Mengungkap Enigma Tuhan Chairil Anwar (2/habis)

0
1481

*) Michael Migu Soge

Puisi dan doa mempunyai kesamaan dan perbedaan. Kesamaannya adalah keduanya berangkat dari pengalaman. Yang membidani kelahiran keduanya yakni persentuhan manusia dengan dunia, alam ciptaan dan Tuhan. Sementara perbedaannya, doa tidak ketat menuntut tendensi estetisisme realitas sebagaimana puisi yang melewati sebuah tahap penciptaan yang panjang dan kreatif.

Seorang penyair dapat merangkai kata-kata penuh nuansa puitis dari pengalaman estetis yang intensif dan membahasakan realitas di luar pengalaman personalnya sebagai suatu ungkapan kepekaan sosial yang tajam. ( Paul Budi Kleden, Otto Gusti Madung (Eds.):2009, hlm. 439)  Berbeda dengan doa, bahwa tidak semua doa melewati proses penciptaan sebagaimana puisi. Dalam doa orang dapat saja marah, memberontak dan spontan mengurai kata kepada Tuhan.

Setiap perumusan kata kepada Tuhan bertitik tolak dari determinasi pengalaman. Tidak semua pengalaman membangkitkan ingatan akan Tuhan dan mendekatkan manusia dengan Tuhan. Nietsche telah lama memomulerkan Allah telah mati. Allah dialami namun Allah yang dialami adalah Allah yang telah mati. Allah itu tiada tetapi Allah dialami bahwa Ia tidak ada. Oleh karena tidak semua pengalaman mendekatkan orang kepada Tuhannya, maka dalam doa sebagai perjumpaan dengan Tuhan sifatnya “situasional”, bahwa ada yang menyebabkan sesorang itu berdoa.

Mengapa ia berdoa dan apa yang membuat seseorang itu berdoa? Ini pertanyaan penting. Pertanyaan ini berbuntut serpihan-serpihan kisah manusia yang memanggil manusia kepada sebuah doa. Telaah ini menjadi jembatan menuju kritikan bagi setiap pemeluk Tuhan yang menamai diri sebagai pemeluk teguh.

Doa: Tuhan yang Gampang Dilupakan

…../Tuhanku/ dalam termangu/ Aku masih menyebut namamu…….

(Chairil Anwar, 13 November 1943)

Chairil Anwar mengungkap tabir doa. Salah satu ketertutupan yang mesti dibuka adalah nasib pengalaman-pengalaman yang belum membangkitkan setiap orang untuk berdoa. Idealisme Chairil Anwar teristimewa di baris pertama .../Tuhanku/dalam termangu/Aku masih menyebut namamu…adalah seluruh pengalaman umat manusia harus menjadi pengalaman yang membuatnya mengenal Tuhan. Ini idealisme yang ditiupkan oleh Cahiril Anwar kepada setiap pemeluk Tuhan yang menamai diri sebagai pemeluk teguh. Tidak perlu membutuhkan pengalaman kritis-eksistensial untuk sebuah inspirasi doa tetapi dalam termangu pun aku masih menyebut namamu.

Gema kritikan Chairil Anwar tersebut menjadi catatan untuk Tuhan hanya dibutuhkan dalam situasi batas dan dilupakan dalam situasi serba ada. Tidak melupakan doa dan doa yang tak jemu-jemunya menjadi kian penting dan oleh kerena itu kepentingan akan doa menunjukkan sejauh mana keberagaamaan seseorang. Ludwig Feurbach mengatakan hakikat tertinggi agama diungkapkan oleh tindakkan agama yang paling sedarhana, yakni berdoa. Novalis, penulis fragmen Encyclopedia meletakkan dasar ini bahwa berdoa menghasilkan agama (religion-machen).

Biar Susah Sungguh Mengingat Kau Penuh Seluruh

Chairil Anwar secara implisit menyerukan satu kenyataan yang melahirkan baris ini …./Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh/….. Kenyataan itu, dalam susah sungguh bisa saja orang akan mengingat Tuhan hanya sementara waktu dan di waktu lain Tuhan didefinisikan kembali.

Hans Jonas, seorang teolog Yahudi yang mengalami secara langsung kekejaman Nasi-Hitler mengatakan sesudah Auschwits, orang-orang Yahudi  mesti merevisi pandangan tentang Allah. Chairil Anwar membangkitkan harapan dan menunjukkan jalan seharusnya dalam susah sungguh orang mesti mengingat-Nya penuh seluruh. Salah satu ketertutupan dari pengungkapan kedekatan dengan Allah melalui doa adalah orang kehilangan harapan dan digerus keyakinanya di hadapan penderitaan yang dialami.

Dalam sebuah kuliah pernah diceritakan oleh seorang dosen. “Pasca tenggelamnya kapal “Karya Pinang“ di tanjung Watu Manu (Palue) yang menewaskan puluhan Legio Maria dan Santa Anna, seorang koster dari Kloang Rotat menutup pintu Gereja ketika seorang pastor dari Ledalero hendak merayakan Ekaristi Hari Minggu di Gereja itu. Ia mengungkapkan kegetiran imannya: untuk apa lagi misa pada hari Minggu.“

Di hadapan kenyataan penderitaan, orang mempertanyakan iman mereka. Mempertanyakan iman berarti mempertanyakan Allah yang diimani. Allah dipertanyakan dan diputuskan. Allah tidak berpihak, jahat, lemah, tidak mau manusia mengalami kegembiraan dan sedapat mungkin tidak mengalami kesedihan yang mahadasyat. Chairil Anwar berdiri membelakangi litani penderitaan dan keputusan umat manusia untuk memutuskan iman akan Allah karena penderitaan yang dialami. Ia memasang punggung ke kebuntuan hidup dan mengarahkan pandangannya ke Tuhan.

Di sini tirai pembatas itu sebetulnya manusia yang beriman itu sendiri. Untuk itu kalau sampai pada ….biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh…, orang masti mengatasi dirinya sendiri dan pergi kepada-Nya. Orang mesti sampai di depan pintu-Nya dan mengetuk. Pemeluk teguh adalah keteguhan berdiri di atas pengalaman penderitaan dan berani mengambil langkah.

Ada dua versi langkah yang diambil, yakni bertahan dalam imannya akan Allah dan bergerak keluar dari iman untuk tidak lagi beriman kepada Allah. Versi ini sama-sama menentukan kematangan keberimanan seseorang. Namun tirai yang membatasi pengambilan dua langkah tersebut adalah ketaksanggupan mengatasi diri sendiri. Chairil Anwar sanggup keluar dari kungkungan kebuntuan hidup dan pergi kepada-Nya sebagai titik akhir dari perjalanan iman….Tuhanku/ di pintuMu aku mengetuk/aku tidak bisa berpaling.

Doa: Mendahului Kedalaman Pengenalan Akan Tuhan, Aku Mengenal Baik Diriku

…..Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk/ Tuhanku/aku mengembara di negeri asing…..(Chairil Anwar, 13 November 1943). Doa itu adalah doaku bukan doanya. Ungkapan ini menunjuk satu hal penting dalam doa. Doa mengungkap siapa aku. Aku yang jujur dan rendah hati, penuh harap, teguh beriman, tentang aku orang membacaku lewat doaku. Cita-cita doa adalah doa untuk sesuatu yang lain terjadi untuk diriku. Sesuatu yang lain terlaksana ditentukan oleh doaku. Dalam doa orang menyadari dirinya di hadapan Dia yang melampaui si pendoa.

Lukas 18 : 9-14 (Perumpamaan Tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai) menjadi teks kunci untuk membuka pintu pengertian bahwa doa yang harus dimulai adalah doanya seorang pemungut cukai. Doa orang Farisi adalah mengunci pintu untuk masuk ke dalam diri. Cita-cita doa adalah mengenal lebih baik diriku di hadapan Dia yang mengenal lebih dalam diriku dari aku sendiri. Ini syarat dibenarkan di hadapan Allah. Contoh doa seorang Farisi adalah contoh yang mengungkapkan tirai penutup doa yang benar. Tirai penutup itu adalah ketertutupan pengkapan diri di hadapan Allah. Ketertutupan pengungkapan diri terjadi karena ketaksanggupan pengenalan diri. Diri yang dikenal bukan perbandingan tetapi penerimaan.

Chairil Anwar membuktikan ini dalam puisinya. Ia dengan jujur dan rendah hati mengungkapkan dirinya di hadapan Tuhan. …Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk/ Tuhanku/aku mengembara di negeri asing… Doa mesti sampai kepada-Nya dan untuk sampai kepada-Nya orang harus sampai ke dirinya dahulu. Dengan demikian, mendahului kedalaman pengenalan akan Tuhan, si pendoa mengenal baik dirinya.

Chairil Anwar meninggalkan satu satuan aktual peristiwa yang menggambarkan ia adalah seoarang pemeluk teguh itu sendiri. Ketika detik-detik terakhir menuju kematian tiba, ia berseru Tuhanku….Tuhanku… Ia meninggal pada tanggal 28 April 1949, pukul 14.30 sore di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo – Jakarta. Chairil Anwar telah menunjukkan Tuhan dan bagaimana si pendoa mesti melihat Tuhan itu. Kemestian bagi si pendoa adalah kesediaan membuka tabir dari praktek doanya sendiri. Selesai.(Editor: kbs)


Michael Migu Soge, Peminat Sastra, Tinggal di Unit St. Agustinus

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here