Mengungkap Enigma Tuhan Chairil Anwar (1)

0
2802

*) Michael M. Soge

(Analisis Atas Puisi Doa Kepada Pemeluk Teguh Karya C. Anwar )

Ziarah Aksara Chairil Anwar

Chairil Anwar dilahirkan di Medan pada tanggal 26 Juli 1922. Ia dikenal sebagai pelopor angkatan 45 bersama Asrul Sani, Rivai Apin dan Idrus. Chairil sangat individualis dan “anarkhis“ ketimbang Asrul Sani yang sangat aristokrat dan moralis.

Sajak-sajak angkatan 45 ditandai oleh disposisi karakter penyair yang penuh kegelisahan, pemberontakan, agresif dan penuh kejutan. Beberapa karya penting angkatan 45 misalnya  Deru Campur Debu, Kerikil Tajam (Chairil Anwar), Atheis (Achdiat Kartamihardja), Jalan Tak Ada Ujung (Mochtar Lubis), Keluarga Gerilya (Pramoedya Ananta Toer). Ia dididik oleh Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar rakyat pribumi pada masa penjajahan Belanda.

Namun pada uisa 18 tahun ia memutuskan untuk menghentikan jejak ziaranya dalam lingkungan sekolah itu. Pada usia 19 tahun, ia bersama Ibunya yang telah diceraikan oleh ayahnya hijrah ke Jakarta. Pada usia itu, di tempat yang baru ia mulai berkenalan dengan sastra dan mengungkap cita-citanya menjadi seoarang seniman.

Pada usia 20 tahun, ia dikenal dalam dunia sastra setelah tulisan-tulisannya dimuat di Majalah Nisan pada tahun 1942. Tulisan-tulisannya juga pernah ditolak oleh Majalah Pandji Pustaka karena dinilai terlalu individualistis sifatnya dan oleh karena itu bertentangan dengan spirit dasar Majalah Pandji Pustaka.

Chairil Anwar meninggalkan satu satuan aktual peristiwa yang menggambarkan ia adalah seoarang pemeluk teguh itu sendiri. Ketika detik-detik terakhir menuju kematian tiba, ia berseru Tuhanku….Tuhanku…. Chairil Anwar meninggal pada tanggal 28 April 1949, pukul 14.30 sore di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo – Jakarta dalam usia belum mencapai 27 tahun, dan tahun ini kita mengenang enampuluh enam tahun kematiannya. Karya-karyanya kebanyakan tidak dipublikasikan hingga hari kematian tiba. Puisi terakhir dari barisan puisi yang telah ditulisnya adalah  Cemara Menderai Sampai Jauh, tahun 1949).

 Tuhan Kian Jelas dalam Derita

Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh/ mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci/tinggal kerdip lilin di kelam sunyi/

Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk
Tuhanku/aku mengembara di negeri asing
Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/aku tidak bisa berpaling

(Doa Kepada Pemeluk Teguh, Chairil Anwar, 13 November 1943)

Harus diakui puisi Doa Kepada Pemeluk Teguh bukan elitisasi konteks religius tertentu tetapi mengungkapkan universalitas pengungkapan iman. Puisinya ini dapat dibedakan dari puisi Isa: Kepada Nasrani Sejati yang ditulis olehnya pada 12 November 1943  yang jelas sekali mengungkap konteks religius Kristen. Chairil Anwar tengah mengalami kebuntuan hidup dan dililit susah sungguh. Dalam situasi demikian ia menyapa Tuhan dan menyimpan apik dalam ingatannya…Biar susah sungguh/ mengingat Kau penuh seluruh/… Tuhan  dialami dan dibayangkan dalam ingatan. Tuhan yang diingat bukan Tuhan yang terpenggal tetapi Tuhan yang esa.

Satu catatan penting dapat ditulis dalam jurnal refleksi puisi Doa-Kepada Pemeluk Teguh (1943) bahwa Tuhan yang dikenal Chairil Anwar adalah Tuhan yang lebih dahulu bertindak. Tindakan Tuhan adalah konkretisasi kehendak-Nya sendiri bahwa ia mau diingat, dan dialami.

Ada pembuktian yang memperkuat tesis ini. Salah satu prinsip dasar dalam Yudaisme telah menetapkan bahwa Allah selalu bertindak sebagai aktor primum yang memprakarsai inisiatif umat manusia untuk berdoa. “……kita mesti tidak boleh mengabaikan salah satu prinsip yang sangat mendasar dalam Yudaisme. Ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada keinginan saya untuk berdoa, yaitu keinginan Allah agar saya berdoa. Ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada kehendak saya untuk percaya, yaitu kehendak Allah agar saya percaya.” (Bernard S. Hayong (Ed): 2014, hlm.105-106.)

Tuhan yang sangguh diingat penuh seluruh dalam puisi Chairil Anwar adalah Tuhan yang terlebih dahulu menghendaki seseorang untuk mengingat-Nya. Apakah Tuhan baru dikenal ketika manusia dililit persoalan dan didera kesulitan hidup? Tuhan yang demikian adalah Tuhan yang menderita. Salah satu rumusan intensif yang menggambarkan Tuhan sungguh dirasakan perlu intervensinya adalah ”Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Mzm.22:2). Seruan yang sama lahir dari mulut Almasih ketika mengalami penderitaan mahadasyat di puncak Kalvari nan kabung dan berseru menuju langit tempat Bapa-Nya bersemayam dalam suara tertatih-tatih, “Eli, Eli, lama sabakhtani.”

Tuhan adalah Tuhan yang menderita, namun penderitaan Tuhan untuk sebuah kemenangan. Dengan demikian Tuhan menjadi relevan diserukan nama-Nya ketika manusia tengah mengalami penderitaan sebab Ia telah mengatasi penderitaan-Nya sendiri dan oleh karena itu sanggup menolong manusia. Dalam kaca mata teologi Kristen, penderitaan Kristus adalah pengungkapan cinta. “Salib Karistus adalah revelasi diri Allah sebagai cinta.” (Paul Budi Kladen: 2006, hlm. 325.) Untuk itu manusia akan mengalami penderitaannya sebagai pengalaman ditinggalkan Allah sebab ia tetap dalam penghayatan identitasnya sebagai orang yang berhak menerima cinta dari Allah.

Penderitaan Allah menjadi latar bagi penderitaan-Nya karena Allah. Penderitaan manusia selain sebagai gambaran situasi batas di mana manusia mengenal baik kesementarannya dan oleh karena itu membutuhkan daya yang lebih besar, tetapi penderitaan sebagai titik refleksi akan sejauh mana keberpihakannya pada Tuhan dalam babak ziarah sebelumnya.

Secara subjektif, penulis bisa saja mengatakan bahwa di tengah keberhasilan dan kemenangan manusia melupakan Tuhan namun Tuhan baru menjadi sangat dibutuhkan kalau manusia tidak dapat lagi berharap dari kebarhasilannya. Tuhan kian dikenal dalam penderitaan manusia tidak berarti Tuhan kehadiran-Nya bisa dipolitisir untuk cabang kepentingan tertentu dan sungguh situasional tetapi Tuhan dinyatakan kembali bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang pernah menderita dan sanggup membuat manusia memiliki dasar untuk berharap dan percaya.

Tuhan yang Kubayangkan dan Tuhan yang Kualami?

Kehadiran Masmur Mawar karya W.S. Rendra dapat menjadi komparasi untuk Tuhannya Chairil Anwar dalam puisi  Doa Kepada Pemeluk Teguh.

….Dan sekarang saya lihat/ Tuhan sebagai orang tua renta/ tidur melengkung di trotoar/batuk-batuk karena malam yang dingin/dan tangannya menekan perut yang lapar/Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma/menangis di tepi jalan/….

(W.S.Rendra, Masmur Mawar)

…Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh/cayaMu panas suci/tinggal kerdip lilin di kelam sunyi……

(Chairil Anwar, 13 November 1943)

Chairil Anwar sangat individualistis-religius dan W.S. Rendra sangat sosial-religius. Ada dua wajah pengalaman akan Tuhan yakni Tuhan itu dibayangkan dan dialami. Ada satu hal sebagai kesamaan keduanya yakni keduanya mengungkapkan Tuhan dengan analogia. Tuhan melampaui bahasa dan setiap kali pembicaraan tentang Tuhan selalu menghantar manusia untuk menyadari keterbatsan bahasanya.

Penggunaan bahasa sombolis dalam mengungkapkan Tuhan adalah keharusan dari sebuah pengungkapan dengan media bahasa. H.B. Jassin menulis, “larangan untuk ‘mempersonifikasi’ Tuhan, sekalipun hanya dalam imajinasi, sama dengan larangan untuk memikirkan Tuhan, sama dengan meniadakan Tuhan dalam sanubari kita”. W.S. Rendra memakai pendekatan riil – kontekstual untuk menggambarkan Tuhan dan Chairil Anwar menyebut Tuhan dengan …/Cayamu panas suci/…. Dari dua cara pengungkapan yang berbeda ini, ada dua hal yang membutuhkan pengerasan yakni Tuhan yang dibayangkan dan Tuhan yang dialami. Tuhan dalam Masmur Mawar adalah wajah Tuhan dalam diri orang-orang kecil, tidak berdaya, tidak memiliki sesuatu untuk hidup lebih lama.

Cukup tendensius kalau mengatakan Chairil Anwar berada di ranah mengingat oleh karena bayangan tentang Tuhan hadir dalam ingatannya dan kerena itu keberimanannya diragukan. Karguan itu tidak hanya untuk pribadi penyair tetapi meragukan status akal budi. KV I mengajarkan pada tahun 1870 bahwa “terang alamiah akal budi manusia bisa dengan pasti menyimpulkan Allah…bertolak dari dunia kelihatan”( Georg Kirchberger: 2012, hlm. 16.)

Rasul Paulus yang pro akalbudi menegaskan bahwa yang tidak tampak dari dari Allah yakni kekuatan-Nya, keilahian-Nya menjadi tampak dalam pikiran (Roma1: 18-21). Cahiril Anwar cukup terpenggal kalau ia dipilah dalam analisis setiap baris puisinya. Dalam kesatuan puisinya, Cahiril Anwar mengalami Tuhan dari pengertian, akal budinya …./mengingat kau penuh seluruh/…kemudian menunjukkan Tuhan itu secaar konkrit …/bahwa cayamu panas suci/… Tuhan yang dialami oleh Chairil Anwar adalah Tuhan yang sanggup menghantar setiap pemeluknya untuk menyadari kesementraannya dan merumuskan ketergantungannya.

Tuhan yang dialami oleh Charil Anwar adalah Tuhan yang sanggup menyanggupkan manusia untuk mengalami keputusasaan dan kebuntuuan hidupnya. Ia kehilangan apa yang menjadi harapannya. Chairil Anwar, hidupnya tiba pada kesendirian sebab ayahnya usai meninggalkan Ibunya, Ibunya meninggalkan Ia seumur hidup. Hidupnya ia gambarkan dalam larik ini…/Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk/Tuhanku/aku mengembara di negeri asing/… Pada baris terakhir puisi Doa Kepada Pemeluk Teguh, Chairil Anwar sampai pada batas maha tipis antara kesementraannya dirinya dan kekekalan Tuhan….Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/aku tidak bisa berpaling/ (ke bagian 2)/(editor: kbs)


*Peminat Sastra, Tinggal di Wisma St. Agustinus-Ledalero. No Hp: 081 238 020 315, Fb: Michael Soge.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here