Merayakan Ritual Sakral Bersama Monika N. Arundhati

0
1018

*) Kris da Somerpes

Ringkasan Awal

Namanya Monika N. Arundhati. Arundhati disematkan di akhir nama penanya karena kekagumannya pada Arundhati Roy, seorang novelis dan aktivis India yang pada tahun 1997 pernah memenangkan Booker Prize untuk novel pertamanya The God of Small Things. Kekaguman Monika pada Arundhati melampaui dari sekedar sebuah nama. Ada posisi epistemis dan penegasan eksistensi yang menyertainya. Yakni menulis untuk menginspirasi, mengimajinasi, singkatnya memberi perubahan kepada dunia di luar dirinya. Selain kepada “aku” sebagai sesuatu “ada”.

Menulis Sebagai Ritual Yang Sakral

Suatu ketika Monika N. Arundati pernah bilang, bahwa menulis adalah sebuah perayaan yang sakral, termasuk ketika penyair perempuan kelahiran Waikomo Lembata ini menulis puisi-puisinya.

“Menulis puisi bagi saya adalah sebuah ritual sakral untuk menjelma menjadi manusia seutuhnya sekaligus memperoleh kemanusiaan. Melalui ritual sakral ini, saya bisa merenungi hidup, bercakap-cakap dengannya, lantas insaf bahwa saya sejatinya adalah manusia” Demikian jelas Monika.

Dalam Antologi Puisinya yang berjudul Catatan Sunyi (Sanata Darma; 2014) tampak jelas perihal itu, bahwa berlarik-larik puisinya adalah sebuah enigma akan ke-aku-an sekaligus ke-ada-an dirinya sebagai manusia. Bahwa menulis adalah sebuah pulang untuk menemukan diri.

Sunyi kemudian diselami sebagai medan jumpa, untuk secara berulang menemukan diri. “Saya sejatinya adalah manusia”. Tampaknya penemuan ini jamak dan sederhana. Tetapi untuk mendefinisikan manusia sebagai ‘saya sejatinya manusia’ adalah sebuah proses insaf, sebuah pulang ke dalam diri sendiri yang selalu, ke dalam sunyi yang tidak biasa
.
“Catatan Sunyi” adalah Salah Satu Berkat dari…

Proses kreatif di atas, menurut anak pertama dari lima bersaudara ini dimulainya sudah sejak kecil “Saya menulis puisi-puisi sejak kecil, sejak saya Sekolah Dasar”. Katanya.

Bukan tanpa latar, Monika begitu terlibat dalam sastra. Semua itu dibentuk oleh kebiasaan dan suasana “Di rumah Bapak punya banyak buku termasuk buku-buku puisi, jadi belajar menulis dari situ”  terang gadis single kelahiran 27 Agustus 1990.

Sudah sejak itu, anak seorang tukang kayu ini mulai mengasah dirinya. Suluk dalam sunyi. Menjelma secara berulang dalam kata. Sehingga menjadi beralasan pula ketika menamatkan Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Nubatukan pada 2008, ia memilih untuk melanjutkan pendidikan tinggi jalur yang diminatinya.

“Saya meneruskan ke fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma” kata alumni SaDar tahun 2013 ini.

Catatan Sunyi, Antologi Sajak pertamanya, seperti yang sudah disinggung di atas, sebenarnya lahir dari proses kreatif itu.

Lahir dari sebuah proses pergulatan yang berulang dengan diri sendiri, sesama, lingkungan (alam sekitar) dan Tuhan. Sekali lagi, sunyi kemudian diselami sebagai medan jumpa, untuk secara berulang menemukan diri. Untuk secara eksistensial menegaskan ke-aku-annya. Bahwa “Saya sejatinya adalah manusia”.

Sebagai sebuah enigma tentang perjumpaan dengan “sesuatu” terdalam dengan diri sendiri, entah itu sebuah “ada’’ atau sesuatu “Tuhan” sejatinya Catatan Sunyi merupakan sebuah berkat dari sebuah “doa” yang panjang.

Berbagi dan Merayakan Ritual Sakral Bersama Anak Didik

Sementara ini, Monika N. Arundhati memilih “pulang” ke kampung halamannya di Lewoleba Lembata. Sebuah pulau kecil di ujung timur pulau Flores. “Saya mengajar” katanya. Monika mengajar pada Sekolah Menengah Atas Frater Don Bosco Lewoleba Lembata.

“Saya mengajar bidang studi SBK (Seni Budaya & Keterampilan) karena di  sekolah kami belum ada program Bahasa yang memungkinkan saya untuk mengajar sastra” jelasnya.

Namun demikian, keterlibatan dan minat Monika pada sastra tidak padam. Monika selalu menginterupsi pengetahuan-pengetahuan sastra dalam setiap perjumpaannya dengan para murid.

“Di dalam kelas SBK, saya selalu menyelipkan pengetahuan-pengetahuan tentang sastra pada anak didik saya, juga melatih mereka menulis kreatif seperti puisi dan cerpen” jelasnya.

Monika berharap bahwa proses kreatif sebagaimana yang digulat-gelutinya dapat mengimajinasi, mengispirasi orang-orang di sekitarnya, termasuk dan secara khusus anak-anak didiknya. Menurut Monika sikap yang diambilnya merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual seorang manusia dalam kehidupan.

Oleh karenanya berbagi pengetahuan, merayakan secara bersama-sama ritual sakral menjadi agenda prioritas Monika dalam tugas dan pengabdiannya sebagai guru. Guru bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Menyalakan Mimpi Aktivisme dalam Ritual Sakral

Sebagaimana sudah disinggung di atas secara ringkas bahwa menjadi bagian dari Arundhati tidak sekedar sebatas nama, tetapi ada posisi epistemis dan penegasan eksistensi yang menyertainya. Perihal ini terungkap dari rencana Monika. Menurutnya tidak menghasilkan karya dalam bentuk apa pun seperti menimbun beban moral.

“Satu tahun belakangan ini saya tidak menerbitkan karya apapun, jadi merasa punya hutang, punya beban moral. Bagaimanapun juga, menulis dan menerbitkan buku itu tanggungjwb intelektual” jelasnya.

Lantaran itu, di sela-sela sibuknya sebagai guru, “dalam sunyi” Monika sudah sedang mempersiapkan buku keduanya. “Harapannya bisa terbit pada tahun depan (2016). Masih buku sastra juga, tapi genrenya berbeda dari buku yang prtama” kisahnya.

Dalam rencannya, Monika akan melahirkan sebuah novel anak. Pilihannya jatuh pada novel dengan sasaran pembaca adalah anak karena keprihatinannya pada realitas keseharian. Semangat aktivismenya tumbuh ketika dijejali oleh buramnya fakta yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

“Belakangan banyak muncul karya-karya Sastra yang diperuntukkan bagi remaja dan dewasa. Sementara, untuk anak-anak sendiri semakin jarang” katanya.

Hal ini beralasan karena, menurut monika majalah-majalah anak yang dulu populer pada zamannya sekarang sudah hilang. Padahal menurutnya karya-karya tersebut sangat membantu perkembangan intelektual, moral, daya imajinasi dan kreativitas anak-anak.

“Saya prihatin anak-anak sekrang lebih senang duduk berjam-jam di depan televisi untuk sinetron ketimbang menghabiskan waktu untuk membaca buku. Bagi saya itu gejala yang mencemaskan. Itu bahaya” tegasnya.

Ringkasan Akhir

Namanya Monika N. Arundhati. Demikian nama penanya. Arundhati disematkan di akhir nama penanya karena kekagumannya pada Arundhati Roy, seorang novelis dan aktivis India. Kekaguman Monika pada Arundhati melampaui dari sekedar sebuah nama. Ada posisi epistemis dan penegasan eksistensi yang menyertainya. Yakni menulis untuk menginspirasi, mengimajinasi, singkatnya memberi perubahan kepada dunia di luar dirinya. Selain kepada “aku” sebagai sesuatu “ada”. Monika sudah dan sedang dan akan selalu merayakan ritual sakral itu. Lalu bagaimana dengan kita. Semoga terinspirasi.***


Kris da Somerpes, sedang belajar menulis pada Komunitas Kopi Sastra Akhir Bulan Labuan Bajo

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here