dan celoteh lidah di liang mulut yang tak pernah diam. Rasa-rasanya hanya itu yang memang diingat, kegembiraan malam itu telah melupakan mereka akan janji yang telah dimaklumkan atas waktu.

Aku kadokan rasa muak yang mendalam untuk persahabatan atas nama makan, dan relasi atas nama minum yang memabukkan. Melalui bunyi piring putih ternoda sisa makan yang berkelimpahan, dan sebarisan gelas kaca penuh liur dan muntah, kutitipkan kebodohan. Lewat ucapan selamat dan jabatan tangan, lenggak-lenggok gerak tubuh, cerita-cerita tentang keberhasilan kuucapkan selamat berbuat janji, semoga ditepati.

Tetapi aku tidak lupa mengucapkan salam hangat kepada setiap hati yang hening, yang pada malam itu mengungsi ke ruang diam. Kepada mereka aku menyapa selamat malam. Aku akan mengajak mereka bergabung untuk bersama-sama pecahkan kotak pandora, sebuah rahasia tentang waktu.

Waktu, Dipagar Waktu

Kalender adalah pagar yang dipaksakan atas waktu, demikian kata dosenku, Karlina Supeli pada suatu waktu. Ketika aku sedang mengikuti mata kuliah kosmologinya. Kita telah memagarinya katanya. Tafsirku, itu berarti kita telah memaklumkan sebuah janji, entah tentang apa. Segudang janji, ada di benak semua orang.

Mungkin bagi Supeli bukan seperti yang ada di pkiranku. Tetapi, bagiku, waktu tiada pernah harus dipenggal. Waktu tidak mesti dikotak-kotakkan dalam ruang yang bernama hari, minggu, bulan, era, abad dan seterusnya. Waktu adalah denyut semesta. Ia dilahirkan tanpa hari dan tak akan pernah mati. Waktu tidak punya sumber dan juga tak akan pernah bermuara di mana. Jika kosmos ini tidak berhingga, tak terukur, maka waktu terkandung di dalamnya, ia tidak berpangkal juga tidak berujung.

Tetapi meruangkan waktu dalam kotak-kotak berarti kita telah membuat bendungan atasnya. Untuk sementara kita menghentikan arus geraknya demi janji-janji kita. Pemagaran atas waktu inlah yang sudah sejak awal mula menyeret kehidupan manusia pada dampak-dampak yang menakutkan.

Pertama, ketergesa-gesaan. Demi janji yang sudah dijadwalkan manusia terpaksa harus berlari. Waktu tidak lagi dimaknai sebagai sebuah kekuatan kualitatif, tetapi justru direduksi menjadi sebuah jarak tempuh, tempo pengukur laju atau kecepatan dalam meraih cita-cita. Semboyan waktu adalah uang sebagai salah satu contoh kongkret untuk pereduksian tersebut. waktu yang seharusnya dilihat sebagai nilai yang diperhitungkan, lantas direduksi menjadi sebuah nilai dalam penjumlahan. Ketergesa-gesaan atas waktu merupakan sebuah sebab ekonomis.

Kedua, ketakutan atas waktu. Memagari waktu adalah sebuah fatwa yang harus ditepati. Jika tidak, maka ita akan tunggang langgang berlari mengejarnya, demi sebuah janji. Apakah janji yang kita maklumi berhasil atau tidak itulah yang menakutkan kita. Kita bagai selalu dikejar-kejar waktu, lantas waktu direduksi menjadi semacam tongkat penggembla sapi yang selalu mendorong agar selalu maju.

Ketiga, kelupaan atas ruang kontemplasi. Waktu yang dipadatkan dalam ruang, bukanlah waktu yang sebenarnya dalam arti sebagai waktu murni. Waktu sebagai rentangan kesadaran, dan tempo reflektif manusia. tetapi sebenarnya merupakan rencana, sebuah pemadatan kehendak bebas mansuia, pemadatan atas nafsu dan kehendak bebas yang liar. Lantaran itu waktu distigma sebagai sebuah determinasi atas kehendak bebas. Pemadatan kehendak bebas inilah yang melupakan manusia atas hakikat waktu sebagai denyut kesadaran, gelombang keheningan yang selalu menyapa semesta tentang arti sebuah kesadaran dan kehidupan.

Modernitas, Penyandung Waktu

Tiga dampak di atas merupakan bias modernisasi yang lebih menekankan pada proses ketimbang esensi. Ciri modernisasi yang menyeret sampai pada kesadaran manusia adalah adanya distansi dan progress.

Dalam melampaui Positivisme dan Modernitas (kanisius:2003) Budi Hardiman mengatakan bahwa manusia modern dapat dipahami sebagai “makhluk” yang tersentak dari keterpukauannya atas alam, sehingga mental partisipasi yang membenamkan manusia ke dalam proses-proses kosmos menjadi sikap distansi. Manusia mengalami keretakan dari kosmosnya. “Alam yang bernyawa” seakan-akan berada di luar kesadaran manusia.

Lantaran itu, manusia tidak lagi berdenyut bersama denyut kosmos, melainkan mencungul melampaui masyarakat dan roda tradisi. Manusia terlempar ke luar dari ruang sosio mistis. Terhadap waktu sirkuler yang menempatan menusia dalam ritme-ritme yang repititif, proses kesadaran melerai lingkaran ini dan merentangkanya menjadi waktu yang linear.

Di hadapan manusia, alternatif-alternatif dapat diciptakan. Manusia menghayati sejarahnya sebagai perubahan-perubahan unik yang mengarah kepada progress – ke kemajuan. Seluruhnya ini pada gilirannya dapat diasalkan pada proses fundamental kesadaran manusia sendiri yang mengalihkan kemapuan naluriahnya ke arah ratio lewat proses rasonalisasi.

Tujuan modernisasi sebenarnya hanya satu yakni “pembebasan”. Namun, dalam prosesnya terjadi ketegangan, yakni antara pembangunan alam yang tampaknya artifsial dan penggalian akan makna atau esensi akan yang Ada. Paradoks ini memang klasik, tetapi dalam modernisasi kesukaran mencapai momen sistesis ini menghasilkan beragam macam pengalaman negatif seperti alienasi, hilangnya makna, impersonalisasi, dan seterusnya. ‘Kesadaran yang tak bersarang’ kata Budi Hardiman tidak hanya menampilkan kebebasan, namun juga keletihan pengembaraan manusia dalam ketandusan pranata-pranata modern, ketakutan karena dikejar waktu, ketergesa-gesaan dan hilangnya ruang untuk sebuah kontemplasi.

Waktu, Kesadaran Kosmos

Akhirnya waktu adalah denyut kesadaran kosmos. Sebuah rentangan reflektif yang panjang. Dalam ruang yang bernama kosmos denyut itu bergetar, mengisyaratkan tentang kehidupan. Antara ruang dan waktu tak akan pernah dapat dipisahkan.

Lantaran itu, amat sangat tepat bidikan Alexis Carrel dalam Man, The Unknown (New York-1987) yang berusaha melukiskan secara benderang tentang waktu internal dalah diri kita sendiri. Mengutip paendapat Bergson, Carrel mengatakan bahwa rentang waktu bukanlah suatu ketika yang menggantikan ketika yang lain ….rentang waktu adalah perkembangan kesinambungan dari yang lampau menerobos ke dalam yang nanti dan membesar semerta ia berkembang…..penumpukkan yang lampau ke atas yang lebih lampau itu melestarikan dirnya sendiri secara otomatis. Dalam ketotalannya, mungkin, ia membuntuti kita setiap saat…tapi diragukan, kita berpikir dengan hanya sebagian kecil dari masa lampau kita. Tetapi dengan keseluruhan masa lampaulah, termasuk kecondongan jiwa kita yang asli, kita berhasrat, berkehendak dan bertindak. Singkatnya waktu adalah bagian dari kesadaran manusia.

Akhirulkata

Tapi apakah mereka yang menyentakkan kakinya seirama suara Alan Jackson dan Alfa Blondy menyempatkan diri bertanya tentang makna sebuah waktu? Apakah mereka tahu kalau kesadaran drinya sedang diuji karena janji-janjinya? Apakah mereka pun sadar kalau yang sedang mereka gembirakan adalah kesadaran yang mereka lemparkan keluar dari dirinya sendiri?

Suara bising dan gaduh di kejauhan sudah tak terdengar lagi. Bunyi terompet sudah diam, bersama dengan padamnya kembang api. Apakah lonceng tempo kosong-kosong mengheningkan mereka untuk memaknai tentang waktu? Aku kira tidak. Lonceng itu adalah tempo yang membawa mereka pada kantuk yang tak terbendungkan. Lantas, menciptakan malam jadi ruang mimpi. Mimpi di awal malam tahun baru adalah awal bagi sebuah mimpi untuk (dalam) pagar kalender yang baru.

Ketika kita mengucapkan ‘selamat tahun baru’ dua belah tangan kita tidak hanya saling bersentuhan, tetapi juga sedang membuat janji.


Kris da Somerpes, bagian dari komunitas kopi sastra akhir bulan Labuan Bajo Manggarai Barat, juga bagian dari Komunitas Seni Bolo Lobo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here